0 0
Read Time:4 Minute, 0 Second

Penulis: Ari Yoseva*)

ABC news Australia melansir sebuah berita terkait alasan di balik keberhasilan Finlandia dalam bidang pendidikan. Semua itu adalah karena semua pendidiknya memiliki visi (pandangan) yang sama tentang bagaimana pendidikan yang seharusnya. Begitu juga dengan sekolah-sekolah di sana. Mereka “tahu” benar apa yang mereka lakukan pada para siswanya. Sekolah dan guru bergerak bersama dan membiarkan para siswa menemukan sendiri bidang apa yang menarik minat mereka, dan mereka mampu menemukan motivasi untuk terus belajar, karena itu menarik minat mereka. Jadi, mereka akan belajar dengan senang hati, bukan karena paksaan. Ini merupakan pemikiran yang sangat unik dalam menjalankan sistem pendidikan.

Berikutnya, satu hal lagi yang dilakukan negara ini dalam pendidikan yang tidak dilakukan di negara kita adalah dalam pelaksanaan ujian. Hasil ujian hanya akan dijadikan dokumen rahasia yang hanya boleh diketahui negara.

Saya rasa ini merupakan langkah yang sangat tepat dan cerdas. Karena, dengan membiarkan siswa tahu hasil ujiannya akan berdampak buruk bagi mereka, baik secara emosional dan intelektual.

Begini argumentasinya. Ketika mereka melihat hasil ujiannya bagus, mereka akan mengagungkan hasil itu dan cepat merasa puas dengan dirinya. Ia pun akan terhenti belajar. Di sisi lain, jika hasilnya buruk, maka akan lebih berdampak negatif pada emosi mereka. Mereka akan terus bersedih dan menyesali diri mereka dan juga akan menghentikan motivasi mereka untuk belajar. Mereka akan kehilangan kepercayaan diri dan secara tidak langsung akan membuat mereka malas untuk belajar lagi.

Jadi, menurut saya, pendidikan harus direncanakan sedemikian rupa untuk membuat ketertarikan, rasa ingin tahu, dan memotivasi diri siswa. Bukannya memberi ceramah (bukan ceramah dalam artian agama ya gaes! Tapi metode mengajar) dan penjelasan yang akan membuat siswa merasa bosan.

Jadi, siswa sejak dini digerakkan atau diarahkan untuk menemukan sendiri ketertarikan pada belajar dari dalam dirinya. Kemampuan ini dengan sendirinya akan terus berkembang sejalan dengan pertumbuhan mereka. Apa pun ketertarikan (interest) mereka, mereka tidak akan dihakimi oleh siapa pun, tidak oleh orang tuanya atau gurunya. Karena disadari atau tidak, mereka akan menjalani hidup dengan interest ini. Dan mereka harus bisa bertahan hidup dengan kemampuan mereka yang juga menjadi interest dan passion mereka. Jadi, akan baik bagi mereka untuk mendapatkan support penuh dari orang-orang terdekatnya. Dukungan ini akan mampu meyakinkan mereka bahwa apa yang mereka lakukan atau minati ini, memiliki nilai yang penting dalam hidup.

Dan saya rasa, setiap anak memiliki insting yang kuat untuk bertahan hidup secara mandiri. Begitu pun anak-anak di Indonesia. Hanya saja, perbedaannya pada dukungan dan ruang gerak yang terbatas. Dan secara tidak langsung, hal ini akan membunuh atau menghilangkan secara perlahan apa yang menjadi passion dan interest mereka dalam belajar menemukan “kebenaran” dan “makna”.

Sebagai contoh sederhana, seorang ibu di Indonesia akan merasa khawatir ketika anaknya mulai belajar berjalan. Karena sang ibu tahu bahwa ada peluang bagi si anak untuk jatuh. Peluang yang sama juga diberikan dalam menjalani hidup ini. Dan saya rasa itu bukanlah masalah yang berarti. Dua-duanya akan bermanfaat bagi si anak. Anda tahu kenapa?

Pilihan pertama, jika mereka berhasil jalan tanpa jatuh. Maka itu bagus, kan? Tidak perlu ada penjelasan, titik.

Pilihan kedua, jika mereka jalan kemudian jatuh. Tidak ada buruknya juga. Mereka bisa mulai berdiri lagi, dan mulai mencoba berjalan lagi sampai mereka berhasil. Itulah proses yang juga akan berlaku dalam hidup. Kesuksesan akan selalu ada menanti kita di ujung jalan sana. Hanya perlu menunggu waktu bagi kita untuk mencapainya. Sekarang atau nanti, kesuksesan itu di sana menanti kita. Dan ini merupakan filosofi hidup yang saya rasa harus dipahami semua orang. Terkadang its okay untuk jatuh, agar kita bisa merasakan manisnya keberhasilan. Jatuh juga merupakan salah satu tahap untuk bisa berjalan. Itu indikasi agar kita menempatkan motivasi lebih untuk tetap berjuang.

Manfaat dan hikmah dari tahap “tambahan” ini memberikan kita pelajaran berharga “tambahan” pula, yang tidak mungkin diketahui oleh mereka yang tidak pernah merasakan “jatuh”. Selalu ada pelajaran yang berharga dari setiap bagian hidup kita. Kita harusnya memiliki pandangan ini dalam mengasuh dan membesarkan anak-anak. Memanjakan anak tidak akan membantu mereka, tapi kita.

Kita lah yang takut mereka jatuh,
Kita lah yang takut mereka gagal ujian,
Kita pula yang takut mereka gagal dalam bisnis, dsb.

Lihat bagaimana kalimat-kalimat tersebut hanya berorientasi pada kita sebagai orang dewasa, bukan mereka. Mereka belum mengerti apa itu takut, cemas, gelisah dan semua perasaan negatif lainnya. Lalu, kenapa kita harus mengenalkan perasaaan-perasaan negatif itu kepada mereka? Kenapa tidak kita perkenalkan mereka pada perasaan-perasaan yang positif saja. Seperti minat, motivasi, bakat dan masih banyak lagi perasaan positif lainnya. Karena itulah yang seharusnya kita ajarkan jika ingin mereka menjadi sosok yang positif, bukan? Bukannya malah sebaliknya.

Dan masa depan pendidikan kita, berada di tangan kita. Semua bergantung pada bagaimana kita mau mengolahnya. Jika Finlandia bisa, kenapa kita tidak?

Mari jadi perintis sistem pendidikan Indonesia yang lebih baik. Salam literasi.

*) Penulis merupakan mahasiswi Prodi PAI IAI Cirebon dan aktif di UKM Sahabat Literasi

About Post Author

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id