0 0
Read Time:3 Minute, 32 Second

Oleh Ahmad Rusdiana, Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Kehadiran Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) pada hakikatnya bertujuan untuk meningkatkan peradaban kehidupan manusia. Dalam hal ini, semua aspek yang melingkupinya akan terdampak dari kehadiran TIK tersebut. Sebelum merambah bidang pendidikan, TIK juga telah mempengaruhi berbagai aspek dalam bidang ekonomi. Hal ini semakin jelas terlihat dalam memasuki era pasar bebas, khususnya dalam menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Kondisi ini tentu akan mengubah paradigma negara-negara berkembang dalam strategi pembangunannya, dari pembangunan industri menuju era informasi (Juditha,2011).

Berdasarkan rekomendasi dari World Economic Forum tahun 2015, ada beberapa keterampilan abad ke-21 yang harus dimiliki oleh masyarakat dunia. Beberapa skills tersebut adalah literasi dasar, kompetensi, dan karakter. Bagi siswa dan pendidik, literasi dasar merupakan elemen penting yang harus dikuasai sebagai modal dalam kehidupannya. Literasi dasar tersebut meliputi literasi baca tulis, literasi numerik, literasi saintifik, literasi digital (ICT), literasi finansial, dan literasi budaya dan kewargaan.

Dosen, petugas kampus, dan institusi pendidikan tinggi sebagai garda terdepan dalam perubahan bidang pendidikan dituntut untuk melek Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Artinya, sudah tidak ada alas an lagi bagi pendidik untuk gaptek atau gagap terhadap teknologi. Beberapa tahun belakangan ini, berbagai instansi pendidikan sudah mulai menerapkan berbagai kebijakan dengan menggunakan
teknologi. Kebijakan-kebijakan tersebut dibuat untuk mendekatkan para pendidik dengan piranti teknologi.

Beralih ke dunia pendidikan, pengaplikasian teknologi ke dalam pendidikan dan pembelajaran merupakan salah satu bentuk inovasi. Inovasi dilakukan dengan tujuan untuk mengimbangi dan mengikuti perkembangan zaman. Mengingat kemajuan TIK sudah tidak dapat dihindari lagi, maka upaya literasi TIK dalam pendidikan memang harus digalakkan sejak dini. Berbagai program pendidikan baik dari pemerintah pusat, kementerian, maupun intern institusi wajib diintegrasikan dengan TIK. Dengan berbagai program atau kebijakan berbasis TIK, setiap insan pendidikan setidaknya peduli, memahami, dan menguasainya. Berikut ini beberapa program atau kebijakan dalam dunia pendidikan maupun pembelajaran yang diintegrasikan dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Dalam implemantasinya Fitriyadi (2013) menjelaskan, ada beberapa tahapan dalam mengintegrasikan TIK kedalam proses pendidikan, yaitu emerging, applying, infusing, dan transforming:

Tahapan pertama, emerging, merupakan tahapan TIK dalam Pendidikan di mana institusi baik sekolah maupun lembaga masih dalam proses memperkenalkan computer dalam lingkungannya, mungkin di sekolah tersebut baru memiliki satu atau dua buah komputer.

Tahapan kedua applying atau menerapkan TIK dalam pendidikandapat dilakukan dengan menambah beberapa unit komputer di sekolah. Pada tahapan ini, pembelajaran di kelas masih didominasi oleh peran guru sedangkan keberadaan computer sebagai salah satu produk TIK digunakan untuk hal-hal administratif dan hal-hal yang berkaitan dengan keprofesionalan. Pada tahapini juga, guru atau pendidik mulai secara berangsur-angsur mempelajari computer untuk nanti digunakan dalam proses pembelajaran di kelas.

Tahapan ketiga, infusing atau menanamkan. Pada tahap ini, TIK khususnya computer sudah dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah. Dengan demikian, seluruh kelas sudah harus dilengkapi dengan peralatan komputer. Tidak hanya terbatas pada ruang kelas, komputer juga harus disediakan di beberapa tempat seperti ruang akademik, laboratorium, perpustakaan, dan lain-lain. Pada tahap ini juga, guru harus berkolaborasi dengan rekan yang lain dalam membantu siswa menggunakan peralatan computer untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Tahapan keempat, transforming atau transformasi; merupakan tahapan implementasi TIK dalam bidang pendidikan adalah transforming atau transformasi. Pada tahapini, guru sebagai pendidik telah memiliki rasa percaya diri dalam mengajar dengan menggunkan TIK atau komputer. Dengan kata lain, pada tahapan terakhir ini strategi pembelajaran sudah harus diubah dari teacher centered learning menuju student centered learning. Pada tahap ini pula, guru dan siswa harus dapat menciptakan dan mengatur pembelajaran terbuka dan inovatif. Wallahu A’lam Bishowab.

Penulis:
Ahmad Rusdiana, Guru Besar bidang Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peneliti PerguruanTinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) sejak tahun 2010 sampai sekarang. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Misbah Cipadung-Bandung yang mengem-bangkan pendidikan Diniah, RA, MI, dan MTs, sejak tahun 1984, serta garapan khusus Bina Desa, melalui Yayasan Pengembangan Swadaya Masyarakat Tresna Bhakti, yang didirikannya sejak tahun 1994 dan sekaligus sebagai Pendiri/Ketua Yayasan, kegiatannya pembinaan dan pengembangan asrama mahasiswa pada setiap tahunnya tidak kurang dari 50 mahasiswa di Asrama Tresna Bhakti Cibiru Bandung. Membina dan mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) TK-TPA-Paket A-B-C. Rumah Baca Masyarakat Tresna Bhakti sejak tahun 2007 di Desa Cinyasag Kecamatan. Panawangan Kabupaten. Ciamis. Karya Lengkap sd. Tahun 2022 dapat di akses melalui: (1) digilibuinsgd (2) googlebook (3) googleplay.

About Post Author

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id