Oleh Anis Widya*)

Rumah Baca – Syariat Islam adalah sistem kaidah-kaidah yang didasarkan pada wahyu Allah SWT dan Sunnah Rasul mengenai tingkah laku mukalaf (orang yang sudah dapat dibebani kewajiban) yang diakui dan diyakini, yang mengikat bagi semua pemeluknya.

Di dalam Syariat Islam, terdapat berbagai hal termasuk asas-asas yang merupakan hal mendasar dalam hukum Islam. Hukum Islam dalam penerapannya tidak hanya teori saja, melainkan terdapat aturan-aturan praktis untuk diterapkan di dalam kehidupan manusia.

Terdapat banyak permasalahan-permasalahan, umumnya dalam bidang agama yang sering kali membuat pemikiran umat Muslim yang cenderung kepada perbedaan. Maka dari itu dalam hukum Islam terdapat sumber-sumber sebagai solusinya. Apa saja sih sumber hukum Islam ini? Sumber hukum tersebut yaitu al-Qur’an, Sunnah (Hadis), Ijma’, dan Qiyas. Kesemuanya berperan sebagai solusi ketika terdapat berbagai macam masalah perbedaan pendapat.

Dalam hukum Islam, terdapat asas-asas hukum Islam yang diharapkan sejalan dengan berbagai golongan umat muslim. Apa itu asas hukum Islam?

Asas hukum Islam adalah suatu kebenaran yang menjadi pokok dasar atau tumpuan hukum Islam yang berasal dari dari sumber hukum Islam, terutama dari al-Qur’an dan as-Sunnah (Hadits) yang dikembangkan oleh akal pikiran orang yang memenuhi syarat untuk berijtihad.

Secara umum, asas yang terkandung dalam sebuah hukum mencakup 3 (tiga) hal yaitu keadilan, kepastian hukum, dan kemanfaatan hukum. Tiga asas tersebut dikategorikan sebagai sebuah nilai sosial suatu hukum. Sebuah hukum dianggap baik bagi kehidupan bersama apabila memenuhi 3 nilai tersebut.

Asas Kepastian Hukum
Dalam Surat al-Baqarah ayat 187 dan 229 Allah memberikan hukum atas suatu ketidakpastian dan kebingungan yang terjadi sebelumnya. Selain itu, Allah juga mengampuni dan tidak menghukum orang-orang yang berbuat sebaliknya sebelum turunnya sebuah hukum (ayat). Melalui ayat-ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa Ia memberikan batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar bahkan melarang manusia untuk mendekati.

Asas Keadilan

Mengenai keadilan yang dimaksudkan dalam surat an-Nisa ayat 58 dan al-Maidah ayat 42 mempunyai konsep yang berbeda pada penerapannya. Dalam surat an-Nisa ayat 58 menggunakan kata al-‘adl yang dimaksudkan sebagai kewajiban berbuat adil dalam rangka menyelenggarakan sebuah negara.

Nilai Kemanfaatan Hukum

Ketiga terkait dengan asas nilai kemanfaatan hukum yang terkandung dalam surat al-Baqarah ayat 179 dan 187 adalah bahwa Allah menetapkan sebuah hukum mempunyai tujuan jelas, yaitu agar manusia dapat mencapai kehidupan yang lebih baik.

Ajaran Islam yang substantif, dalam hal ini asas-asas dalam berhukum, dapat bertemu dan memiliki persamaan pandangan atau kalimatun sawa dengan pandangan dan sistem lain, dalam hal ini hukum modern. Oleh karena itu, konsep kalimatun sawa sangat relevan dengan konsep negara-kebangsaan yang tidak berdasar pada agama tertentu.

Lalu, bagaimana dengan perkembangan hukum Islam? Apakah hukum Islam ini berkembang?

Tentu saja, hukum Islam itu bersifat dinamis, bisa mengalami perubahan dan perkembangan. Perubahan ini tidak hanya oleh zaman (waktu), tapi bisa oleh ruang (tempat), motivasi, kondisi, dan tradisi. Contohnya seperti pencuri, pada masa Umar bin Khattab si pencuri tidak dihukum untuk potong tangannya. Seperti pada kasus pembantu yang mencuri makanan majikannya, kemudian si majikan mengadu pada Umar. Umar tidak memotong tangan si pencuri tersebut, karena pencuri tersebut melakukannya dengan keadaan terpaksa, sebab majikannya belum membayar upahnya.

Contoh lain seperti pernikahan. Hukumnya bisa berubah sesuai dengan niat dan kondisi pelakunya. Adapun salat pada saat pandemi atau bahkan salat Jumat, karena tidak boleh keluar saat pandemi salatnya hanya di dalam rumah saja. Oleh sebab itu, hukum Islam berkembang seiring dengan adanya kasus-kasus yang terjadi. Karena, perubahan tempat, motivasi, kondisi, dan tradisi yang menyebabkan berkembangnya hukum Islam. Wallahu a’lam

*) Penulis adalah mahasiswa jurusan Hukum Ekonomi Syariah IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *