Oleh Masyhari

Masih adakah yang mengukur atau menghakimi seseorang cerdas atau bukan berdasarkan angka nilai akademik di rapornya? Masih adakah yang bilang, anak cerdas dan pintar masuk jurusan IPA, sedangkan yang biasa-biasa saja (tidak pintar) ke IPS?

Saya termasuk hidup pada zaman sekolah (SMP & SMA) yang mengukur kepintaran dan keceradasan siswa dengan nilai yang tertulis di rapornya.

Saat lulus SMP, yang dianggap pintar dan cerdas dengan nilai evaluasi belajar tahap akhir nasional (EBTANAS), UNAS atau UN-nya tinggi, khususnya di mata pelajaran IPA dan MTK, ia bisa melenggang masuk SMAN atau MAN dengan mudah.

Sebaliknya, yang nilainya pas-pasan atau rendah, harus cukup lanjut di SMA/MA di almamaternya. Kalaupun yang dianggap cerdas karena nilai UN-nya tinggi dan tetap bersekolah di almamaternya, ia akan dianjurkan masuk IPA. Sebab yang masuk IPA konon harus cerdas, sedangkan yang masuk IPS katanya tidak harus begitu.

Parahnya lagi, MA/SMA di almamater saat itu, pada tahun pertama saya masuk, malah baru membuka satu kelas ‘unggulan’ dengan brand SP (siswa potensial). Kelas ini diisi oleh para pelajar yang dicap sebagai cerdas dan pandai itu. Zaman itu klasifikasi siswa berdasarkan kemampuan kognitif memang gencar, dan bahkan mungkin hingga saat ini masih ada.

Stop! Jangan kira saya ngiri dengan IPA dan lebih membela IPS, ya! Karena saya bukan anak lulusan IPA maupun IPS. Sewaktu Aliyah, saya masuk jurusan keagamaan (MAK). Memang sih, jurusan ini lebih dekat dengan rumpun ilmu sosial daripada eksakta (MIPA). Apa lagi, saya sendiri termasuk yang tidak suka (dan males belajar MTK, sehingga tidak bisa). Kalau ujian pelajaran MTK, kebanyakan kawan di kelas sudah keluar dari ruang ujian hanya dalam waktu 5 menit, karena mengisi lembar jabawan tidak pakai mikir.hahaha. Yang bertahan serius mengerjakan soal paling hanya satu dua siswa.

Terkait IPA dan IPS ini, saya jadi teringat seorang adik kelas (gak enak kalau harus ebut namanya). Sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga SMA, kawan ini selalu mendapatkan rangking satu di kelasnya, kecuali satu kali saja posisinya digeser oleh kawannya. So pasti, ia dianggap sebagai siswa yang cerdas. Jangan ditanya jurusannya apa ketika SMA, IPA tentunya.

Nah, ketika lulus SMA , ortunya punya harapan agar ia ambil jurusan IPA di kampus negeri di Kota Surabaya (sebut saja UNESA). Mungkin, ia digadang-gadang bisa jadi seorang guru IPA atau setidaknya ilmuan IPA selepas kuliah.

Ia pun masuk jurusan IPA sebagaimana harapan orangtuanya. Entah Kimia atau Fisika, saya agak lupa. Namun, setahun belajar di jurusan itu ia tidak rasakan kenikmatan. Ia tidak menemukan ada kemistri di sana. Apakah harus dilanjutkan ataukah harus banting stir ambil kuliah di jurusan lain?

Dengan berbagai pertimbangan, ia pun nekat banting stir. Uang yang semestinya dipakai daftar ulang untuk kuliah semester tiga digunakannya untuk daftar ujian seleksi masuk kampus negeri lainnya (sebut saja Unair), tentunya ambil jurusan yang disukainya, yaitu ilmu sosial. Tentunya harus siap menerima potensi konsekuensi diterima atau tidak. Singkat cerita, akhirnya ia diterima di FISIP Unair, yang tentunya dengan konsekuensi mulai lagi dari semester satu.

Syukurnya, ia diterima di FISIP Unair yang diincarnya. Ia pun sampaikan salam perpisahan dengan IPA UNESA. Ya, memang kita tahu, kalau dilihat dari ‘kelas’, Unair lebih bergengsi daripada UNESA, tanpa lihat jurusannya. Tapi bukan itu poinnya. Yang pasti, akhirnya stigma cerdas-tidak cerdas bukan dilihat dari IPA ataukah IPS.

Bagaimana nasibnya setelah itu? Setelah lulus FISIP Unair, ia masuk dalam program Indonesia Mengajar angkatan pertama. You semua tahulah apa dan siapa penggagas program ini. Yang diterima sebagai pengajar di program ini adalah pilihan, sarjana-sarjana hebat.

Setahun mengabdi sebagai relawan pengajar di pulau terpencil, ia kemudian bekerja dalam tim Kick Andy, sebuah acara talkshow di Metro Tv yang sangat bergengsi. Di sana ia sebagai peneliti dan pencari narasumber, berbekal teori riset ilmu sosial yang dipelajarinya di Unair tampaknya.

Tak lama, ia sempat singgah kerja di kantor ICW, sebuah LSM yang berisi anak-anak muda cerdas dan berani itu. Hanya saja, mungkin kerja di sana terlalu beresiko bagi dirinya. You know lah, ICW adalah musuh para koruptor. Beberapa saat kemudian, dikabarkan ia ngantor di Kebon Sirih Jakarta. Besar kemungkinan ia kerja di istana Wapres.

**

Apa yang ingin saya sampaikan? Bahwa ternyata, klaim cerdas atau bukan cerdas, pintar atau bukan tentu tidak bisa sekedar dilihat dari rapor, sisi kognitif atau akademik semata. Apa lagi sampai melabeli IPA dengan cap cerdas dan IPS sebaliknya. Entah apa faktor penyebab tersebarluasnya kesalahpahaman (atau kesesatan?) ini hingga begitu lama?

Apakah memang benar karena teori IQ yang mengukur kecerdasan hanya berdasarkan hafalan, logika matematika, nilai akademik, dan kognitifnya? Ataukah hanya karena terjadinya kesalahpahaman terhadap teori IQ itu sendiri? Saya tidak bisa pastikan, karena saya sendiri kurang begitu paham teori IQ ini. Lagi pula, saya sudah terlanjur tidak suka dengan teori ini.

Model penilaian kecerdasan seorang pelajar dari sisi akademik semata semakin kuat dengan dipatenkannya Ujian Nasional (UN, UNAS, Ebtanas) sebagai instrumen penentu kelulusan siswa. Padahal ada banyak aspek lain yang tidak masuk, terkafer oleh UN. Seorang pejabat negara, sekelas Wapres bernama Jeka termasuk yang bersikukuh dengan pemberlakukan UN ini. UN tidak boleh dihapuskan. Kalau dihapus akan semakin menjadikan pendidikan di Indonesia akan merosot, terpuruk, kata Jeka.

Doa banyak dipanjatkan dan protes banyak dilakukan oleh para praktisi juga pakar pendidikan. Namun tidak juga mengubah kebijakan. Protes dan kritik tidak dihiraukan. Padahal UN sudah banyak memakan korban. Memang, UN punya sisi positif, tapi sisi negatifnya lebih besar. UN mungkin tak ubahnya seperti minuman keras.haha

Hanya, memang belakangan ini akhirnya UN meski tetap dilaksanakan, tapi tidak menjadi instrumen penentu kelulusan. Ia sekedar sebagai salah satu alat ukur keberhasilan satuan pendidikan.

Ternyata, cukup dengan pandemi, tahun lalu UN tidak diberlakukan lagi. Anak-anak lulus semua dari SD, SMP dan SMA tanpa UN. Dan mulai tahun ini (2021) disosialisasikan asesmen nasional (AN) sebagai pengganti UN yang menakutkan itu. Harapannya, dengan AN ini siswa tidak lagi tertekan dengan penilaian akademik sebagai syarat kelulusannya. Kabarnya, AN mengukur sebatas mana satuan pendidikan memberikan pelayanan pendidikan kepada peserta didiknya, sehingga kualitasnya bisa lebih ditingkatkan.

Kalau kita flashback, sekitar tahun 2010-an, Kementerian Pendidikan sempat membuat kebijakan RSBI atau rintisan sekolah berbasis internasional. Karena menjanjikan secara materiil, banyak sekolah berlomba-lomba buka RSBI. Kebijakan ini pun mendapat banyak sorotan dan kritikan dari pakar pendidikan, karena menjadi sebuah pengkelasan pelajar berdasarkan kecerdasan akademik dan keuangan. Sebab RSBI biasanya lebih mahal dan hanya bisa dinikmati oleh kalangan berduit gede. Akhirnya, RSBI hilang ditelan zaman.

Alhasil, semoga iklim pendidikan di negeri ini semakin menyegarkan, pendidikan yang manusiawi dan membebaskan, memanusiakan manusia. Tidak ada manusia yang bodoh. Semua anak manusia adalah cerdas. Ini senada dengan kata Pak Yai Dachlan Salim Zarkasyi, Bapak TK Al-Quran, bahwa tidak ada anak yang bodoh. Yang ada, gurunya yang belum bisa mengajar, karena belum menguasai metode dan media pembelajaran.

Hal itu sebagaimana teori Multiple Intellegences (MI) atau kecerdasan majemuk yang dicetuskan oleh Howard Gardner. Menurutnya, semua anak cerdas. Kecerdasan itu tidak hanya dalam bidang matematika dan hafalan semata, tidak hanya bidang kognitif belaka. Setidaknya ada 8 atau lebih potensi kecerdasan setiap manusia, yaitu logis matematis, musikal, kinestenis-jasmani, linguistik, visual, interpersonal, intrapersonal, naturalis, spasial, eksistensial, spritual, dsb.

Artinya, anak yang cerdas bukan hanya yang pandai secara akademik apalagi sekadar pelajaran MTK atau hafal rumus-rumus Kimia. Pemain teater juga cerdas. Pemain musik, anak band juga cerdas. Petani juga cerdas. Yang pandai public speaking juga cerdas. Yang bisa mengendalikan diri dan mengenali bakatnya juga cerdas. Yang pandai bergaul juga cerdas. Yang bersikap baik juga cerdas. Yang pandai bernegosisi juga cerdas. Yang suka menulis juga cerdas. Pebisnis juga cerdas. Atlet atau olehragawan juga cerdas. Akhirnya, semua orang cerdas di bidangnya masing-masing.

Semua orang cerdas di bidangnya masing-masing

Jadi, instrumen penilaian yang hanya melihat satu sisi, yaitu akademik, apalagi hanya sisi kognitif saja, harus disudahi. Ada hal lain yang juga mendapatkan perhatian, yaitu sikap, proses dan kesungguhan. Memang sudah tepat jika semua pelajar diluluskan semua.

Yang terpenting, kita kenali sedini mungkin apa potensi peserta didik kita. Lalu kita maksimalkan dengan stimulus berupa latihan-latihan sesuai dengan minat dan kecenderungannya. Sehingga ia bisa melejitkan potensi kecerdasan yang dimilikinya itu, tanpa harus dirundung kesedihan dan malu karena tidak menguasai bidang yang tidak disukainya. Sehingga pada akhirnya ia akan menjadi seorang yang ahli atau terampil di bidang yang disukai dan menjadi hobinya. Wallalahu a’lam.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *