Oleh Ahmad Tsauri

Melihat beberapa video, provokasi awal penganiayaan Ade Armando (selanjutnya saya singkat AA), terlihat dua orang ibu, memaki-maki AA “buzer”, “munafik” dan cacian lain yang beberapa detik kemudian makin riuh ditimpali para pendemo lain dan dilanjutkan baku hantam sampai celananya copot, badan AA babak belut.

Dipostingan beredar meme wajah AA, yang lebih gemuk dari wajah aslinya berlumuran darah, dibubuhi tulisan: “makanya jaga lisan”. Meme itu menyiratkan, apa yang dialami AA sebagai konsekuensi pernyataan AA yang dianggap “menodai” Islam. Padahal opini AA seperti ia kemukakan di banyak video “dialogis”. Artinya siap menerima tanggapan-tanggapan terbuka sepanjang dengan cara bermartabat.

Saya bukan penikmat tulisan atau video AA di media sosialnya. Hanya, setelah kejadian, tadi saya lihat sepintas beberapa video. Apa yang AA sampaikan sebenarnya sebagai respon dari narasi yang dibangun oleh muslim pendukung Prabowo, sebelum ormas X dibubarkan, terutama arus utama mereka diwakili HRS dan kelompoknya. Sebagai sintesa, tentu opini AA berhadapan langsung dengan kubu mereka.

Kritik-kritik AA soal pola keberagamaan kelompok itu, membuat telinga mereka panas dan menganggap AA sudah melakukan penodaan agama. Menurut mereka AA kebal hukum. Padahal memang, setidaknya beberapa video yang saya lihat, termasuk soal salat 5 waktu tidak ada dalam Al-Qur’an, tidak termasuk ke dalam penodaan agama.

Betul memang satu demi satu salat 5 waktu tidak disebutkan dalam Al-Qur’an, tetapi dijelaskan secara lengkap dalam hadits-hadits mutawatir. Dan kita mafhum, kelompok munkirus sunah; sekte Islam yang tidak mempercayai kredibilitas dan keabsahan hadis, hanya menerima 3 sholat yang disebut dalam Al-Qur’an; dzhuhur (tharafain nahar,) shalat wustha (ashar), subuh (salat fajar). Inkar terhadap salah satu dari 5 salat itu dihukumi kufr, akan tetapi membuka wacana untuk dialog, tentu ditanggapi dengan dialog bukan dengan pelaporan atau pemukulan.

Hal lain yang juga membuat jengkel kelompok itu, disebuah video berisi kritik AA terhadap cara beragama sebagian umat Islam karena Umat Islam itu tertinggal, terpuruk, banyak konflik, rusuh, penuh dengan kemiskinan, ketidak adilan dll.

Apa yang dikemukakan Ade bukan opini Ade Armando belaka, itu kegelisahan umat Islam setidaknya 5 abad terakhir, dan puncaknya akhir abad 18 menjelang abad 19, tokoh-tokoh seperti Jamaludin Al Afghani, kemudian muridnya; Syeikh Muhammad Abdu, Rasyid Ridha, lalu Syakib Arslan mencoba menjawab pertanyaan: لما تأخر المسلمون وتقدم الغرب

Kenapa umat Islam terbelakang sementara Barat (Kristen) maju pesat?

Syakib Arslan setelah mendengar ceramah-ceramah gurunya, Rasyid Ridha yang membahas tema itu disebuah masjid kemudian ia menulis dengan judul yang sama ” limadza taakhara al-muslimun wa taqadama Al garb?”

Syahid Allamah Ramadhan al-Bhuthi juga membahas tema yang sama di seminar besar dengan tema yang lebih sopan; لماذا تفوق الغرب وتاخر العرب؟

“Kenapa Barat maju pesat sedangkan Arab terbelakang?”

Dalam seminar itu Al Buthi mengutip al Isra ayat 20:

كُلًّا نُّمِدُّ هَٰٓؤُلَآءِ وَهَٰٓؤُلَآءِ مِنْ عَطَآءِ رَبِّكَ ۚ وَمَا كَانَ عَطَآءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا (الإسراء – 20)
( كلا نمد هؤلاء وهؤلاء ( أي : نمد كلا الفريقين من يريد الدنيا ومن يريد الآخرة ( من عطاء ربك ( أي : يرزقهما جميعا ثم يختلف بهما الحال في المآل

Menurutnya, secara jelas ayat ini menunjukkan sunah Allah, “mekanisme kerja” Allah di bumi, Allah memberi yang sama kepada umat manusia terlepas keimanannya, karena yang menentukan hasil di dunia ini adalah kerja keras, kata Al Buthi. Bukan warna kulit, bukan bangsa mana, juga bukan apa agamanya. Tapi mana paling sungguh-sungguh dalam bekerja mengelola bumi. Kata Al Buthi, Barat serius dalam mengurusi segala lini kehidupan mereka misalnya dengan menciptakan alat yang memudahkan kehidupan mereka.

Menurut Al Buthi, Barat telah memanen buah kerja keras yang sudah menjadi budaya dan diturunkan terus menerus antar generasi. Dan itu telah lama tidak lagi dimiliki umat Islam.

Tentu hasil diagnosa para ulama berbeda, seperti Abduh menyimpulkan umat Islam tertinggal karena dijangkiti klenik melalui tasawuf dan tarekat, menurut KH Ahmad Dahlan harus kembali kepada ما صلح به اوئلها yang membuat baik generasi pertama Islam.

Menurut Kiyai Ahmad Dahlan, yang membuat baik generasi awal itu adalah “kemurnian Islam”, menurut KH. Hasyim Asy’ari yang membuat baik generasi awal Islam itu tercover dalam salah satu dari 4 madzhab fikih, salah satu dari madzhab tasawuf Al-Junaid atau Al Ghazali, menurut Habib Rizieq yang membuat generasi pertama top itu amar makruf. Satu problem dengan hasil diagnosa berbeda-beda.

Dan sampai saat ini, setelah 2 abad berlalu umat Islam memang paling terbelakang, baik di Timur Tengah atau belahan dunia lainnya.

Lalu apa problem utama keterbelakangan umat? Jika disimpulkan, Barat/ Kristen punya al juhd, daya juang konsisten, setidaknya menurut Al Bhuthi bangsa Arab tidak, kedua umat Islam kehilangan curiosity, kata kunci utama yang membuat umat Islam awal maju. Dan itu dimiliki Barat Kristen hingga sekarang.
Jadi apa masalahnya dengan ucapan Ade Armando? Itu semua wacana lama yang diakui semua ulama dan sudah coba dijawab oleh mereka. Kalau ngomong “babi ke manusia”, mencaci, menghina baru anggap tidak bermoral, kalau wacana dan opini berbasis ilmu ya tanggapi saja tidak usah baper.

Justru yang menodai Islam itu kehendak sistematis dari para sarjana Islam yang ingin merevisi banyak ayat dalam Al-Qur’an dengan dalih ilmiah, yang dilakukan secara diam-diam. Tapi untuk sampai dan bisa mendeteksi persoalan memang perlu ngaji serius.

Menganiaya orang karena salah memahami pokok masalah, itu kezaliman ganda. Kezaliman karena beragama dengan bodoh (tanpa ilmu yang benar) dan kezaliman menganiaya orang atas nama membela agama. Ini bukan umat yang mundur lagi, tapi ancur.

Bagikan tulisan ke:
6 thoughts on “Ade Armando & Wacana Ketertinggalan Umat Islam”

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id