Hubungan antara Syariah, Fikih & Ushul Fiqh

Oleh Siti Qowiyah Jamil Qomala*)

Hukum merupakan suatu aturan yang sifatnya mengikat. Di dalam khazanah Islam terdapat istilah hukum Islam. Hukum Islam merupakan hukum yang yang ada dalam agama Islam. Hukum Islam biasa disebut dengan syari’ah. Tentunya bagi umat muslim sudah familiar dengan istilah syari’ah, karena memang pada saat ini banyak lembaga-lembaga yang mengikut sertakan kata syari’ah pada nama lembaganya seperti bank syariah, pegadaian syariah dan masih banyak lagi.

Kata syari’ah berasal dari kata syara’a yang artinya menjelaskan. Dilihat dari segi ilmu hukum syari’ah berarti norma hukum dasar yang telah ditetapkan oleh Allah yang wajib diikuti oleh umat Islam berdasarkan iman yang berkaitan dengan akhlak, baik yang berkaitan dalam hubungannya dengan Allah maupun dengan sesama manusia.

Norma hukum dasar tersebut secara rinci dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW. Karena itu syari’at ini terdapat di dalam al-Qur’an dan di dalam kitab-kitab hadist. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa syari’ah merupakan wahyu Allah (al-Qur’an) dan sunnah-sunnah Nabi Muhammad SAW.

Dalam menjalankan kehidupan di dunia ini khususnya kita sebagai umat muslim hendaknya hidup dengan selalu memperhatikan dan sesuai syari’at Islam yang telah ditentukan. Apabila keluar dari syari’at, maka kehidupan yang dijalani terasa sia-sia.

Di samping syari’ah, terdapat pula istilah Fikih. Fikih secara bahasa berarti al-fahm yang artinya pemahaman. Secara istilah fikih merupakan pengetahuan yang dihasilkan dari sejumlah hukum syariat yang bersifat cabang dan digunakan untuk mengatur amal perbuatan dan bukan digunakan sebagai landasan dalam masalah akidah. Secara singkat fikih berarti produk hukum yang dihasilkan, di dalamnya terdapat pemikiran-pemikiran para ulama mazhab.

Ilmu fikih mengatur hukum-hukum syariat. Terdapat beberapa topik pembahasan yang dibahas dalam ilmu fikih seperti tata cara ibadah, yang disebut dengan fikih ibadah. Fikih yang mengatur tata cara jual beli dan transaksi akad disebut sebagai fikih muamalah.

Selain itu, terdapat pula istilah ushul fiqh. Ushul fiqh merupakan asal-usul fiqh. Secara istilah ushul fiqh merupakan ilmu yang membicarakan berbagai ketentuan dan kaidah yang dapat digunakan dalam menggali dan merumuskan hukum syariat islam dari sumbernya. Secara singkat dapat dikatakan bahwasannya ushul fiqh ini merupakan suatu cara yang dilakukan oleh para ulama mazhab secara sungguh-sungguh dalam menghasilkan produk hukum yang dinamakan dengan fikih.

Hubungan antara syariah dengan fikih diibaratkan syariah itu sebagai bahan atau dasar dalam menghasilkan fikih. Sedangkan ushul fikih merupakan suatu alat atau cara untuk menghasilkan produk fikih tersebut. Artinya ketiganya saling berkaitan.

Pertanyaan sekarang, manakah yang lebih dulu: fikih ataukah ushul fiqh?

Secara proses pembentukan, ushul fiqh tentunya yang lebih dulu daripada fikih. Namun apabila dilihat dari sisi mana yang lebih dulu dipelajari, maka jawabannya yaitu fikih dulu, baru ushul fiqh. Mengapa demikian? Sebagai orang Islam sudah seharusnya kita mengetahui dan memahami fikih karena setiap aktivitas yang dilakukan selalu berkaitan dengan fikih. Tidak mungkin seseorang akan belajar ushul fiqh, tanpa belajar fikih terlebih dahulu.

Terdapat beberapa perbedaan antara syariah dengan fikih. Perbedaan tersebut di antaranya yaitu syariah terdapat dalam al-Qur’an dan Sunnah, sedangkan fikih merupakan pemahaman manusia yang memenuhi syarat-syarat berijtihad tentang syariat.

Selanjutnya, syariah bersifat fundamental dan memiliki ruang lingkup yang luas. Sedangkan fiqh bersifat instrumental dan ruang lingkupnya lebih terbatas. Syari’ah merupakan ketentuan dari Allah dan Rasulullah. Sedangkan fikih berasal dari pemikiran dan pemahaman manusia terhadap syari’ah.

Adapun tujuan dari syariah, fikih dan ushul fiqh di antaranya yakni syariah bertujuan untuk menunjukkan bahwa nilai-nilai ajaran dan ketentuan Allah lebih lebih tinggi dibandingkan pemikiran manusia, bertujuan untuk mempersatukan pandangan hidup dan perbuatan manusia, serta untuk kesejahteraan dan kemaslahatan manusia.

Di samping itu tujuan fikih adalah untuk menerapkan hukum syariat terhadap perbuatan dan ucapan manusia, untuk mencari kebiasaan faham dan pengertian dari agama Islam, mempelajari hukum Islam yang berkaitan dengan kehidupan manusia, dan menuntun manusia menuju kebaikan.

Ushul fiqh bertujuan untuk mengetahui dasar-dasar dalam berdalil yang dapat membedakan mana dalil yang benar dan yang palsu. Dengannya kita mengetahui cara berdalil yang benar, sebab pada zaman sekarang ini banyak yang berdalil dengan cara yang salah. Dengan belajar ushul fiqh kita dapat mengetahui sebab-sebab terjadinya perselisihan pendapat di antara para ulama dan juga apa alasan mereka berselisih.

Berdasarkan hal tersebut sebagai seorang muslim, hendaknya kita mengetahui istilah-istilah tersebut dan diharapkan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari contoh implementasinya yakni mencari rezeki dengan cara yang halal, melaksanakan ibadah sesuai dengan syariat Islam, serta melakukan aktivitas dengan memperhatikan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan menurut syariat. Wallahu a’lam.

*) Mahasiswa Jurusan Hukum Ekonomi Syariah IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Bagikan tulisan ke:

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RumahBaca.id