Oleh Rijal Mumazziq Z, Direktur penerbit IMTIYAZ, Rektor INAIFAS Jember

RumahBaca.id – Ketika James Watt menemukan mesin uap, saat itu revolusi industri terjadi. Tenaga manusia dan hewan yang pada awalnya diforsir sedemikian rupa mulai digantikan mesin. Yang pada mulanya membutuhkan tenaga otot, berganti rangkaian komponen. Yang pada awalnya dikerjakan secara manual, lambat, dan mahal, pada akhirnya lebih efisien, praktis dan murah. Industri rumahan berganti pabrik. Kereta kuda diganti jalur kereta api. Tenaga angin pada kapal laut diganti mesin pula. Sarana transportasi semakin maju.

Dampaknya? Kolonialisasi merajalela. Negara-negara Eropa semakin rakus menjelajah dan menjajah negara-negara yang kaya sumberdaya alam. Ini tahap yang disebut revolusi industri 1.0. Era ini terjadi pada awal awal abad XIX.

Lantas, era berganti revolusi industri 2.0., yang ditandai dengan penemuan listrik. Energi ini mengubah wajah industrialisasi dengan lebih dahsyat lagi. Era ini juga ditandai dengan mekanisme industri yang manufaktural. Sistem transportasi dan telekomunikasi semakin berkembang. Dampak negatif, teknologi militer juga berkecambah. Produksi senjata dan mesin perang semakin mudah dan massif. Dan pada akhirnya, terjadilah Perang Dunia I dan II.

Selepas itu hadir era revolusi Industri 3.0. yaitu, ketika komputerisasi menjadi sebuah tren. Dunia digital tumbuh. Transportasi dan telekomunikasi semakin maju. Koneksi manusia antar benua sudah nirbatas. Perang di Vietnam beritanya bisa disaksikan di seluruh dunia. Kelaparan di Afrika bisa memantik simpati dari benua sebelah. Lagu-lagu Bob Marley, Ummi Kultsum, Lata Mangeshkar, hingga Elvis Preistley bisa dinikmati di pelosok desa Indonesia, walaupun tidak menjamin penikmatnya mengerti arti lirik lagunya. Tak masalah, karena di era ini perbedaan tapal batas geografis dan kultural sudah luntur. Semua menjadi warga dunia internasional.

Di zaman ini pula mulai dikenal big data. Database tidak lagi terarsip manual, melainkan terkomputerisasi dengan canggih. Era robotika dengan mengandalkan kecerdasan buatan (artificial intelligence) semakin menggejala. Beberapa pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia berganti mesin dan robot.

Ada sedikit guncangan karena beberapa pabrik mem-PHK karyawannya lantaran digantikan mesin. Namun, di sisi lain, jenis pekerjaan baru yang membutuhkan kemampuan mutakhir dan canggih juga terbuka. Di level pendidikan, beberapa fakultas baru juga dihadirkan untuk mengawal periode perkembangan zaman ini.

Hingga pada akhirnya, hadir zaman revolusi industri 4.0. Sebuah era yang lebih dahsyat dibandingkan sebelumnya. Era ini ditandai dengan penggunaan perangkat elektronik digital, pemanfaatan big data, serta artificial intelligence yang merajalela.

Ketika artificial intelligence alias kecerdasan buatan memiliki “jalan pikiran”-nya sendiri. Jika kita pernah menonton film legendaris Terminator, I, Robot dan Eagle Eye, inilah yang terjadi hari ini. Tatkala mesin dan robot yang sudah terprogram secara sistemik memiliki wilayah “independensi”-nya. Manusia dipaksa untuk hidup berdampingan dengan robot dan memahami “jalur pikirannya”.

Kemajuan teknologi dalam genggaman berupa handphone juga nyaris menyisihkan semua perangkat teknologi sebelumnya. Dulu telepon kabel, kini sudah nirkabel. Dulu layanan pos, kini surel. Dulu wesel, kini tinggal klik layanan e-banking. Dulu foto harus ke studio, atau minimal punya kamera saku, kini diwakili oleh kamera telepon genggam dengan kualitas pixel yang tidak kalah.

Di era 3.0., edit fotografi menggunakan komputer jumbo, kini bisa dilakukan dari layar seukuran kotak sabun mandi. Intinya, semua bisa diwakili oleh perangkat telepon pintar. Dulu, orang menyaksikan program di TV sesuai dengan selera pemilik saluran TV, kini mereka bebas memilih apapun tayangan di YouTube. Dulu orang mau terkenal harus nongol duluan, kini sudah ada YouTube yang memungkinkan seseorang populer dan viral dengan pilihan caranya sendiri. Hanya sekali klik, semua bisa dilakukan.

Tantangan Pesantren di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0

Di antara cirikhas lain revolusi industri 4.0 adalah, pertama, dehumanisasi. Lunturnya sentuhan jiwa manusiawi. Secara mudah bisa dilihat saat Idul Fitri tiba. Dirasakan atau tidak, kehangatan lebaran dengan saling kunjung-mengunjungi mulai berkurang. Orang lebih memilih mengirim ucapan dan permohonan maaf melalui WhatsApp, yang seringkali disebar merata. Belanja kebutuhan tidak lagi ke took kelontong tetangga, melainkan ke jaringan minimarket waralaba yang serba mekanis dan sistemik.

Ciri yang kedua, adanya “orkestrasi” wacana atau tren dalam budaya. Namun sifatnya yang massif hanya menjadi tren sesaat. Dulu, Psy dengan Gangnam Style trennya merajalela, lantas berganti dengan tren lain. Wacana politik juga sama, ada tagar 411, lantas berganti 212, dan seterusnya. Di wilayah wacana digital ada juga tagar save ini-itu, dan selanjutnya. Warga dunia maya alias netizen gampang digerakkan dengan tombok klik.

Ciri ketiga, meminjam istilah Tom Nichols, munculnya gejala the death of expertise, alias matinya kepakaran. Otoritas keilmuan yang nirbatas. Walaupun sudah maju dan tampak tercerdaskan, namun perangkat digital di era 4.0 tampaknya justru menghilangkan batas sosial dan menghilangkan “otoritas keilmuan”.

Orang bisa komentar apapun, menyajikan analisis segila apapun, dan mengambil kesimpulan atas sebuah perkara yang bukan menjadi bidang keilmuannya. Dokter secara ceroboh menilai kualitas sebuah hadits, guru nahwu tiba-tiba ngomong soal teori konspirasi dunia medis, insinyur teknik berbicara ndakik-ndakik tentang anggaran militer, dan arsitek berbicara soal racikan obat. Benar-benar absurd.

Lantas, apa yang harus dilakukan oleh pesantren dan kalangan santri menyikapi revolusi industri 4.0 dan Society 5.0?

Pertama, tetap mempertahankan ciri khas pesantren. Misalnya berbagai kitab turats yang selama ini diajarkan, adab santri yang selama ini dijunjung tinggi, hingga mekanisme interaksi antar santri.

Karena faktor dehumanisasi yang terjadi pada era 4.0., maka pesantren harus tetap mempertahankan sentuhan manusiawinya, antar guru, guru dengan santri, maupun guru dengan walisantri. Pesantren juga menjadi kanvas budaya yang indah dengan mempertahankan berbagai adat dan kebiasaan yang baik, yang selama ini menjadi wilayah khasnya.

Kedua, menjadikan era 4.0. sebagai sebuah hal yang “ditunggangi”. Ibarat peselancar di pantai, tidak melawan ombak, melainkan menungganginya dengan indah. Di era ini, kalangan pesantren dituntut untuk menunggangi dan mengimbangi perkembangan zaman. Kajian kitab kuning, misalnya, bisa direkam dan sebarluaskan melalui YouTube. Bahasanya bisa dikemas lebih renyah dan menggunakan uraian bahasa Indonesia agar bisa dinikmati oleh semua segmentasi kalangan. Beberapa santri juga harus memiliki kemampuan olah digital, baik desain grafis, olah konten video, dan sebagainya.

Ketiga, era Society 5.0, yang pada awalnya dikemukakan oleh Shinzo Abe, Perdana Menteri Jepang, pada 2019, dalam sebuah forum dunia, era society 5.0 bertujuan untuk mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik. Keduanya terintegrasi, saling mendukung, dan tiada lagi pengabaian unsur manusiawi. Di era ini, teknologi dihadirkan sedemikian rupa, antara lain untuk mendukung misi-misi sosial. Penggunaan aplikasi media sosial untuk tujuan kemanusiaan sudah banyak dilakukan.

Netizen bukan saja canggih dalam memanfaatkan zona maya yang merupakan wilayah “operasional”nya, melainkan menjadikannya sebagai sesuatu yang berkontrubusi pada kemasalahatan. Aksi galang dana, protes kesenjangan sosial, aksi peduli sosial, politik, dan budaya semua digalang oleh para netizen. Mereka tidak kenal satu sama lain secara langsung, namun terkoneksi melalui jaringan dunia maya, dan bergerak bersama-sama atas nama solidaritas. Sekat geografis, social, kultural, dan ekonomi menjadi bias. Orkestrasi gerakan ini tampak menarik, karena selain massif juga simultan.

Oleh karena itu, kaum santri harus mampu menunggangi perkembangan di era 4.0., ini, juga sekaligus mewujudkan nilai-nilai pesantren yang ada. Tidak perlu canggung, tapi harus canggih. Tidak usah minder, karena pada era ini kita dituntut untuk “pinter”. Jangan hanya diam, melainkan harus bergerak. Jadikan tombol “klik” agar selalu bermanfaat, kembangkan keilmuan kita dalam dunia nyata dan maya, agar kelak, kita bisa memanen kebaikan ini di akhirat, sebab apa pun yang kita lakukan dengan tombol “klik” ini kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Wallahu A’lam Bisshawab

*) Disampaikan dalam Orasi Ilmiah Wisuda STAI Al-Fithrah Surabaya, Ahad, 24 Oktober 2021.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

6 thoughts on “Aku Nge-Klik, Maka Aku Ada”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *