Hikmah di Balik Banyaknya Peristiwa Kematian

Oleh Masyhari, Lc., M.H.I

Rumah Baca – Belakangan ini hampir setiap hari terdengar kabar kematian orang-orang di sekeliling kita, tetangga, sanak, saudara, kawan, hingga kawannya kawan. Bisa jadi sebab terinfeksi Covid-19 yang dianggap sebagai pandemi yang sedang melanda dunia, bisa pula oleh sebab lainnya.

Memang, kabar ini begitu menyedihkan bagi kita semua, membuat kita semua pilu. Apa lagi dari sekian banyak angka kematian ada sederet nama para kiai, ulama besar, orang-orang saleh yang menjadi panutan kita. Mereka adalah para paku bumi. Dalam kata mutiara Arab dikatakan, “Mautul ‘alim mautul ‘alam.” (Kematian seorang alim adalah kematian dunia). Jika satu orang alim saja bikin kematian dunia, bagaimana bila hampir setiap hari ada sekian banyak ulama gugur?

Kita berdoa, semoga arwah mereka mendapatkan limpahan rahmat dan ampunan dari Allah swt, dicatat gugur dalam keadaan husnul khatimah, dan keluarga diberikan ketabahan dan kesabaran menghadapi cobaan ini.

Selain itu, ada pula satu hadis Nabi Muhammad saw yang menyatakan bahwa kematian para ulama merupakan media pencabutan ilmu dari dunia. Lantas, muncullah orang-orang bodoh yang bicara tentang sesuatu, bahkan berfatwa tanpa dilandasi ilmu. Na’udzubillah min dzalik. Meskipun hal ini secara empiris kini sudah terjadi. Banyak orang bisa berbicara apa saja di media sosial berbasis digital. Orang bilang, ini adalah era hilangnya kepakaran.

Lantas, apa kira-kira hikmah di balik banyaknya peristiwa kematian saat ini?

Kalau kita renungkan, ada sejumlah hikmah yang bisa kita petik dari banyaknya kematian yang terjadi saat ini, peristiwa duka bagi kita semua. Karena apa pun yang terjadi, seorang yang beriman harus bisa menerimanya sebagai takdir, selain hanya bisa berusaha dengan tindakan preventif (pencegahan) dan pengobatan, serta meyakini bahwa di balik setiap kejadian, suka ataupun duka, pasti ada hikmah dan kebaikan. Ini bagian dari iman terhadap qada dan qadar, satu rukun dalam agama Islam yang harus diyakini. Apa sajakah hikmah itu?

Bencana Kematian sebagai Solusi Pengurangan Kepadatan Penduduk Bumi

Menurut data statistik kependudukan dunia, termasuk Indonesia tentunya, angka kelahiran bergerak naik luar biasa tajam. Saya memang belum mengecek angka pastinya. Tapi, kita beberapa tahun dan bulan belakangan, hampir setiap hari, bahkan bisa jadi setiap jam dan menit ada kelahiran di dunia ini. Jadi, angka yang ada akan terus bergerak, dan jumlahnya masih berada jauh di atas angka kematian. Mungkinkah WfH ikut menyumbang kondisi ini, di mana produktifitas biologis makin meningkat? Wallahu a’lam.

Dan, kita semua tahu satu informasi bahwa saat ini kita dapat bonus demografi dengan jumlah penduduk usia remaja (Gen-Z), generasi milenial terbanyak.

Ketika angka kelahiran bergerak begitu cepat, kepadatan penduduk jadi tak terelakkan. Bila kelahiran tidak diimbangi dengan kematian, mungkin bumi ini tidak lagi kuat menopang. Ini bisa mengancam kondisi dunia. Wallahu a’lam.

Kematian memang sebuah musibah dan ujian bagi keluarga dan sahabat yang ditinggalkan. Akan tetapi di dalamnya terdapat hikmah bila kita renungkan. Nah, kasus kematian dengan sebab individual seperti karena penyakit yang tidak menular, kecelakaan, dan lain sebagainya bisa jadi tidak bisa berperan signifikan untuk mengimbangi angka kelahiran yang begitu besar. Maka, jalan satu-satunya, Allah ciptakan bencana.

Terdapat banyak bencana yang terjadi di bumi in. Ada bencana alam dan nonalam. Bencana alam bisa berupa banjir, tsunami, gempa bumi, gunung meletus, dan lain sebagainya. Bencana nonalam bisa berupa merebaknya wabah penyakit atau virus dalam skala besar, semisal thaun, malaria, DBD, tuberkolosis (tbc), covid-19 yang terjadi saat ini, dan lain sebagainya. Bencana alam, dengan berbagai bentuk dan modelnya, bisa mengurangi jumlah penduduk dunia secara massif, dalam jumlah banyak secara bersamaan atau dalam waktu berdekatan.

Alhasil, bencana apa pun yang akibatkan korban nyawa dalam jumlah besar, bagian dari media bagi keseimbangan dunia. Ada kelahiran, harus ada kematian. Ini sebuah keniscayaan. Bukan berarti kita pasrah pada keadaan. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha sebatas kemampuan, tetap melakukan tindakan preventif semaksimal mungkin. Selanjutnya, kita pasrahkan. Karena kematian bagian dari skenario dan rahasia Tuhan. Mau tidak mau harus kita terima secara lapang dada. Kita harus sabar dan tabah menghadapi kenyataan.[]

Bagikan tulisan ke:

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

You may also like...

3 Responses

  1. L13zee says:

    Thanks… Sangat memcerahkan….

  2. L13zee says:

    Thanks… Sangat mencerahkan….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RumahBaca.id