Oleh Rijal Mumazziq Z, Rektor INAIFAS Kencong Jember

MEMBERI makan orang kelaparan termasuk kaffarat (penebusan dosa), juga menjadi sarana yang mendatangkan rahmat, dan mendatangkan ampunan Allah.” Hadis tersebut saya nukil dari kitab Syaraf al-Ummah al-Muhammadiyah, karya Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki.

Hadis ini menarik, “hanya” memberi makan orang kelaparan, tapi bisa memberi tiga dampak sekaligus. Jangan heran jika dulu KH. Ahmad Dahlan mengulang-ulang pengajaran QS al-Ma’un kepada para santrinya, sehingga nyaris di antara mereka bosan. Tapi, Kiai Dahlan memberikan penekanan, pengamalan QS. al-Ma’un bukan hanya dihafalkan, tapi dipraktekkan, khususnya pada misi sosial: peduli anak yatim dan memberi makan orang miskin (tha’amul miskin).

Kenapa redaksi ayat ini menggunakan tha’am (makanan), bukan ith’am (memberi makan) sebagaimana di dalam QS. Al-Balad ayat 14 (aw ith’amun fi yaumin dzi masghabah, memberi makan di masa paceklik), sebab kata Prof. Quraish Shihab dalam tafsirnya, al-Mishbah, tha’am di dalam QS. Al-Ma’un berkaitan dengan hak si penerima, yaitu mereka yang kelaparan.

Sebab, jika sudah lapar, orang cenderung gelap mata. Perpindahan akidah, idealisme, maupun ideologi biasanya juga berkaitan dengan urusan perut. Ini perkara asasi dalam soal kemanusiaan.

Memberi makan kelompok lemah menjadi salah satu cara mendapatkan kasih sayang dan ampunan Allah. Bahkan dalam kitab tersebut, Abuya Sayyid Muhammad juga menukil cerita dua orang yang kehausan di gurun (tanpa kadal, lho ya!). Si A memberi minum sahabatnya, B. Ternyata di akherat si A ini digiring ke neraka, melewati si B yang antre masuk surga.

“Masih ingatkah engkau denganku?” tanya si A.

“Iya, engkau yang pernah memberiku minum ketika di dunia.”

Akhirnya, si B ini melobi Allah agar si A tidak dimasukkan ke neraka karena pernah berbuat baik kepadanya, walaupun hanya memberi minum. Dan, dengan rahmat-Nya, Allah membebaskan si A dari neraka.

Guru saya pernah bercerita, ada banyak orang soleh yang diangkat menjadi Wali Allah karena keistiqamahannya menyantuni yatim dan kaum fakir miskin. Menebar kasih sayang sekaligus berkeliling di malam hari memberi para gelandangan makam-minum, atau setelah subuh membagi-bagikan makanan kepada siapapun yang dia jumpai.

Prinsipnya, sebelum sarapan, dia harus membagi makanan-minuman kepada makhluk-Nya. Nasi kepada manusia, atau remah-remah roti kepada semut, atau menabur jagung buat burung-burung, dan seterusnya.
Amaliah yang terlihat sepele, namun dampaknya luar biasa! Jadi kalau pengen jadi wali-Nya, jangan sungkan dan jangan pernah ragu mentraktir.

Syekh Sholeh Darat Assamarani, dalam Minhajul Atqiya’ Fi Syarhi Ma’rifat Al-Adzkiya, bahkan menjelaskan ciri-ciri Wali Abdal, yang lebih banyak bermdimensi sosial dibandingkan ritual. Di antaranya, selain sikap wira’i dia memiliki kasih sayang di atas rata-rata kepada para hamba-Nya, tidak pernah membenci apalagi menghujat sesama manusia, juga memilki kedermawanan dan sikap tawadlu’.

Pertanyaannya, berapa mahar buku Syaraf al-Ummah al-Muhammadiyah atau Khashaish al-Ummah al-Muhammadiyah karya Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki?

Cukup dengan mahar Rp75.000 sudah bisa meminangnya. Bagi yang ingin pesen buku dan kitab, langsung chat di WA saya, Rijal MZ.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *