Oleh Eni Ratnawati*)

Pada getar yang pernah menjalari hati, kautitip samar sebentuk pendar pada rasa yang nyaris mati

Di sini, kulipat rinduku di dermaga hati nan sepi. Saat pukau atas seberkas senyum retas di sebuah subuh berelegi

Dan langit memintal jelaga tanpa jeda. Bersama dedaunan maple, kuluruh rindu kala kutitip rasa atas cinta yang patah

Pada hujan musim lalu aku berduka. Saat rintik dan ritmis menyulam bumi dengan gigil getarnya

Mungkin bayu ingin kabarkan rindu, seperti pelangi yang mengabut di bening kejoramu

Kutitip salam pada rasa yang entah. Berharap siang gugurkan ingatan akan pilu hati yang mendera

Lalu senja menjamu hadirmu, persis saat hujan bertandang dan lamunan mengambang di beranda kalbu

Dan dingin menguak rahasia hati semesta, memulung tutur yang kian getas serupa kapur dalam ratap riap dedoa

Kepada biru kutitip beledu hatiku. Melupa sakit, untuk kembali menggenggam erat tanganmu

Senja merangkum cerita di pucuk asa yang pupus, tentang aku, kau, hujan dan kenangan yang tersamar di bulan Februus

Griya Alima, 9 Februari 2021

*) Eni Ratnawati, pegiat literasi di UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

*) Mahasiswi Program Studi Ekonomi Syariah IAI Cirebon

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *