Oleh Nurani Soyomukti, Pegiat Literasi, Tinggal di Trenggalek Jawa Timur

Sebut saja namanya Paijem. Dia adalah perempuan berumur 35 tahun yang bekerja di Hongkong. Belakangan ini saudara-saudarinya di rumah banyak menggosipkan perilaku Paijem yang tampak di media sosial. Paijem sering mengunggah foto-foto seksinya, bahkan kelihatan “lekek”-nya. Bahkan aksi Tiktok Paijem di “story” facebooknya juga jadi bahan gunjingan.


“Goyang mengundang birahi kayak gitu kok dipamer-pamerkan ke masyarakat banyak”, komentar Yu Markonah yang merupakan tetangga Paijem saat perempuan itu masih belum di luar negeri.

Bahkan Sayem, adik ipar Paijem yang rumahnya ada di belakang rumah ortu Paijem, juga berkomentar menanggapi, “Ya gitu itu lho Yu, yen wong saben wulan bayaran duit gedhe, malih lali sembarangane. Ngunu ki kok ora eleng wong tuwane wes gering-geringen kon ngopeni anake neng omah ditinggal pirang-pirang tahun.”


Jadi begini. Kita tak bisa menghakimi seperti itu. Kita harus melihatnya secara adil. Jangan dipandang sepihak. Jangan pula divonis dari kacamata moralisme sempit. Apalagi, saya percaya bahwa, moral bukanlah sebab. Moral adalah produk dari suatu kondisi dan keadaan.
Coba kita pikir sedalam-dalamnya. Apa sih yang salah dari bergaya hidup seperti joget-joget atau megal-megol dengan divideo lalu diposting di media sosial. Bukankah hal itu tidak melanggar undang-undang apapun. Mereka tidak melanggar undang-undang ITE. Mereka tak sedang melakukan “hate-speech” atau ujaran kebencian. Mereka tidak sedang mengobarkan sentiment SARA.

“Mereka mengumbar seks, mereka pamer bodi saja, postingan seperti itu merendahkan dirinya sendiri!”, mungkin kamu akan bilang begitu.

Wait! Tunggu dulu. Dari mana kamu yakin bahwa mereka sedang pamer tubuh? Kamu yakin apakah mereka punya motivasi seperti itu? Apakah dengan sadar mereka memamerkan tubuhnya itu atau justru mereka hanya sekedar mengisi waktu? Saya yakin mereka melakukannya karena mereka sedang mengisi waktu dan mengusir sepi pada saat mereka tidak punya teman di sana kecuali majikannya yang tinggal satu rumah. Bahkan majikannya kadang sudah tua dan sakit-sakitan, dan tak bisa diajak komunikasi.

“Bukankah mereka bisa telpon suaminya di rumah, bukan malah memamerkan tubuhnya megal-megol menggoda yang justru menggoda laki-laki yang melihatnya…”, mungkin kamu juga akan berkata seperti itu.

Tapi begini. Dari mana kamu tahu bahwa perempuan itu punya suami atau punya hubungan yang baik-baik saja dengan suaminya. Coba kamu cek yang detail dan benar. Jangan-jangan mereka adalah perempuan yang sudah cerai dengan suaminya atau sedang tak punya pacar.
“Lha iya, mereka bikin postingan menggoda, selalu menampilan wajah cantik dan seksi, pakai editan filter dan lain-lain, agar menggoda laki-laki agar mendekat dan memacarinya. Coba bagaimana jika lelaki yang mendekatinya adalah lelaki yang bersuami, bukankah akan menyebabkan perselingkuhan?”, mungkin kamu juga akan menanggapi seperti itu.

Loh, kan hak setiap orang untuk mencari pacar, atau mencari suami lagi. Itu hak dia. Hak dia juga mau mengisi waktu di luar kesibukannya kerja sebagai asisten rumah tangga di sana. Mereka memang butuh ekspresi dan aktualisasi diri. Ya kalau kamu tidak suka sebaiknya diingatkan saja.

Jangan hanya jadi bahan gosip karena tak ada gunanya. Kalau misalnya dia pas posting yang menurut kamu perlu dikomentari, ya komentari saja. Tapi kalau tak berani ya biarkan saja, anggap saja itu urusannya sendiri dan anggap dia punya hak untuk memperlakukan tubuhnya sendiri. Mau dia dianggap orang sebagai perempuan murahan, biar dia sendiri yang nanggung, bukan kamu. Mau dia kemudian di-messenger lelaki yang kemudian jadi teman akrab atau teman video call atau bahkan mau “phone-sex” sekalipun, itu juga urusan dia.

Misal dia kemudian dapat pacar lelaki setelah kenalan lewat media sosial dan kemudian saling berkomitmen untuk jadi teman akrab dan pacarana meskipun hanya kencan lewat smartphone, ya itu urusan dia. Toh jika pada akhirnya dia tertipu oleh lelaki yang dianggap sebagai pacarnya, ya dia yang nanggung.

Mungkin kamu akan berkomentar soal kisah itu, “Kapan hari memang ada seorang buruh migran perempuan di kampung saya, janda, ninggal anak di rumah sudah SMP. Dia kan kenal pria lewat facebook, lalu ya kencan-kencan gitu dech lewat HP. Lalu si perempuan percaya banget sama si Pria secara Si Pria pandai merayu mungkin ya. Si Pria memainkan kepercayaan itu untuk tujuan menipu agar dapat duit dari si perempuan buruh migran. Si Pria mengatakan bahwa ia akan menikahi si perempuan itu, setelah bekerja di Korea. Iapun merayu pacarnya itu agar dihutangi uang 40 juta. Rayuan itu berhasil membuat si perempuan buruh migran itu mengirimi duit yang diminta. Setelah ditransfer, ternyata Si Pria langsung putus kontak.”

Jadi begini, kasus-kasus seperti itu memang banyak sich. Tapi gimana ya? Kita memang kasihan kalau ada perempuan buruh migran yang tertipu lelaki. Tapi gimana ya? Kita hanya bisa kasihan. Sebenarnya kita punya hati yang tergerak untuk mengingatkan orang lain kalau orang lain kalau orang lain itu memang orang dekat kita yang kita harapkan ia memang hidup dengan aman dan tidak menjadi korban yang membuat dirinya sudah.

Memang harus kita akui sich. Saat ada tetangga atau saudara kita yang jadi buruh migran yang bertingkahlaku yang menurut kita kurang pas, kita saja juga enggan mengingatkan. Masalahnya rata-rata orang itu menganggap bahwa apa yang dilakukannya sudah benar dan selama tidak mengganggu kita kadang ya kita tak punya kepentingan untuk menyampaikan sesuatu padanya. Apalagi kalau hanya adanya fakta bahwa buruh migran yang merupakan tetangga kita sering memposting foto-foto atau video seksi yang seakan terkesan murahan.

Ya mungkin yang berhak atau yang berani mengingatkan adalah suaminya—itu pun kalau punya suami. Mungkin juga orang tuanya. Mungkin juga anaknya. Misalnya anaknya lewat Telfon bilang pada ibunya yang jadi buruh migran itu: “Buk, nyapo lho postinganmu kok mesti ndudohne susu karo lekek ki? Mbok ojo ngunu to Buk!”

Mungkin kamu sendiri yang punya banyak teman facebook perempuan buruh migran juga sering melihat postingan mereka seperti foto editan filter yang membuat mereka berwajah kinclong, kulit mulus, apalagi sebagian dadanya kelihatan, juga video sedang goyang-goyang ala Tiktok yang mengundang birahi.

Sebagai lelaki sekalipun, kita harus menghargai mereka dengan cara tidak melontarkan komentar seksis yang menganggap seakan mereka objek seks kita. Kalau memang sedang merasa mendapatkan kepuasan dengan foto-foto dan video-video seperti itu, tetap harus dianggap bahwa mereka punya hak untuk menentukan tubuhnya sendiri. Bukan menyalahkan bahwa mereka sedang merusak otak kita.

Kita juga perlu memikirkan kondisi mereka yang membutuhkan saluran untuk mengungkapkan dirinya dan mencari ruang untuk bisa eksis. Mereka jauh dari keluarganya, ayah dan ibunya (kalau masih punya), suaminya (kalau belum cerai dan masih berhubungan), anaknya, dan lain-lain. Mereka jelas kesepian. Setelah mengerjakan tugas sebagai asisten rumah tangga, saatnya mereka masuk ke kamarnya, memainkan HP-nya, memilih baju terbaik dan memainkan smartphone-nya yang lebih mahal daripada HP-mu. Yang mungkin kemampuan filternya juga luar biasa.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *