Oleh Adil Nugrah Laksono, Mahasiswa Jurusan Ekonomi Syari’ah IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Sejak zaman Rasulullah SAW masjid bukan sekadar dijadikan tempat beribadah saja. Saat itu, masjid juga menjadi tempat menyelesaikan segala permasalahan sosial, ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya. Bahkan ketika kita menelisik pada zaman para Wali Songo, dalam penyebaran agama Islam ke tanah Jawa, masjid tidak hanya dijadikan tempat beribadah saja. Masjid juga dijadikan tempat bermusyawarah dalam menyelesaikan permasalahan umat dan tempat bagi para santri untuk belajar.

Hal itu menunjukan bahwasannya masjid sebenarnya tempat multifungsi bagi kemaslahatan umat, sesuatu yang kini jarang kita temui di masjid-masjid di Indonesia. Kebanyakan masjid seperti kehilangan marwahnya sebagai tempat multifungsi bagi kemashlatan umat.

Di daerah Kota Cirebon, tepatnya di kampung Kesunean Tengah Kelurahan Kesepuhan, ada sebuah masjid yang menarik perhatian, ialah masjid Hidayatullah. Sejak tahun 2012 sampai sekarang, masjid ini berperan yang signifikan dalam memainkan peran dalam peningkatan perekonomian warga sekitar. Tidak hanya digunakan sebagai sarana beribadah saja, masjid Hidayatullah juga memiliki beberapa kegiatan dalam bidang pendidikan.

Masjid Hidayatullah digunakan sebagai pusat pendidikan khususnya di wilayah Kelurahan Kasepuhan. Lembaga pendidikan di sini bernama Majelis Taklim al-Bayyinah yang diasuh oleh Ustaz Dodi Subkhi, S.Hum yang merupakan pengelola masjid Hidayatullah. Hingga saat ini (2021), jumlah santri yang aktif mengikuti pengajian di Majelis taklim tersebut sebanyak 184.

Masjid ini tumbuh karena memiliki pengelolaan manajemen masjid yang baik, sehingga masjid ini tetap eksis sampai saat ini sebagai pusat pendidikan belajar al-Qur’an dan kitab-kitab pesantren.

“Alhamdulillah hadirnya pusat pendidikan di masjid Hidayatullah Kasepuhan ini memberikan dampak yang luar biasa, terutama di bidang ekonomi, bagi masyarakat yang berada di sekitar masjid,” ungkap Ustaz Dodi Subkhi di salah satu pengajiannya.

Lebih lanjut, Ustaz Dodi Subki menuturkan, dengan adanya pengajian di masjid dan banyaknya santri berdatangan ke masjid, banyak transaksi jual-beli di warung atau pedagang yang merupakan warga sekitar masjid. Secara otomatis, ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar masjid.

Hal tersebut belum lagi ketika sore tiba, banyak sekali pedagang yang berdatangan di depan masjid Hidayatullah. Setidaknya ada sekitar 7 pedagang dan 5 warung warga yang terkena dampak positifnya. Sebelum masuk waktu mengaji, yaitu pukul 17.20 WIB, biasanya anak-anak sembari menunggu waktu ngaji, mereka jajan ke warung atau pedagang yang mangkal di sekitar tersebut, sekadar untuk mengisi perut.

Adanya pengajian tidak hanya berdampak pada sektor pendidikan yang menjadi berkualitas, tetapi memberikan dampak bagi perekonomian warga sekitar. Mereka yang tadinya pengangguran, dengan banyaknya santri yang datang mengaji di masjid, mereka akhirnya bisa berjualan. Yang awalnya jualannya sepi, akhirnya menjadi ramai. Maka, warga sekitar pun senang karena merasa terbantu secara ekonomi.

Bahkan, akibat pandemi, banyak para pedagang yang biasanya mangkal di sekolah-sekolah beralih ke masjid Hidayatullah, karena kebanyak sekolah ditutup. Ini membuat para pedagang senang, karena meskipun pandemi, roda perekonomian mereka tetap bisa berputar, tidak mati, dan omset penjualan mereka tetap stabil.

Ini membuktikan bahwa masjid memberikan dampak yang sangat luar biasa bagi perekonomian warga sekitar. Kekuatan masjid ini menjadi spirit dalam memberikan manfaat bagi warga sekitar, tidak hanya dalam sektor pendidikan yang mencerdaskan anak-anak bangsa, tetapi juga bisa memberikan dampak peningkatan perekonomian.[]

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *