Oleh Muhamad Zubair Hasan*)

Identitas Buku

  • Judul             : Senja Terbelah di Bumi Surabaya
  • Penulis          : Eni Ratnawati
  • Tebal             : 400 halaman
  • Penerbit        : Writing Revolution, Yogyakarta
  • Cetakan        : I, April 2015

RumahBaca.id – Bayu Dirgantara, seorang direktur muda, motivator bisnis, dan penerus kerajaan bisnis Dirgantara, tersentak dengan datangnya sebuah surat misterius. Dilihat sekilas, surat itu mirip surat cinta; menggunakan kertas merah muda yang bergambar dua lilin dan setangkai mawar putih. Tetapi isi surat tanpa nama pengirim itu tidak lain berisi ancaman. Ancaman yang bisa menghancurkan perusahaan raksasa Dirgantara. Ancaman tentang sesuatu yang berhubungan dengan dosa masa lalu almarhum papa Bayu.

Setelah beberapa kali menerima surat misterius itu, Bayu memutuskan untuk melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya. Di kota itu, selain ingin mencari siapa sebenarnya pengirim surat itu, ia juga akan mengais informasi tentang masa lalunya, meski nyawa dan keselamatan keluarganya yang menjadi taruhan. Ia bertekad melaksanakan janji pada mendiang papanya yang ia buat menjelang papanya meninggal. Janji untuk mencari istri dan anak lain yang dimiliki papa Bayu.

Novel berjudul Senja Terbelah di Bumi Surabaya karya Eni Ratmawati ini menceritakan tentang usaha Bayu Dirgantara mencari Teguh Surya Dirgantara, saudaranya yang seayah tapi lain ibu. Dengan hanya berbekal sepotong nama saudaranya itu, tanpa mengetahui bagaimana rupa Teguh Surya dan siapa nama ibunya, ia menyusuri luasnya rimba Surabaya demi menuntaskan janjinya.

Ada banyak lika-liku kehidupan yang dialami Bayu dalam masa pencariannya. Diawali dengan pertemuannya dengan Sasha, mantan kekasih yang ingin dilupakannya, di resto D’paprika milik Sasha. Pertemuan itu menyebabkan dipecatnya seorang pramusaji  bernama Nayla, di hari pertamanya bekerja di resto itu. Gadis malang itu dipecat karena Bayu yang dengan sengaja menyilangkan kakinya di depan Nayla. Tindakan Bayu itu menyebabkan Nayla menumpahkan setumpuk makanan di atas kepala Joan, adik Sasha.

Bayu, melalui Nouri, adiknya yang ikut bersamanya ke Surabaya, berusaha meminta maaf dengan menawarkan sejumlah uang kepada Nayla sebagai ganti rugi. Tetapi tidak seperti kebanyakan orang yang menggunakan kesempatan itu untuk mendapatkan keuntungan, gadis berjilbab itu menolak tawaran itu dan meninggalkan Nouri.

Pertemuan Kedua

Bayu mulai menemukan jalan dalam pencariannya atas Teguh Surya setelah mendapatkan informasi dari temannya yang bernama Mr. Shin. Ternyata saudaranya itu pernah tercatat sebagai mahasiswa di kampus biru, tempat di mana Mr. Shin mengajar. Dan ditengah kunjungannya di Kampus Biru, tiba-tiba Bayu melihat gadis D’paprika yang telah dipecat karena ulah Bayu. Ternyata, Nayla adalah mahasiswi semester akhir di kampus itu.

Bayu lantas menemui Nayla. Ia menawari Nayla untuk menjadi staf pribadi Bayu untuk membantunya mencari Teguh Surya, meski sebenarnya, itu adalah alasan yang sedikit dibuat-buat Bayu untuk membayar kesalahan Bayu sebelumnya. Bayu bersyukur Nayla mau menerima tawaran itu, meski sebelumnya Nayla sedikit ragu dalam menerima tawaran itu.

Benih yang Mulai Tumbuh

Bayu baru pertama kali ini bertemu makhluk seperti Nayla. Biasanya, ketika ada orang yang bertemu Bayu, orang itu pasti mengelukan Bayu, atau minimal menyalami dan meminta tanda tangannya. Itu karena Bayu yang memang sangat terkenal sebagai motivator dan orang yang sangat sukses di usianya yang masih muda. Belum lagi wajahnya yang lebih pantas menjadi artis daripada seorang pengusaha.

Tetapi Nayla tidak seperti itu. Ketika pertama kali bertemu dengan Bayu, Nayla bahkan tidak tahu kalau dia adalah Bayu sang motivator yang sering dibicarakan Wiwit, sahabatnya. Dan selama bekerja dengan Bayu, Nayla juga terlihat cuek dan tidak terlalu memikirkan penampilan untuk sekadar mencari perhatian bosnya yang super tampan itu.

Bayu sedikit demi sedikit mulai tertarik melihat karakter Nayla. Dari penampilannya yang sederhana, sandal dan sepatunya yang umurnya sudah selama masa kuliah Nayla, sampai Nayla yang tidak mempunyai ponsel di zaman seperti sekarang, semua itu sangat berbeda dengan karakter wanita yang pernah ia temui. Meski apabila dilihat, wajah Nayla sebenarnya biasa saja. Wajahnya bahkan sangat jauh apabila dibandingkan dengan paras Sasha. Tetapi semua hal itu tidak bisa menghalangi perasaan yang mulai mekar di hati bayu.

Alur Cerita yang Kompleks

Senja Terbelah di Bumi Surabaya termasuk novel yang sulit ditebak alur ceritanya. Di awal-awal cerita, pembaca pasti mengira kalau pelaku pengiriman surat ancaman pasti orang yang berhubungan dengan Teguh Surya. Tetapi di tengah cerita, muncul dugaan lain kalau pengirim ancaman itu Sasha karena ia pernah tiba-tiba menyinggung soal mawar kepada Bayu. Belum lagi pemikiran Marissa, Mama Bayu, yang menduga bahwa pengancam itu adalah orang dalam perusahaan Dirgantara sendiri.

Menjelang akhir novel, peresensi sempat merasa penasaran tentang bagaimana Eni akan mengakhiri novelnya itu. Rasa penasaran itu muncul karena meski ceritanya hampir selesai, Bayu belum menemukan Teguh Surya dan penyelidikan pengirim surat ancaman masih jauh dari titik temu. Tetapi pada akhirnya, semua rasa penasaran itu terjawab. Dan meski jawaban itu ada pada pada tiga bab terakhir novel ini, atau hanya pada 35 halaman dari novel yang tebalnya mencapai 400 halaman ini, tetapi Eni bisa mengakhirinya dengan cukup apik dan tidak terkesan tergesa-gesa.

Pembaca akan menemukan banyak kejutan ketika membaca Novel ini. Mulai dari terungkapnya Bayu yang ternyata bukan anak kandung keluarga Dirgantara, Marissa yang pernah menjadi sahabat istri simpanan Dirgantara dan pernah pula hampir mati karena ulah mereka berdua, Nayla yang ternyata mengenal Teguh Surya meski dengan nama yang berbeda, sampai siapa identitas pengirim surat ancaman.

Mengenai pengirim surat ancaman, penulis novel ini seperti ikut “bersekongkol” dalam menyembunyikan identitas pengirim itu. Dalam menulis novelnya, Eni menggunakan cara bercerita “orang ketiga” yang tahu segalanya. Biasanya, orang ketiga sangat jujur dalam menarasikan cerita dan mengetahui semua isi hati, pikiran, dan perasaan para tokoh yang diceritakannya. Tetapi Eni ternyata memilih untuk (seakan) “ikut tertipu” sandiwara yang dimainkan pengirim surat ancaman. Baru pada menjelang akhir cerita, Eni benar-benar jujur dalam mengungkakan pikiran pengirim surat ancaman ketika ia dengan sendirinya membuka kedoknya di depan mama Bayu.

Secara keseluruhan, novel ini sangat menarik dibaca. Tidak semua novel bisa membuat pembaca merasakan apa yang sedang dirasakan tokoh yang diceritakan. Dan Eni ini bisa membuat pembaca merasakan hampir semua perasaan yang dialami semua tokoh dalam novel Senja Terbelah di Bumi Surabaya ini.[]

*) Penulis tinggal di Semarang

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

2 thoughts on “Ketika Masa Lalu Menagih Janji: Resensi Novel Senja Terbelah di Bumi Surabaya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *