Keunikan Facebook dan Pertautan Ruh

Oleh Gus Rijal Mumazziq Z, Pegiat Literasi Digital, Rektor INAIFAS Jember

Fesbuk itu unik. Kita nggak pernah kenal sama seseorang, tiba-tiba ditambahkan sebagai teman oleh dia, lalu nyambung silaturrahim. Bahkan terkesan langsung akrab. Seperti saudara, atau seperti sahabat yang lama nggak ketemu. Saling berbalas komen, saling meledek, hingga saling membantu di dunia nyata.

Banyak yang begini kan?

Oke. Coba dilacak dan diteliti. Biasanya yang begini ada indikasi leluhur kita pernah bersahabat, atau bahkan nyambung relasi kekerabatan. Ikatan emosional ini menempel secara genetik yang terbawa hingga ke anak cucu.

Saya, misalnya, sudah lama akrab dengan Mbah Baba Naheel Bahaleem, sama-sama dari Jember. Saya dari Kecamatan Jombang, beliau dari Bangsalsari. Sama sama penggemar film juga. Qiqiqiq. Ini agak aneh, kita nggak pernah kopdar, tapi sangat akrab di fesbuk.

Keakraban di dunia maya ini terkuak saat saya bertakziah di kediaman almarhum KH. Abdul Wahid Halim, Pengasuh PP Mamba’ul Khoiriyatil Islamiyyah (MHI) Kedungsuko, Bangsalsari, Jember, sekaligus berziarah ke makam KH Kholil Ghozali, tiga tahun silam. Nama terakhir ini adalah guru kakek saya. Beliau pula yang menjadi “mak comblang” perjodohan kakek-nenek saya. Dan, ternyata, Mbah Baba Naheel ini merupakan cicit Kiai Ghozali, guru simbah kakung saya. Nah, nyambung, kan?

Pertama ketemu di fesbuk, saya juga langsung nyambung dengan Gus Hamid Farouq dan Gus Abdullah Aflah Muzakka Farouq. Setelah dilacak, mbahkung saya dengan kakek beliau, KH Wahib Wahab, adalah sahabat karib saat mondok di Pondok Pesantren Mojosari, Nganjuk, yang diasuh oleh KH Zainuddin.

Lainnya, banyak. Ada teman fesbuk yang ternyata merupakan cicit dari seorang petani yang ikut menjadi penyantun di pesantren yang didirikan oleh Simbah saya. Kami akrab, seperti saudara yang lama tidak bersua. Ada juga beberapa orang yang akunnya sliwar-sliwer di beranda FB, lalu kita tiba-tiba tertarik mengirimkan permintaan pertemanan tanpa tahu sebabnya. Dan, setelah mulai akrab, seolah sahabat lama yang tak bersua, terungkap jika ada pertautan persahabatan antara leluhurnya.

الأرواح جنود مجندة ما تعارف منها ائتلف وما تناكر منها اختلف

“Ruh-ruh itu seperti pasukan yang dihimpun dalam kesatuan-kesatuan. Yang saling mengenal di antara mereka akan mudah saling tertaut. Yang saling merasa asing di antara mereka akan mudah saling berselisih.” (HR Muslim, No 6376)

Hadis ini asyik. Menjadi pembuktian bahwa jiwa-jiwa yang ada itu sudah mengenal “sejak lama”, bahkan terwariskan secara genetik. Para perwira militer Jepang yang terlibat dalam Perang Dunia II, adalah keturunan dari beberapa prajurit Jepang yang mengalahkan Rusia dalam perang setahun (1904-1905), di mana mereka ini juga merupakan keturunan para ronin atau samurai era Edo dan Meiji. Perang Dunia II menjadi Reuni Akbar keturunan prajurit era klasik.

Dalam tradisi sufisme, para Mursyid bisa langsung membaca potensi Salik/Murid sekilas saja, dan bisa mengenal identitasnya bahkan sebelum mengucapkan sepatah kata. Semacam mengunduh dan menelaah curriculum vitae murid. Ini wilayah ruhaniah.

Dalam level kesejarahan di kalangan Nahdliyyin, banyak Banser yang memiliki leluhur pengawal ulama saat geger gede 1965, era revolusi 1945-1949, hingga jika ditarik ke atas merupakan barisan prajurit Pangeran Diponegoro yang berdiaspora. Kakek hingga cicit yang setia menjadi pengawal ulama. Dalam tradisi yang lebih khusus, menjelang pendirian NU, KH. Abd Wahab Hasbullah menjadi penggerak lincah dan penghimpun simpul jiwa anak cucu prajurit Diponegoro dari kalangan ulama hingga bisa diikat dalam wadah NU.

Jadi, fesbuk itu anugerah. Kalau kita akrab melebihi sahabat, coba kita diskusikan asal usul dan jejak perjalanan leluhur kita, jangan-jangan kakek buyut kita teman mondok, konco ngopi, kawan seperjuangan, atau mungkin masih kerabat jauh. Ya, seperti saya dengan Aamir Khan , lah. Kami masih berkerabat, tapi kerabat jauh, jauuuuh sekaliiiii….

Bagikan tulisan ke:

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RumahBaca.id