Oleh Masyhari

Isra dan Mi’raj ini berat masuk di nalar. Akalku gak nyandak. Karena Isra dan Mi’raj ini kisah Nabi dan Al-Quran, ya kita cukup yakin dan beriman saja.

Kenapa bisa begitu?

Kalau coba dipikir, perjalanan isra segitu jauhnya, dari masjid al-Haram di Mekah menuju masjid al-Aqsha di Quds Palestina dalam waktu sebentar saja dari semalam. Kalau pakai nalar normal durasi waktu dunia, angel, gak bakal masuk nalar manusia normal.

Belum lagi mi’raj, yang menurut kabar yang beredar, itu Nabi saw naik ke atas langit dunia, hingga langit ketujuh. Di lapis-lapis langit itu, beliau ketemu para nabi dan melihat berbagai gambaran surga dan neraka. Di langit ketujuh, dikabarkan beliau bertemu Allah swt.

Nah, di sini, jika kita punya gambaran semacam itu, klop sudahlah dengan akidah kalangan Salafy-Wahaby, bahwa katanya Allah ada di langit. Di sana Dia berada di singgasana bernama Arasy, dan seterusnya.

Alhasil, langit dengan berbagai lapisan dan ceritanya cukup kita percaya saja. Sementara hakikat langit dan posisinya berada di mana, kita tak tahu dan pasrahkan saja. Adakah langit itu di atas nun jauh di sana ataukah sebenarnya dekat, hanya berbeda dimensi saja, ini kita pasrahkan saja.

Bagaimana pula proses perjalanan Nabi yang dikabarkan naik kendaraan sebentuk kuda bernama Buraq yang bergerak secepat kilat? Ya, sulit pula dinalar, bagaimana gambarannya. Apakah naik ke langit ataukah hanya berpindah dimensi saja? Langit ini bisa dilihat dan ditapaki seperti langit film Sun Gokong atau bagaimana? Tentu wallahu a’lam jawabnya.

Adakah surga dan neraka yang ada di akhirat itu juga adanya di langit yang itu juga? Nah, makin bingung jadinya.

Intinya, banyak hal gaib dalam agama yang sulit masuk nalar dan panca indera manusia, tapi harus dipercaya adanya, sebab inilah ciri orang yang bertakwa. Soal bagaimana hakikatnya, tentu aku ya gak tahu, karena panca indera manusia terbatas kemampuannya.

Makanya, jika kita kaitkan dengan perdebatan antara kalangan Asy’ariyah dan Wahabi, soal sifat dan perbuatan Allah, kita bisa ambil kesimpulan: Yang penting dalam beragama Islam itu yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Soal hakikat sifat dan bagaimananya itu, kita pasrahkan kepada-Nya. Boleh pula kita berbeda pendapat soal hakikat-Nya, karena nyatanya kita semua belum pernah bertemu langsung dengan-Nya.

Yang terpenting dalam beragama adalah cukup percaya saja dan beramal salih kepada alam semesta.

Nah, kembali ke soal isra dan mi’raj, memang ada beda pandangan di kalangan salaf, para sahabat Nabi saw. Pandangan pertama, dan inilah sikap yang menurutku paling selamat. Ialah sikap sahabat Abu Bakr ash Shiddiq. Beliau cukup percaya saja. Soal hakikatnya, bukan urusan manusia. Karena itu, beliau dapat julukan ash Shiddiq, orang yang amat mempercayai peristiwa isra dan mi’raj.

Kedua, yaitu percaya, tapi yakin bahwa yang diperjalankan hanya ruh Nabi saw saja. Sedangkan tubuh fisik beliau tidak ikutan.

Ketiga, sebagaimana sebelumnya, ya percaya dan yakin bahwa yang diperjalankan adalah jasad dan ruh beliau.

Bagaimanapun hakikatnya, isra dan mi’raj adalah nyata dan kita harus meyakininya, sebagai seorang Muslim. Soal bagaimana gambaran sejatinya, mana kutahu?! Wallahu a’lam. Kalau mau tahu yang sejatinya, nanti saja kita tanyakan di akhirat sama beliau langsung, bila ketemu. Amiin.

27 Rajab 1443 H
28 Februari/ 1 Maret 2022 M

Bagikan tulisan ke:
5 thoughts on “Hakikat Isra’ dan Mi’raj”

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id