Oleh Rijal Mumazziq Z, Tuan Guru Bollywood (TGB), Rektor INAIFAS Kencong Jember

Tak ada film India tanpa Inspektur Vijay. Juga, tak ada lawan abadi yang kejam, kecuali disebut oleh penikmat film India di Indonesia, sebagai Tuan Takur.

Sejak kapan ada sosok pepuler bernama Inspektur Vijay? Sejak Amitabh Bachchan memerankannya dalam Zanjeer (1973). Vijay nama populer di India, yang diserap menjadi Wijaya dalam lidah orang Indonesia, sebagaimana Sanjay menjadi Sanjaya, Arjun menjadi Arjuna, Ashok menjadi Asoka, Prakash menjadi Prakasa, Siddhart menjadi Sidarta, Kartik menjadi Kartika, Bhim menjadi Bima, dan sebagainya. Unsur serapan yang mudah. Tinggal menambahkan huruf A, saja.

Lalu, sejak kapan Tuan Takur melekat dalam benak orang Indonesia? Sejak Amrish Puri memerankan sosok tuan tanah jahat alias Takur dalam dalam Naseeb (1981), Ilaaka (1987), juga Karan Arjun (1995). Ini belum menghitung akting ikoniknya sebagai Mogambo bersama Anil Kapoor dan Sri Devi dalam Mr. India (1987)

Amitabh Bachchan alias Big-B sering sliwar sliwer di saluran TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) tahun 1990-an. Walaupun ada istilah pendidikannya, saluran yang kini menjadi MNC TV ini isinya berkebalikan arah. Kalau nggak sinetron, ya ndangdut, juga sinema India.

Terlahir dengan nama Inquilab Srivastava pada 11 Oktober 1942, pada mulanya Big-B diragukan kemampuan aktingnya. Tingginya yang menjulang juga membuat beberapa sutradara pikir-pikir untuk dimainkan bersama para aktris. Khawatir jomplang. Si aktor terlampau tinggi, si aktris tidak bisa menyesuaikan tinggi diri. Toh, keraguan ini bisa ditepis. Zanjeer menjadi peruntungannya. Citra dirinya sebagai Angry Young Man mulai melekat di benak. Wajahnya mulai menjejali baliho besar bioskop di India hingga Indonesia, bersaing dengan Dev Anand dan Rajesh Khanna yang di era 1970-an menjadi idola pula di penyelenggara bioskop misbar (gerimis bubar) tanah air, bersaing dengan wajah Oma Irama, Sopan Sophiaan, Roby Sugara, hingga Roy Marten.

Ada banyak film yang dibintangi Big-B, dari Zanjeer (1973), Sholay (1975), Amar Akbar Anthony (1977), Silsila (1981), dan tentu saja Shahenshah (1988) serta Akayla (1991) yang membuat citranya sebagai Inspektur Vijay melonjak. Total ada 20 film yang dia bintangi dengan nama peran Vijay.

Perannya dalam Khuda Gawah (1992) bersama Sri Devi juga tak kalah moncer. Sebagian film ini saya tonton di era kejayaan stasiun TV TPI, sebagian baru nonton streaming beberapa bulan silam di beberapa website. Film klasik, tapi sudah disertai terjemahan Bahasa Indonesia.
Sudah ratusan film dia bintangi, tapi dalam kurun 20 tahun terakhir, inilah beberapa film Big-B yang mengesankan.

Mungkin gambar 3 orang, janggut dan makanan

Mohabbatein (2000). Dimana Big-B tampil berwibawa dengan janggut putih dan karakter kerasnya. Narayan Shankar, kepala sekolah yang berhati kaku dan berlindung di balik kedisiplinan untuk melupakan kegagalannya mendidik dan membendung cinta putrinya, Megha, terhadap Raj Aryan Malhotra, sosok yang dia hadapi kelak ketika mengelola Gurukul, lembaga pendidikan yang prestisius dengan aturan semimiliter. Di Mohabbatein, Amrish Puri juga nongol, walaupun perannya tidak dominan.

Bisa dibilang, Mohabbatein menjadi salah satu penyelamat karier Big-B yang kian merosot di era 1990-an. Di era ini Big-B mulai digeser trah Kapoor: Rishi, Anil, Sanjay; dan kwartet Khan: Aamir, Shah Rukh, Salman dan Saif Ali.

Di awal milenium itu, dia memerankan sosok tua yang melodramatik, dan tidak lagi terlibat sebagai Hero atau polisi hebat sebagaimana di film-filmnya di era 1970-an hingga satu dasawarsa berikutnya. Big-B mengikuti arus takdir aktor gaek Hollywood, hebat di usia muda, berkarakter di usia senja, seperti Sean Connery, Clint Eastwood, Ian McKellen, Jack Nicholson, Robert De Niro, hingga Liam Neeson, dan….Denzel Washington. Tentu saja Jackie Chan juga bisa digolongkan dari trah perfilman Hongkong.

Mungkin gambar 6 orang, makanan dan teks yang menyatakan 'Kabhi Khushi Kabhie Gham...'

Kabhi Khusie Kabhi Gham (KKKG) (2001). Big-B kembali bermain dengan Shah Rukh Khan. Kali ini sebagai bapak tajir yang nggak menyetujui hubungan anaknya dengan putri pembantunya. Oke, nggak perlu saya jelaskan panjang lebar soal film ini. Banyak yang sudah menontonnya, juga terkesan dengan alur ceritanya. Yang pasti, film ini menjadi bagian dari cirikhas produksi film yang digarap oleh Yash Johar dan disutradarai oleh anaknya, Karan Johar. Apa cirikhas film Dharma Production? Keluarga, ya seputar keluarga India. Ciri lain, selalu ada ibu yang menggunakan kain sari. Aha!

Mungkin gambar 10 orang, orang berdiri dan makanan

Baghbaan (2003). Kali ini, dia beradu peran kembali dengan Hema Malini. Raj Malhotra, seorang ayah yang merasa kesepian dan merasa diterlantarkan anak kandungnya, namun mendapatkan curahan kasih sayang dari anak angkatnya. Film drama, cenderung membosankan bagi sebagian orang, tapi mungkin menarik bagi pecinta kisah keluarga.

Mungkin gambar satu orang atau lebih dan makanan

Black (2005). Di sini Big-B memerankan sosok Debraj Sahai, penderita alzheimer yang mendidik gadis buta tuli, Michelle McNally, yang diperankan Rani Mukherjee. Film yang terinspirasi dari jalan hidup dan perjuangan Helen Keller ini disebut oleh TIME sebagai salah satu film terbaik 2005. Perpaduan Big-B dengan Rani Mukherjee, ini pas. Rani lahir pada 1978, dimana saat itu nama Big-B menjulang, dan di tahun 2005, keduanya berduet kembali setelah KKKG (2001).

Saya suka Black, bukan soal akting Big-B, tapi karena sentuhan sutradara Sanjay Leela Bhansali. Saya memang jatuh cinta pada garapan orang ini. Pilihan kostum selalu khas, tata cahaya juga memukau dan sorot kamera yang kadang bergerak lambat mendukung akting para pemain yang kian memikat. Silahkan cermati sentuhan Bhansali, dari Devdas, Bajirao Mastani, Padmavaat, Guzaarish, Saawariya, Black, dan tentu saja Hum Dil De Chuke Sanam (1999) yang lagunya, Chand Chupa Badal Mein sangat enak didengar itu.

Oke, sampai di sini, saya menganggap Black sebagai film inspiratif dan layak tonton.

Mungkin gambar 2 orang dan makanan

Paa (2009). Big-B beradu peran dengan anaknya, Abhishek Bachchan. Bapak jadi anak, anak memerankan sosok bapak. Film bergenre drama komedi ini asyik dinikmati. Big-B memerankan Auro, bocah berusia 13 tahun, yang menderita progeria, kelainan genetik yang membuatnya menua terlalu dini. Sedangkan Abhishek menjadi Amol Arte, bapak Auro, yang ingin membuktikan kasih sayangnya. Bolehlah jika Abhishek dianggap aktor kelas dua di Bollywood, dan tidak mampu menyaingi kebesaran bokapnya, tapi di film ini, aktingnya bagus. Berkat totalitasnya, Big-B diganjar penghargaan aktor terbaik dari National Film Awards. Tua tua keladi, beneran!

Mungkin gambar 5 orang dan makanan

Satyagraha (2013). Ini film politik garapan salah satu sutradara favorit saya, Prakash Jha. Soal kegemaran Jha mengangkat tema politik sudah saya bahas dalam status fesbuk di sini
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1242493292498971&id=100002149375608
Big-B memerankan seorang ayah idealis. Pensiunan kepala sekolah yang keras kepala, sekaligus penggerak demonstrasi tanpa kekerasan menuntut perubahan politik. Harus diakui, aktor watak Manoj Bajpayee bisa menjadi sosok bengis yang dingin, klop beradu dengan pria sepuh yang memperjuangan keadilan bersama menantunya, Amrita Rao, dan beberapa aktivis sosial seperti Akay Devgan, Arjun Rampal dan Kareena Kapoor. Selain Raajneeti (2010) yang juga digarap Prakash Jha, Satyagraha merupakan film politik yang layak tonton.

Mungkin gambar 2 orang dan makanan

Wazir (2016). Ini film thriller. Jalan cerita lumayan susah ditebak, dengan klik cerita di akhir yang mengejutkan. Suspensinya kena. Big-B berperan sebagai Pandit Omkar Nath Dhar, mahaguru catur yang difabel. Sosok polisi anti-teror yang diperankan Farhan Akhtar, Daanish Ali, menjadi kompatriot yang pas bagi misi hidup Pandit Omkar. Jalan cerita yang disusun persis puzzle membuat akting keduanya tampak mumpuni. Akhir film ini tertebak melalui judul filmnya, Wazir, yang berarti menteri dalam lajur permainan catur.

Mungkin gambar 4 orang dan makanan

Pink (2016). Ini film thriller. Deepak Shegal, yang diperankan Big-B, merupakan pensiunan pengacara, yang memperjuangkan nasib tiga perempuan yang mengalami pelecehan dan kekerasan. Film ini penuh dengan dialog cerdas di pengadilan, dan susunan plot cerita yang diecer untuk mendukung argumentasi cerdas Shegal sebagai pensiunan pengacara yang bertanding lagi di meja hijau.

Mungkin gambar 2 orang dan makanan

Te3n (2016). John Biswas, seorang kakek yang diperankan Big-B mencari penculik dan dalang pembunuh cucunya, Angela, delapan tahun silam. Polisi yang nyaris putus asa pada akhirnya juga kembali membuka berkas kasus tersebut, karena terjadi penculikan baru terhadap seorang bocah. Kasus yang rumit membuat veteran polisi yang terlanjur menjadi pastur, Martin Das (Nawazuddin Siddiqui), kembali terlibat dalam misi mengungkap kasus lama ini. Plot twist yang tidak disangka di akhir, membuat film ini layak direkomendasikan.

Mungkin gambar 1 orang dan makanan

Badla (2019). Sesuai artinya, balas dendam, film ini menyuguhkan pembalasan yang tidak diduga. Ada pembunuhan, dengan pelaku yang masih misterius. Alur yang zig-zag, disertai dengan adegan yang diacak, bakal membuat penonton terus menebak, dan pada ujung yang tidak diduga, kita menemukan kejutan. Dialog yang cepat, dan respon yang logis dari seorang pengacara gaek, Badal Gupta, yang menangani kasus pembunuhan ini, disertai dengan plot A, B, C, membuat kita terus mengikuti alur film ini hingga akhir. Bagi saya, Badla yang diadaptasi dari film Spanyol, ini merupakan salah satu tontonan memikat dalam genre thriller Bollywood.

Tentu, ada banyak film yang dibintangi Big-B dalam kurun dua dasawarsa terakhir, dari Khakee, trilogi Sarkar, Samitabh, Piku, Thugs of Hindostan, hingga yang paling gres, Gulabo Sitabo. Tapi, bagi saya, judul-judul yang telah saya ulas di atas, adalah yang terbaik di antara yang terbaik.

Salam,

Tuan Guru Bollywood

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *