Oleh Masyhari, Lc., M.H.I, Dosen Ilmu Fiqih IAI Cirebon

Penjagaan terhadap ajaran agama (hifzhudiin) merupakan bagian dari tujuan Syariat Islam (maqasid syariah). Namun, jangan sampai mengabaikan dimensi pelestarian dan penjagaan terhadap diri atau nyawa (hifzhunnafs) dan akal (hifzul’aql). Ketiganya tidak perlu dibenturkan, karena sama-sama bagian dari dimensi yang penting dalam syariat. Bahkan, tidak mungkin seseorang akan bisa beragama atau menjalankan kewajiban syariat, jika tidak bernyawa (mati) dan tidak berakal sehat. Tidak pula, dimensi agama selalu diprioritaskan lebih daripada dimensi maqasid lainnya, seperti nyawa, harta (al-maal), akal (al-‘aql), dan keturunan atau dalam versi lain kehormatan (an-nasl wal ‘irdh).

Yang lebih tepat, prioritas itu dilihat dari sisi maratib (tingkatan) maqasid-nya. Dalam hal ini, kita tahu bahwa tingkatan prioritas dalam maqasid syari’ah itu terbagi tiga. Urutan yang pertama yaitu dharuriyyat (darurat atau primer), yang kedua yaitu hajjiyat (kebutuhan sekunder), dan yang terakhir yaitu tahsiniyyat (keutamaan atau tersier). Sebuah aktifitas atau apa pun itu, meskipun masuk dalam dimensi agama, tapi kalau itu sebatas hajjiyat (kebutuhan sekunder) terlebih lagi kalau hanya sebatas tahsiniyyat tentunya tidak lebih didahulukan daripada dimensi harta dan nyawa jika keduanya termasuk dalam tingkatan dharuriyat (darurat).

Misal sederhana, seorang sibuk beribadah (jaga agama), jangan sampai tidak mau bekerja yang merupakan bagian dari dimensi penjagaan terhadap harta (hifzhulmaal) yang bersifat preventif. Sehingga, pada akhirnya karena tidak punya harta, ia kelaparan dan bahkan bisa terancam nyawanya (alnafs). Sementara Allah dalam QS Al-Qasas ayat 77 berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Artinya, kita diminta untuk mencari rizki akhirat. Tapi jangan sampai lupakan rizki dunia. ya, keseimbangan adalah kuncinya.

Jadi, yang pas adalah menjaga keseimbangan. Adapun yang jadi prioritas adalah yang darurat. Banyak sekali contohnya. Salat berjamaah di masjid kan masuk dalam dimensi agama, tapi tingkatannya tidak sampai pada level darurat. Paling banter levelnya hajjiyat. artinya, bisa ditinggalkan tanpa harus gugur agamanya. Kalau misalnya salat berjamaah pada masa pandemi, khususnya di zona merah, dan dapat berpotensi besar bagi penularan virus covid-19, maka bisa ditinggalkan dalam rangka hifzhunnafs (jaga nyawa).

Contoh lainnya, menutup aurat merupakan bagian dari dimensi agama yang harus dijaga. Sedangkan berkerudung lebar adalah sebatas tahsiniyyat, dan kalau bagian tertentu bisa jadi sebatas hajjiyat. Nah, kalau ada penumpang atau pengendara motor pakai kerudung besar, sampai menutup sein belakang atau bahkan berpotensi nyerimpet atau mbulet (apa ini bahasa indonesianya? haha), dan ini bisa membahayakan dirinya dan orang lain, bahkan bisa mengancam nyawa (hifzhunnafs). Maka, wajarlah dalam berpakaian. Sesuaikan dengan kondisi.

Begitu juga, penumpang belakang motor, sebaiknya pakai celana panjang, bukan rok pendek yang buka aurat, atau pula rok panjang yang berpotensi membahayakan. Kalau mau jaga kedua dimensi (dimensi agama dan nyawa), maka pakailah rangkap; rok panjang dan celana panjang. Bila naik mbonceng di belakang, tinggal angkat rok panjang, aurat masih tertutup celana panjang. Dan, catatannya, duduklah ngangkang, jangan ke samping kiri, apa lagi kanan. Ini cukup berbahaya.

Oh ya, terkait dengan duduk juga, dulu (01/01/2013) sempat ada seruan yang dikeluarkan oleh Walikota Lhokseumawe Aceh salah satunya berisi larangan ngangkang. Menurut hemat saya, perda ini kurang mempertimbangkan dimensi penjagaan terhadap nyawa. Apa yang salah dari ngangkang? Dimensi syariat apa yang dilanggar, sehingga dilarang? Berdasarkan info yang tersiar di berbagai media, alasannya yaitu adat setempat. Katanya, ngangkang bukan bagian dari adat istiadat Aceh. Saya kok jadi teringat dengan masa lalu tahun ’90-an, celana dianggap bukan bagian dari adat perempuan. Sehingga, perempuan yang pakai celana dianggap tidak sesuai dengan adat istiadat. Kini, perempuan bercelana sudah lumrah dan biasa saja.

Begitu halnya soal jas hujan. Saat hujan tiba, pengendara roda dua biasanya kan pakai jas hujan. Ini tujuannya sebagai penjagaan terhadap kesehatan, yang termasuk dalam dimensi jaga diri/nyawa. Tapi, jangan lupa, gunakanlah jas yang pas, sesuai badan. Penggunaan jas hujan yang lebar dan berkibar dapat membahayakan pengendara atau pengguna jalan lainnya. Wallahu a’lam.

Jalan Fatahillah, Weru, 28 Juli 2021

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *