Oleh: Eni Ratnawati*)

Rumah BacaHow are you, Kawan? Apa kabar malam? Tetiba WAG Sahabat Literasi IAI Cirebon sepi itu bikin kuduk meremang. Langit mengadu sendu, angin sepoi merayu, dan yach, jemariku kesemutan. Tapi sebaiknya jangan gampang percaya, sebab itu bahasa konyol yang suka begitu saja nangkring di kepala tanpa ada sangkut paut dengan kamu atau roman.

Apa itu roman? Itu, prosa yang berisi karakter, watak dan isi jiwa seseorang. Sejenis novel dan turunannya: roman detektif, roman sejarah, roman budaya dan lain sebagainya. Apa kita akan berbicara tentang roman? No! Cukup kamu tahu, hidup kita adalah roman, roman yang belum khatam. Prutt!

Dan selanjutnya, mari mendengar Kang Arijit menyitir a most beautiful roman dalam syairnya:

Tu safar mera, hai tu hi meri manzil Tere bina guzara, ae dil hai musykil Mujhe aazemati hai teri kamee, Meri har kamee ko hai tu lazemee.. -Arijit Singh-

Sambil nunggu akang siomay lewat depan rumah, mari mengenang masa jadul saat pertama kali jatuh dan cinta pada roman, buku. Emm, cinta pertama pada baca tepatnya. Masih ingat kah? Masih dong. Seperti Kahlil Gibran yang berkata, cinta pertama adalah pengalaman paling indah untuk semua insan:

“Cinta adalah sebuah kata bercahaya, ditulis oleh tangan cahaya, pada malam yang bercahaya.

Bagaimana dengan cinta pertamamu pada buku? Apa ada hubungannya dengan dia yang menyabet cinta pertama di hatimu?

Biasanya sih begitu. Anehnya, saat cinta pertama terberangus, cinta pada buku semakin dalam, matang dan misterius.

Kecintaan terhadap buku itu tidak tumbuh begitu saja. Pasti ada stimulusnya. Dan saya ingat, dulu mulai menggemari baca dari saya kelas dua-tiga Tsanawiyah saat masih berseragam krem-abu di Ma’had tercinta Al-Amin Prenduan Madura.

Saking kepinginnya baca komik yang waktu itu dilarang beredar, saya rela pesan diam-diam ke salah satu kawan bahkan dengan konsekuensi yang cukup menyeramkan. Begitulah cinta membutakan mata. Dan cinta pertama itu jatuh pada sastra, pada karya-karya sang masterpiece asal Besharri Lebanon, yang tenar dengan Sayap Sayap Patah dan The Prophet nya.

Suatu hari saat saya semakin menikmati aktivitas baca, saya menemukan sesuatu yang berbeda. Nikmat itu tak hanya saat kita bisa membeli buku, mengunyah kata, mencerna dan mengomposkannya dalam pikiran. Tetapi bagaimana buku yang kita baca bisa dinikmati dan bermanfaat bagi orang lain.

Dan karena alasan itu juga saya pada masa itu keranjingan membawa-bawa buku koleksi pribadi ke sekolah, dan merasa sangat senang jika buku-buku itu bisa menarik perhatian kawan-kawan.

Sampai suatu ketika, salah satu buku yang saya bawa beredar di bangku dan dibaca oleh seorang kawan saat pelajaran sedang berlangsung. Guru kami ini lalu marah, memboikot buku dan juga pemiliknya tentu saja. Waktu itu pelajaran ushul fikih, dan saya yang semula dikenal sebagai siswa terpuji tetiba menjadi pembawa sial bagi kawan-kawan. Ya, gegara itu kelas kami mendapat dorprize ujian syafahi dadakan dan setiap kawan saya gagal menjawab satu pertanyaan, sebagai gantinya saya harus menjawab sekaligus menerangkan.

Kabar baiknya adalah bahwa ternyata gemar baca menumbuhkan banyak cabang potensi dalam diri seseorang. Tak hanya menjadikan seseorang kreatif, inspiratif sekaligus pengkhayal tingkat rumit. Tetapi juga pandai bernegosiasi, beralasan, ber-ngeles, ber-ngeyel dan ber-ber yang lainnya. Setidaknya itu yang saya rasakan. Kalian tak harus sependapat. Sepakat atau tidak kembali pada pengalaman masing-masing orang.

Tapi memang, diakui atau tidak, bacaan selain matpel sekolah itu memiliki pesona tersendiri. Sebut saja novel dan konco-konconya, buku motivasi dan jajaranya, sampai buku panduan dan tips-tips kecantikan yang waktu itu banyak digemari teman-teman saya. Giliran kita diskusi ushul fikih, ya Allah ya Rabby, yang ada pening kepala berby. Mundur teratur, Kak! Pada lebih milih ngegosipin guru baru yang tampangnya konon mirip Maher Zain.

Tapi Kawans, setelah direnung-renungkan, ada benarnya jika kesukaanmu pada sesuatu jangan sampai membuatmu berlaku tidak adil pada yang lain. Seperti kesukaanmu pada sastra, terus buat kamu ogah-ogahan baca buku kuliah. Hmm, itu sih saya, haha. Karena eh karena, rupanya eh rupanya, menekuni Analisis Laporan Keuangan pun serunya bukan main, Kak! Peh!

Ehm, But one moment please. Ada tidak yang pernah merasa bahwa gemar baca, baca apa pun nih yah, menunjang keterampilan kita dalam memahami dan mengolah informasi yang diterima?

Kata para ahli neurologi, membaca buku khususnya, mampu meningkatkan konsentrasi, menambah daya ingat, dan memperpanjang umur loh. Apa?! Tidak percaya? Ya uwislah, biar itu jadi pekerjaan para ahli saja. Kita cukup suka membaca, gemar, dan mengambil manfaat dari giat baca.

Jadi, apa kabar hari ini? Buku apa yang sedang kamu kencani? Bagi saya, tidak penting apa bacaannya, karena pembaca yang baik akan dengan baik pula memetik pelajaran dan meninggalkan residu dari apa yang dibaca. Seperti pecinta kopi yang tetap bisa menikmati kopi tanpa terganggu dengan ampasnya.

Buku, baca dan kece. Yuk, tebarkan virus kecemu pada dunia. Dunia Sahabat Literasi IAI Cirebon (SLI), minimalnya. Karena setiap bacaan berpotensi memberi input yang kece pada pembacanya.[]

*Eni Ratnawati, penulis novel Rinai (2018)

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *