Oleh Anton Raj Malhotra, Pegiat Literasi UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Tulisanku kali ini akan membahas tentang tanah kelahiranku. Kalau berbicara tradisi di kampungku, hampir sama dengan apa yang telah ditulis dan dibahas oleh kebanyakan sahabat literasi lainnya. Kali ini aku tidak akan menulis sesuatu yang sudah pernah dibahas sebelumnya, untuk menghindari rasa jenuh dan bosan para pembaca.

Aku beri tahu, di Cirebon ada sebuah kampung yang tak pernah tidur. Namanya kampung Kepudang di Kedungdawa, sebuah desa di Jawa Barat.

Aku harap semoga tulisan ini memberi tambahan informasi bagi pembaca semua, sehingga mendapatkan wawasan baru. Yuk, langsung saja simak tulisanku.

Aku terlahir di sebuah desa yang bernama Kedungdawa, tepatnya di Blok Kepudang RT 004 RW 003, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon. Meskipun secara administrasi kependudukan masuk wilayah Kabupaten, namun sekarang untuk wilayah hukumnya sudah masuk wilayah Polres Cirebon Kota.

Kampung Kepudang dikelilingi oleh sungai dari segala penjuru mata angin, baik itu Timur, Barat, Utara, maupun Selatan. Apabila ingin memasuki wilayah Blok Kepudang kita harus melewati jembatan. Walaupun begitu, masih mending sekarang ini, karena jembatannya sudah bagus, jika dibandingkan dulu. Sebelumnya, jembatan di kampungku terbuat dari kayu. Kalau melihat ke bawah dari atas jembatan terasa lumayan mengerikan, karena di bawahnya jurang yang cukup dalam dan curam.

Bagi sahabat yang belum tahu, Blok Kepudang letaknya berada di dekat dengan kantor Imigrasi Cirebon, dan kantor Imigrasi termasuk dalam wilayah Desa Kedungdawa. Selain dekat dengan Kantor Imigrasi, Desa Kedungdawa juga dekat dengan kantor Kecamatan Kedawung.

Masyarakat Blok Kepudang sebagian besar bermata pencaharian sebagai pencari (dan pembeli) buah-buahan, khususnya buah mangga. Mereka berkeliling dari kampung satu ke kampung lainnya untuk mencari buah mangga. Apabila di rumah sahabat ada pohon mangga yang berbuah, lalu pernah ada yang menawar, kemungkinan besar orang itu berasal dari kampungku.

Sisi lain dari Blok Kepudang yaitu Kampung yang seperti Jakarta, tak pernah tidur. Ini karena hampir 24 Jam selalu ada orang yang beraktivitas. Di tengah malam pun biasanya masih ada yang bekerja di rumah atau pangkalan bos buah. Selain itu, di tengah malam kadang masih ada saja pemuda yang berkumpul di pinggir jalan. Apalagi kalau bulan Ramadan, di Kampung Kepudang, tengah malam pun masih ramai.

Masyarakat Blok kepudang termasuk suka beli jajan. Pedagang apa aja yang berkeliling di Blok Kepudang bisa dipastikan laku. Selain suka jajan, masyarakatnya juga suka traveling (jalan-jalan). Ini misalnya bisa dilihat, kalau ada bus odong-odong masuk ke Kepudang, pasti banyak yang naik. Tapi saranku buat tukang odong-odong, agar jangan terlalu sering masuk ke kampungku. Ya, minimal 2 atau 3 kali saja dalam seminggu, sebab kalau tiap hari datang, siap-siap saja bakal kena tegur warga kampung, entah bapak-bapak atau Ibu-ibu.

Masyarakat Blok Kepudang itu sedikit menganut sistem kebebasan. Dulu, waktu masih bergelut di dunia musik, aku sering bikin lagu tengah malam. Kadang sendiri, kadang dengan teman-teman grup band. Sekalipun kami main gitar atau bernyanyi dengan keras, tidak ada masyarakat yang menegur. Mungkin, masyarakat sudah terbiasa dengan suara keras atau berisik. Sistem kebebasan semacam itu pun masih berlaku hingga sekarang. Tengah malam orang mau putar musik dengan keras pun tidak masalah. Apalagi kalau putar musiknya karena memang sedang punya hajatan atau walimah.

Masyarakat kampung Kepudang -Alhamdulillah- masih suka bergotong-royong. Bila ada warga yang ingin bangun rumah, biasanya berkeliling ke rumah-rumah tetangga dekat untuk memberi kabar dan meminta bantuan untuk ikut bantu bangun rumah. Maka, masyarakat yang didatangi itu akan ikut membantu bangun rumah, meski tanpa dibayar. Mereka biasanya hanya dikasih makan di tempat, serta dikirimi makanan sepiring atau dua piring ke rumah masing-masing.

Pandangan serupa juga terjadi ketika proses pembangunan masjid baru di kampung Kepudang. Masyarakat, khususnya kaum pria, bergotong-royong bergiliran hari untuk ikut membangun masjid. Tak ketinggalan, kaum perempuan, ibu-ibu juga membantu dengan berbondong-bondong mengirim masakan untuk para pekerja. Sehingga, hampir setiap hari selalu ada makanan untuk para pekerja yang tersedia. Panitia pembangunan pun tidak perlu mengeluarkan dana khusus untuk konsumsi para pekerja bangunan.

Kurang lebih seperti itulah Kepudang, kampung halamanku yang selalu kucinta. Terima kasih kepada Sahabat Literasi yang sudah membaca seluruh tulisanku. Semoga sukses selalu. Aamiin.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *