Cerpen: Akad Nikah (2)

Oleh Eni Ratnawati

“Maafin aku sayang. Aku belum bisa kalau sekarang ini.” jawab Pram lemah, sambil menggenggam jemari Alfi.

“Tapi ayah nanyain terus loh. Ini kesempatan kamu nunjukin keseriusan kamu.”

Alfi tahu Pram tidak terlalu senang jika ia mulai menyinggung undangan ayah. Dan Pram selalu punya alasan untuk mengesampingkan undangan itu. Tapi anehnya Alfi masih juga percaya dengan pemuda yang resmi menjadi pacarnya sejak tiga tahun terakhir itu.

“Stok alasanku juga sudah habis. Ini sudah enam bulan sejak kamu bilang akan menemui ayah tapi selalu batal. Kamu sendiri loh yang bilang kalau …”

“Jadi rumit begini sih?”

Alfi memandang Pram tak mengerti.

“Apanya yang rumit? Kamu tinggal datang ke rumah, temuin ayah, ngobrol soal pekerjaan, burung-burung piaraanmu, canel yutubmu, tentang politik atau apalah,” mata Alfi membulat, tak berhasil memahami maksud kata rumit yang baru saja diucapkan Pram.

“Ayah cuma ingin tahu keseriusan kamu. Itu saja kok.” Alfi membanting pandangannya ke samping kanan, dan secara tak sengaja bersitatap dengan lelaki yang duduk di meja seberang. “Sampai kapan kamu mau kucing-kucingan seperti ini?” desahnya.

“Sampai aku dan kamu siap.”

“Dan kapan kamu akan siap, Pram?”

 “Kok aku jadi merasa dipojokkan gini ya?! Dipaksa memenuhi sesuatu yang aku sendiri belum mampu.” Pram membanting mukanya ke samping kiri, ke sebuah kolam butek tak berpenghuni.

“Aku juga nggak bisa terus begini. Alif itu mau lamaran. Dia itu ngebet banget pengen nikah. Masalahnya adalah ayah itu nggak akan kasih lampu ijo sebelum aku nikah dulu. Kamu ngerti kan? Oke! Jadi menurutmu aku harus nunggu sampai kapan lagi?”

Pram tak punya jawaban.

“Atau jangan-jangan yang aku tunggu selama ini nggak pernah ada, Pram?”

“Maksudmu?”

“Kamu nggak serius sama aku.” Alfi menuntut.

“Hampir tiga tahun kita jalan bareng, Fi. Kurang serius apa coba? Aku ingin nikah sama kamu, tapi itu nanti, setelah aku sukses berkarir. Itu prioritasku sekarang ini.”

“Apa itu berarti hubungan kita bukan prioritas?”

“Tuh, kan! Kamu salah paham lagi! Maksudku bukan seperti itu. Duh, kamu ini! Alfiii, jangan seperti anak kecil begitu doong.”

Alfi membesut hidungnya yang mulai gatal.

“Kita sudah kehabisan waktu, Pram. Sudah cukup aku memperjuangkan hubungan kita. Besok sore aku tunggu kamu di rumah. Kalau kamu tidak datang, itu berarti ini pertemuan terakhir kita.”

“Ha? Kayak besok kiamat saja!” Pram melengos. “Apa maksudmu kita putus?”

Alfi tak menjawab. Ia sendiri tidak yakin dengan kata-kata yang baru diucapkannya. Sebenarnya, itu hanya semacam gertakan.

“Kalau kita putus lalu apa? Pikirmu lusa akan datang laki-laki yang siap nikahin kamu dan nerima kamu apa adanya?” Baik Pram maupun Alfi tenggelam dalam letupan kekesalan seperti tak ingin saling menyerah. “Silakan saja. Tapi aku tidak yakin.” Pram mengemasi laptop dan handphone-nya. Berdiri pemuda itu hendak meninggalkan kekasihnya. “Aku yang tiga tahun saja masih ragu denganmu, bagaimana dengan yang lain? Tapi tentu saja ada. Pasti ada. Banyak laki-laki yang siap asal jangan tanyakan asal usul dan masa depannya.”

Alfi melotot.

“Ya kalau kamu serius buktikan dooong!”

“Oh! Dan sekarang kamu mau bilang kalau aku tak cukup serius dengan hubungan ini? Terserah kamu saja. Semoga kamu temukan laki-laki yang tepat untuk memenuhi undangan ayahmu.”

Begitu saja. Pram pergi meninggalkan Alfi yang masih diam terpaku di kursinya. Ia tidak menyangka pertemuannya dengan Pram berakhir dengan sangat buruk. Tetapi tidak. Pram tidak akan sesadis itu. Ia yakin Pram akan berbalik dan menggenggam jemarinya dengan lembut. Seperti yang sudah-sudah. Mata Alfi tidak berhenti menatap punggung Pram. Dan saat punggung itu benar-benar berbalik, ada binar memancar dari dua mata Alfi. Seberkas senyum menyeruak di sudut bibirnya.

Tuh kan, Pram tidak mungkin benar-benar meninggalkanku, girang hatinya bukan kepalang.

Tapi, lain lubuk lain ilalang. Lain harapan lain pula kenyataan.

“Aku lupa bilang, kalau kamu tidak perlu menunggu sampai besok. Sekarang saja, di sini.” tuntas Pram sepenuh hati. “Kita putus!”

Senyum di sudut bibir Alfi pupus.

Dengan kasar Pram menarik haedset dari atas meja. Rupanya, untuk benda itu Pram kembali, dan bukan untuk Alfi. Seperti ada yang pecah di dalam diri Alfi. Sesuatu yang belakangan disebut orang-orang sebagai ambyar. Modyar. Pemuda itu tidak akan pernah tahu sedalam apa luka yang telah ia gores di palung hati Alfi. Ia bahkan tidak menyadari butir-butir yang mengalir dari kejora perempuan yang dulu pernah ia sebut sebagai kekasih. Saat punggung Pram semakin jauh, Alfi mendongak mencari kekuatan dari langit. Ia meracau, memanggil Tuhan dengan gundukan rasa sakit. Alfi tetap merapal doa meski langit tertutup pelat seakan menampik rintihannya. 

***

Alfi duduk di depan meja rias dengan dada bergetar. Ini bukan pengalaman pertamanya bertemu dan akan berkenalan dengan pemuda yang mungkin akan menjadi suaminya. Siapa tidak mengenal istilah ta’aruf. Bahkan saking ngetrendnya, Mina tak mau kalah ingin juga ketemu jodohnya lewat ta’aruf.

Tetapi rupanya menjemput jodoh melalui ta’aruf tak semudah persangkaannya. Tiga bulan yang lalu Alfi berta’aruf dengan seorang pemuda, anak seorang jaksa kenalan ayahnya. Tanpa kabar tanpa berita, sebulan kemudian pemuda itu datang mengantarkan undangan pernikahannya. Humm, berat memang menjadi yang tak terpilih.

Tapi Alfi tak berkecil hati.

Dua bulan kemudian ia ta’aruf dengan dua pemuda sekaligus.

Tiada disangka, dua-duannya mundur teratur dengan alasan yang sangat uwow. Pemuda pertama memberikan kriteria calon istri idamannya begini dan begini. Sayang sekali, Alfi tak memenuhi kriteria itu. Ta’aruf seumur cambah itu pun wassalam. Berbeda dengan pemuda kedua, yang lebih senang menanyakan berapa piala dan penghargaan yang dimiliki Alfi, berapa rangkingnya dulu saat sekolah, berapa IPK-nya saat kuliah, dan saat Alfi mengatakan tak satu pun memiliki penghargaan yang berarti, pemuda itu hopeless. Rupanya si pemuda hendak membangun sebuah keluarga yang intelek. Dan menurutnya, untuk dapat mewujudkan cita-citanya yang mulia itu, haruslah dimulai dari seorang perempuan yang otaknya sebanding dengan intan-berlian.

Selama ini Alfi merasa tak memiliki alasan untuk tidak percaya diri dalam pergaulan. Ia gadis yang cantik, periang, pintar, dan mempunyai perawakan yang bisa dibilang diidam-idamkan. Namun dalam ta’aruf semua itu tidak banyak membantunya. Alfi sering merasa kurang baik dalam segala hal. Terutama soal agama dan kecakapan dalam pekerjaan rumah. Tapi dengan pemuda yang sekarang sedang berta’aruf dengannya, ia menemukan kemantapan hati. Kata Ustad Maulani, begitulah cara Tuhan menyatukan dua hati.

“Kamu kan punya pekerjaan bagus. Posisi oke. Peluang karir yang menjanjikan. Apa nggak eman kalau nikah dulu sebelum sukses?” tanya Alfi waktu itu menuruti hatinya yang penasaran.

“Justru itu!” jawab Afif melalui chat WA. “Pengennya sih saat datang momen itu, aku tidak lagi sendiri. Pengen berbagi kebahagiaan dengan dia yang spesial. Inilah jalan ninjaku, eh suksesku.” Emoticon ketawa miring.

Jangan tanya bagaimana perasaan Alfi saat itu. Bukan lagi meleleh, tapi meletup-letup persis kembang api di malam tahun baru.

 “Sudah atuh Teh bengongnya. Nak Afif sudah datang.”

Suara Ibu membuyarkan lamunan Alfi. Lalu mendadak ia diserang demam. Demam aneh yang membuatnya dag dig dug tak karuan.

“Teteh masih ingatkan apa yang Teteh bilang kemarin?”

“Iya, Bu. Alfi nggak akan mengeluh soal kekurangannya. Teteh sudah mantap dan yakin Mas Afif insya Allah yang terbaik untuk Alfi.”

Mata ibu berkaca-kaca. Dalam hitungan bulan tak dikira anak gadisnya menjadi begitu bijak dan dewasa. Ibu-anak itu berpelukan dalam haru yang meruah.

“Tidak ada kesempurnaan di dunia ini. Tetapi kebahagiaan itu pasti, Teh. Jika Teteh pandai mensyukuri apa yang Teteh miliki.”

Alfi tak dapat menahan air matanya. Calon pengantin itu menangis, mencium takzim tangan ibunya.

Tamat.

Bagikan tulisan ke:

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

You may also like...

4 Responses

  1. rae ayunda rahmawati says:

    alur cerita seruuu ditunggu part 3 nya ❤️

  2. Tasori MT says:

    Ditunggu cerita berikutnya. Hehe

  3. Eni Ratna says:

    @Rae Ayunda, hmm jadi pengen bikin lanjutannya niih
    @Tasori, tunggu terbitnya hehehe
    @Indah Trihayani, makasyeee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RumahBaca.id