0 0
Read Time:3 Minute, 3 Second

Oleh Susiana, Guru SMPN 1 Pogalan, Kab. Trenggalek

Cermin merupakan benda yang mampu memantulkan bayangan dari benda yang berada di depannya. Saat bercermin kita akan mendapatkan bayangan diri kita. Di dalam cermin, bayangan diri kita tampak persis dengan yang sebenarnya, baik wajah, postur serta penampilan yang saat itu kita kenakan dan apa yang sedang kita lakukan.

Tetapi, sebenarnya antara benda dengan bayangan bila dicermati ada banyak perbedaan. Coba saja! Angkat tangan kanan kita, ternyata bayangan kita justru seolah-olah mengangkat tangan kirinya. Demikian pula, jika kita mengedipkan sebelah mata, saat menulis, saat makan, ternyata yang dilakukan bayangan seakan berkebalikan dengan bagian tubuh kita yang sebenarnya. Mengapa?

Untuk menemukan jawabannya, cobalah praktikkan! Berdirilah di depan cermin, diam dan tenang. Ulurkan perlahan tangan kanan kita untuk memegang permukaan cermin. Sekarang, coba rasakan seandainya kita yang berperan sebagai bayangan. Saat tangan kita terulur, bayangan kita justru menjulurkan tangan kirinya bukan? Lakukan sekali lagi dan berpikirlah!
Nah, sekarang sadari bahwa tubuh kita yang sebenarnya berdiri berhadapan dengan bayangan. Yap… itulah jawabannya….

Semua yang dilakukan bayangan yang berlawanan dengan yang kita lakukan, sebetulnya bermula dari bayangan yang berkebalikan hadap dengan tubuh kita. Seandainya saat bercermin tubuh kita menghadap ke utara, maka bayangan kita di dalam cermin menghadap ke selatan. Jadi tubuh kita berhadap-hadapan dengan bayangan kita. Dan kita hanya bisa menatap bagian depan tubuh kita, kecuali jika kita mengkombinasikan beberapa cermin, kita bisa dengan mudah melihat bagian belakang tubuh kita.

Nah, ketika kita menggunakan sebuah cermin, kita tidak akan bisa mengetahui keadaan punggung kita. Andai masih ingat, saat masa sekolah SMP/SMA dulu mungkin ada di antara kita yang jadi korban keisengan tangan jahil yang sengaja menempelkan kertas bertulis aneh-aneh di bagian belakang baju seragam kita.

Bermula dari pelajaran cermin tersebut, kita dapat memaknainya untuk muhasabah diri. Bahwa pandangan kita terbatas hanya pada yang ada di depan kita. Sesuatu yang sudah tampak sempurna dalam pandangan kita, ternyata mungkin masih banyak kekurangan yang tidak kita ketahui. Bahkan bisa jadi bagi orang lain justru dianggap tidak baik.

Momen bulan suci Ramadan saat ini merupakan waktu yang sangat tepat digunakan untuk introspeksi diri. Kita pergunakan bulan penuh ampunan ini sebagai cermin jati diri. Adab dan ibadah kita di bulan ini adalah buah cerminan terhadap benih-benih amalan yang telah kita tanam pada hari-hari kemarin. Jika kemarin kita menanam benih yang bagus, tentu kita juga memperoleh buah yang ranum, begitu pula sebaliknya. Ingat satu ungkapan bahwa proses tidak pernah mengingkari hasil.

Namun, jika kita belum sempat menyemai benih kebaikan, kini saatnya memacu diri menaburnya. Ulurkan sekilo-dua kilogram beras bagi mereka yang untuk menanaknya saja harus membeli. Bangunlah pagar mangkok yang kokoh dengan para tetangga. Buka lebar mata kepedulian kita. Temukan kakek nenek yang susah payah menjajakan dagangannya, atau terima payung sewa dari anak-anak kecil meski saat itu hanya rintik hujan. Dan masih banyak lagi ladang-ladang amal yang dapat kita gunakan untuk menanam benih-benih surga kita. Seandainya tak ada sedikitpun yang dapat kita sisihkan untuk mereka, ringankan tangan dan kaki kita untuk mereka yang membutuhkan.

Sekelumit perjalanan kehidupan kita sesungguhnya sebuah rangkaian panjang proses dan hasil sebagaimana cermin, bercermin dan cerminan. Bulan Ramadan selayaknya kita manfaatkan sebagaimana cermin, ya…cermin kehidupan. Hendaknya di setiap hari bahkan jika mampu di setiap tarikan napas, kita bercermin memantas dan mematut diri di hadapan Yang Maha Pengampun, memperbaiki hati dan fikiran kita, menata setiap langkah dan tindakan kita. Meski kita tidak pernah tahu hasil akhir proses kehidupan kita nantinya tetapi kita harus yakin bahwa selama kita menjalani proses kehidupan sesuai koridor yang telah dituntunkan Rasulullsh SAW, pasti akan tiba masanya kita menuai manisnya sebagai buah cerminan hidup kita. Aamiin.

Ramadan Mubarak.
Pogalan, 20 April 2022

About Post Author

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id