Oleh Eni Ratnawati

RumahBaca.id – Apa yang kau pikirkan saat mendengar kata pendidikan? Mereka bilang pendidikan itu penting, sepenting hidup itu sendiri. Mereka bilang pendidikan menentukan masa depan bangsa. Bangsa yang kuat dan hebat bertunas dari generasi muda yang terdidik. Abah dan Umi Maryam juga bilang begitu. Mereka mencintai profesi menjadi guru. Bangga menjadi pendidik.

Pendidikan itu mencerahkan,

menjadi pelita, warna,

melukislah!

Pendidikan itu menguatkan,

memberi cinta, percaya, tersenyumlah!

Pendidikan itu membebaskan,

memberi ruang, rasa,

menarilah!

Pendidikan itu menanamkan,

kebenaran, kejujuran, keadilan

terbanglah!

.

“Jadi, ibu yang akan menggantikan Bu Dewi selama beliau cuti?” tanya perempuan setengah baya itu ramah.

Maryam kembali ke kursi tamu, duduk dengan sedikit gugup. Perempuan yang kelak ia tahu bernama Ida itu mengulurkan tangan, melambaikan senyuman. Maryam pikir Bu Ida adalah kepala sekolah di Sabina. Namun rupanya Maryam salah.

“Bukan. Saya wakil beliau.” ucap Bu Ida santai. “Kebetulan Bu Ketua belum datang,” terang Bu Ida diikuti perhatiannya pada jam dinding di sudut ruangan. “tapi ibu tidak keberatan toh kalau saya yang menyambut kedatangan ibu?” candanya mengusir kekakuan Maryam.

Harap maklum kalau Maryam grogi. Guru baru tanpa pengalaman mengajar sebelumnya membuat Maryam ciut nyali. Dan lagi, siapa tidak tahu nama Sabina? Sekolah Dasar mentereng yang kata-katanya elite nomor wahid di Kota.

“Nah, kebetulan sekali.” mata Bu Ida berbinar. “Bu Ninah, perkenalkan ini Bu Maryam yang akan menjadi patner baru ibu menggantikan Bu Dewi selama beliau cuti.”

Maryam bangkit, mengulur tangan juga senyuman pada perempuan di sampingnya. Usianya sekitar tiga atau empat puluhan.

Maryam tersenyum optimis. Ia yakin segala urusannya akan berjalan lancar. Setidaknya begitulah yang Maryam sangka saat pertama bertemu orang-orang di Sabina. Tapi kesan itu tidak berlangsung lama, sebab kelak ia akan tahu, senyuman manis tak selalu berarti bahwa seseorang menerima atau menyukaimu bukan?

***

“Assalamu’alaikum.”

Suasana riuh kelas seketika hening. Kau tahu kenapa? Seorang murid datang terlambat setelah dua puluh  menit pertama pelajaran dimulai. Adakah yang salah dengan kata terlambat?! Iya, sebab Sabina tak mengenal istilah terlambat.

“Terlambat lagi?” Bu Ninah melotot. Ia bangkit dari kursinya, berjalan mendekati pintu. “Seminggu itu tujuh hari Amruu, dan kita sekolah enam hari. Tapi kamu terlambat hampir setiap hari.”

Murid-murid tertawa. Bu Ninah geleng-geleng kepala.

“Jadi bagaimana? Mau duduk atau berdiri saja di sana?”

Murid bernama Amru itu mengangkat wajah, menatap Bu Ninah dengan segan. Ia menunduk lagi semakin dalam setelah suara-suara keras siswa menyuruhnya tetap berdiri di luar.

“Kamu tahu Amru, ibu tidak punya pilihan. Berdiri di luar!”  

Bocah kelas tiga itu mundur teratur diiringi tawa seisi kelas. Maryam memperhatikan wajah melas itu. Sementara di dalam kelas, sebagian anak tampak cuek dan tak peduli pada kemalangan kawan mereka. Sebagian mengerut di kursinya, dan sebagian yang lain terkekeh menertawainya.

Apa pun bentuk ketidakdisiplinan yang dilakukan oleh siswa, Sabina telah memiliki solusi untuk menguarnya. Tidak jauh-jauh dari hukuman dan denda. Siswa yang tidak mengindahkan disiplin akan mendapat ganjaran yang setimpal.

Saat Maryam mempertanyakan perihal hukuman yang macam-macam itu pada Bu Ninah selaku wali kelas, sambil mengipas-kipasi wajahnya, Ibu cantik itu menjawab dengan indah:

“Salah satu visi dan misi Sabina adalah mencetak generasi unggul, berprinsip dan berkarakter. Ibu harus tahu itu!”

Oouwwwah, Maryam menggut-manggut mendengar jawabannya.

Karena itu pula jangan haru, halu apalagi heran saat Wakas di Sabina dengan tangkas menetapkan aneka aturan perihal pelanggaran tata-tertib. Terlambat datang piket, denda. Kuku panjang, denda. Membuang sampah di dalam kelas, denda. Membuang sampah di luar kelas bukan di dalam keranjang sampah, denda. Makan di dalam ruang kelas, denda. Rambut panjang melebihi batas ketentuan, denda. Sssstt, kecilkan suaramu! Kau tahu, bahkan banyak bicara di dalam kelas juga akan terkena denda.

“Pendapatan dari denda saja, satu semester itu bisa sampai tiga-lima juta loh.” Bu Ninah bercerita.

Maryam melongo.

“Terus uang itu buat apa, Bu?”

“Ya buat apa saja yang manfaat. Biasanya sih buat makan-makan atau jalan-jalan dengan anak-anak juga. Selebihnya masuk uang kas.”

“Bukannya nanti memberatkan siswa. Kan tidak semua siswa mampu membayar denda.”

Bu Ninah tak menjawab, ia memilih mengabaikan Maryam dengan raut mencemberut.

“Tapi bukannya uang kas sudah ada sendiri dari iuran mingguan anak?” tanya Maryam lagi.

“Iya, makanya tadi saya bilang, itu uang tambahan. Artinya Bu, uang itu di luar pendapatan kas. Kan kalau kas kita banyak kita juga yang senang. Dan lagi, yang mesti ibu tahu, sebenarnya orang tua murid juga kok yang mengusulkan denda dan kas kelas. Mereka akan malu kalau kas kelas anak-anak mereka jauh lebih sedikit dibanding kelas lain.” Bu Ninah tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.

Setelah penjelasan menarik tentang uang kas itu, dengan meletup-letup Bu Ninah menceritakan kehebatan wali murid kelasnya.

“Bapaknya Roland itu polisi loh, Bu. Kalau bundanya Amel sih dokter gigi. Terus yang kemarin bawa brownis itu bundanya Fawas, ituuu yang punya toko Adinda Brownies.” Bu Ninah semakin bersemangat. “Kalau mendekati lebaran nih Bu, parsel bertebaran di Sabina.” ekor mata Bu Ninah berbinar sempurna. Tapi Maryam melewatkan momen itu. Ia memikirkan Amru.

“Kalau Amru, Bu?” tanya Maryam didorong rasa penasaran.

Raut muka Bu Ninah berubah sepet. Perempuan itu mengangkat bahu sambil menelengkan kepalanya ke  sisi kiri.

“Kalau ditanya kenapa ibunya nggak pernah ikut jamaah Dhuha, Amru bilang ibunya kerja. Belum jelas juga apa kerjanya. Ibunya Amru juga selalu mangkir dari pertemuan rutin bulanan. Lama-lama kesel saya tuh!” dengusnya.

Maryam masih setia mendengarkan.

“Ohya!” Mata Bu Ninah membulat. “Untung ibu tanya soal Amru.” Bu Ninah mencari sesuatu di dalam map hijau miliknya. “Ini surat panggilan. Sudah yang ketiga kalinya loh.” ucapnya sambil mengibarkan amplop putih berlogo Sabina.

“Karena Amru sering terlambat?”

“Bukan atuh. Ini tuh teguran karena orang tua Amru mangkir dari agenda jamaah Dhuha, arisan, juga pertemuan bulanan.”

***

Hari itu hari yang melelahkan bagi Roland. Beberapa anak yang terkena denda atas bermacam pelanggaran enggan membayar. Roland, si ketua murid bertubuh subur tegap itu mulai berteriak.

“Yang nggak mau bayar akan kuadukan ke Bu Ninah. Rasain itu!” semprotnya.

Melihat Amru masuk ke dalam kelas, Roland semakin panas. Pasalnya, jika dihitung-hitung, utang denda Amru sudah setinggi tiang bendera sekolah mereka. Roland sebenarnya malas berurusan dengan anak dekil itu: seragamnya kusut, rambutnya tidak rapi, sepatunya butut, keringatnya kecut dan miskin lagi. Tapi jika dipikir-pikir, sebab Amru juga anak-anak yang lain mulai berisik. Mereka mulai berani bertingkah dan ogah bayar denda. Mereka mengikuti jejak si Dekil, pikir Roland sambil membayangkan mengokang senjata layaknya polisi dalam misi memberantas para bandit.

“Amru! Bayar uang kas!” Roland mendelik.

Amru menatap Roland sebentar lalu melanjutkan langkah menuju mejanya. Roland menyusul Amru dengan gusar.

“Gara-gara kamu mereka nggak mau bayar.” tegasnya.

Amru merogoh sesuatu di dalam tas. Sebuah plastik bening yang memperlihatkan sejumlah uang. Amru mengambil dua lembar sepuluh ribu dan menyerahkannya ke Roland. Tetapi rupanya dua lembar tidak cukup bagi Roland. Ia menarik paksa plastik dari tangan Amru.

“Kembalikan!” pinta Amru sengit.

Roland tak menggubris. Bocah yang bercita-cita menjadi penegak hukum itu terus berjalan meninggalkan Amru.

“Roland, kembalikan!” Amru menyerbu ke depan.

“Eits, ini punyaku. Apa yang sudah diberikan tidak bisa diambil lagi.” seringainya. “Coba ambil kalau bisa!” Roland tertawa puas melihat Amru melompat-lompat demi mendapatkan kembali plastiknya.

***

Maryam mengedarkan pandangan. Ruang tamu itu sesak dengan perabot kusam. Sebagian rusak dan sebagian lainnya tidak layak pakai. Satu-satunya barang mentereng yang tampak manis adalah sebuah kalender dinding yang sepertinya sengaja dipajang di tengah ruangan, yang memungkinkan si penghuni rumah menatapnya dengan penuh kebanggaan. Di sana, di kalender itu, tampak wajah-wajah manis sumringah para murid dan guru Sabina. Maryam tergerak untuk ikut mengintipnya.

Amru keluar dari bilik membawa nampan berisi segelas teh hangat. Ia meletakkan gelas di atas meja, menyungging senyum kepada gurunya lalu melesat cepat ke belakang.

“Saya minta maaf merepotkan ibu.” Ibu Amru menunduk. Berkali-kali perempuan itu meremas jemarinya sendiri dengan rikuh.

Maryam meyakinkan ibu Amru bahwa ia tidak merasa repot, justru Maryam senang bisa bersilaturrahmi dengan kelurga itu. Meski mungkin, ini adalah pertemuan pertama dan terakhirnya dengan ibu-anak itu.

Ada banyak tanya yang ingin Maryam ajukan sebenarnya, tapi itu tidak penting lagi sekarang. Setelah memberikan surat panggilan dari Sabina, Maryam memilih pamit diri. Di ambang pintu rumah itu, Maryam memeluk Amru. Segaris bening mengular di parit matanya yang sendu. Rangkaian doa ia rapal untuk kesalihan ibu-anak itu.

Sepeninggal Maryam, ibu membaca surat panggilan dari sekolah di samping bayinya yang sedang tertidur pulas. Wajah ibu murung. Sejenak pandangannya beralih pada mukena kusut yang tergantung di sudut. Ada perih yang samar merambati hati. Ia tidak bisa pura-pura acuh dengan tatapan mual ibu-ibu jamaah Dhuha terhadap dirinya dalam balutan mukena itu. Mukena itu satu-satunya mukena yang ia punyai. Mukena hadiah ulang tahun pernikahan dari almarhum ayah Amru. Mukena itu akan selalu istimewa di hati ibu. Tak terganti.

Lalu dengan cepat ibu membawa mukena kumal itu ke belakang.

Amru memungut amplop yang ditinggal begitu saja oleh ibunya di dekat gelas teh yang beberapa waktu lalu ia suguhkan. Amru membuka lipatan kertas itu dan mulai membaca kata perkata. Sejenak pandangannya mengeras. Bocah sembilan tahun itu lalu melipat kembali kertasnya dan memasukkannya ke dalam amplop. Ia beralih ke lemari di sudut ruangan, mengambil tas sekolahnya dan mengeluarkan sebuah kantung plastik. Semburat asa memancar dari dua mata polosnya.

“Dari mana uang itu?”

Amru terkejut bukan main. Ibunya berdiri di belakang punggungnya dengan tatapan menyelidik.

“Kamu dapat dari mana uang itu?” ulang ibu dengan suara tinggi.

“Gurumu bilang kamu sering datang terlambat. Kamu ke mana? Kenapa terlambat?”

Amru menunduk. Mulai gelisah. Ingatannya kembali pada omongan buruk teman-teman tentang ibunya.

“Abang, lihat Umma, Nak!”

Amru mendongak mencari wajah ibunya. Mata polos itu bersimbah air mata. Menyatakan rasa bersalah.

“Bilang sama Umma, kamu ke mana Nak? Uang itu kamu dapat dari mana?” Ibu bersimpuh di depan Amru, menggenggam jemari bocah lelakinya dengan hangat.

Tidak ada kata-kata terucap dari bibir Amru. Anak pertama dari dua bersaudara itu tak kuasa membendung derai air mata. Amru memeluk ibunya erat, seolah tak ingin siapa pun menyakiti perempuan ringkih itu.

“Abang, cerita sama Umma, Nak!” Ibu mengusap air mata Amru. “Abang tidak,” Rasa pahit tetiba meracuni tenggorokan. “Abang tidak mencuri kan?”

Amru menggeleng.

Ibu mengembuskan napas lega.

“Amru ikut Abang Amzah, Umma.” jawab Amru sambil terus menunduk.

“Abang Amzah belakang rumah?” Ibu terkejut. “Masya Allah Abaang! Abang mulung?”

Amru mengangguk.

“Jadi uang itu Abang dapat dari hasil mulung?”

“Iya, Umma. Umma jangam marah. Abang cuma pengen beli mukena baru buat Ummaa.” ucap Amru di sela isaknya.

Tangis ibu pecah. Lidahnya tak kuasa memulangkan kata-kata. Senja itu, air mata tumpah menjadi saksi tulusnya kasih yang meruah. (Tamat)

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

2 thoughts on “CERPEN: MUKENA UNTUK UMMA (Bag. 2)”
  1. Selalu suka dengan cerpen – cerpennya, apalagi yang ini menyentuh bangeeet ❤️❤️❤️❤️❤️

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *