0 0
Read Time:2 Minute, 40 Second

Oleh Dr. Thobib Al-Asyhar, Sekretaris Menteri Agama Republik Indonesia, Suami Almarhumah

Almarhumah Ifa Avianty adalah sosok isteri dan ibu yang unik. Memiliki kepribadian introvet yang tidak suka difoto. Jarang sekali saya masang foto mesra bersamanya di Medsos. Setiap kali saya ajak foto, selalu bilang, “Jangan lama-lama ya, Yah”. Ini menunjukkan dia kurang nyaman untuk difoto. Entah kenapa dia nggak terlalu suka difoto, khususnya dengan saya. Beda banget sama gue… 🙂

“Ayah, kemesraan dan kebahagiaan pasangan itu bukan untuk dipamerkan di ruang publik, tapi dinikmati untuk membangun batin masing-masing agar saling menguatkan”, begitu komentarnya suatu kali. Sikap batin yang memiliki pesan moral cukup mendalam, tentu saja.

Tapi, dia suka banget kalau memfoto anak-anaknya yang sedang belajar atau beraktifitas mandiri. Dia sangat bahagia jika anak-anak ceria, bisa mandiri, memiliki keterampilan yang menakjubkan. “Kalian tahu dari mana, kok bisa?” Tanya dia ke anak-anak yang sering menunjukkan kebolehan hasil nonton Youtube atau film, dengerin musik, atau habis main game.

Obyek foto lainnya yang sangat disukainya adalah binatang kesayangannya. Kucing-kucing yang selalu menjadi teman sepanjang hidupnya. “Kucing itu binatang lucu. Kalau siang-siang, mereka ibu ajak ngobrol dan mereka nampak senang”, begitu katanya kepada saya. Batin saya bergumam, aneh nih orang, kucing-kucing kok diajak ngobrol, kek nabi Sulaiman saja.

Sikap lain yang dimiliki almarhumah adalah nggak pengen jadi “orang terkenal”. Meski karya bukunya berjumlah 46 judul buku, baik fiksi maupun non fiksi, tapi nggak suka menonjolkan diri. Jika mau cek di mbah Google, ketik karya Ifa Avianty, pilih image, maka akan keluar seluruh buku-bukunya. Belum lagi karya tulis artikel, opini, maupun jurnal ilmiah. Selama masih aktif menulis, kerjaannya talk-show dari satu tempat ke tempat yg lain. Sering juga ngajak saya untuk tampil bareng.

Sosok penulis sederhana yang nggak suka neko-neko. Temen-temennya sering bilang, mbak Ifa itu penulis yang rendah hati. Nggak suka dipuji-puji. Nggak pelit berbagi ilmu. Baginya, memberi manfaat bagi orang banyak itu jauh lebih penting dibanding sekedar menjadi terkenal. “Kalau menjadi terkenal, saya takut salah jalan. Lupa diri”, itu prinsip teguhnya.

Mantan jurnalis majalah Annida dan Ummi ini adalah lulusan Creative Writing UNSW Australia. Kemampuan kepenulisannya tidak diragukan lagi. Susunan kalimat, pilihan diksi, olah kata, background, dan analisisnya tajam dan kena. Tidak heran banyak orang terkesan dengan karya-karyanya. Menginspirasi dan menggugah. Terus terang saya belajar bangank darinya.

Sehari setelah kepergiannya, sekian banyak temen-temennya datang hanya ingin memberi kesaksian kepada saya dengan mata berkaca-kaca. “Pak, saya pernah diajar mbak Ifa dalam taklim saat di kampus. Orangnya humble, murah senyum, dan ringan tangan untuk membantu”, kata temen kuliahnya di di UI Depok.

“Pak saya pembaca setianya buku-buku mbak Ifa. Novel, cerpen, dan non fiksi karya beliau saya selalu beli. Melalui buku-bukunya, saya menjadi mengerti banyak hal”, tutur pelayat yg lain. “Saya juga pak, sudah lebih 20 tahun gak ketemu. Pengen ketemu habis lebaran, malah dia sudah tidak ada”, ujar yang lain.

Ya, banyak orang yang menjadi saksi bahwa almarhumah selalu memancarkan cahaya bagi kehidupan banyak orang. Pantulan sinar matahari kepada rembulan yang sangat dirindukan akan selalu dikenang oleh sejarah.

Selamat jalan “rembulanku”. Kini engkau sedang menikmati hasil amal jariyahmu semasa di alam nyata untuk keabadian bersama Rabb-mu.
Alfatihah.

About Post Author

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id