Oleh Idris Masudi, Wakil Sekretaris Lakpesdam PBNU

RumahBaca.id – Video Allahu Yarhamhu Mbah Kiai Sahal Mahfudh yang menjelaskan definisi “Kiai” beredar cukup viral. Beliau mengulas definisi itu menjadi dua: Kiai zaman dulu dan Kiai zaman sekarang. “Dahulu, kiai adalah laqob atau julukan yang disematkan pada seseorang yang sangat alim, memiliki akhlak yang baik, menguasai syariat secara mendalam, juga sekaligus seorang sufi,” tutur Rais Aam PBNU pengganti Allahu Yarhamhu Kiai Ilyas Ruhiat ini. Masih menurut beliau, berbeda dengan definisi Kiai di masa sekarang. Ia bisa disematkan kepada siapapun yang menginginkannya.

Beberapa hari yang lalu untuk kedua kalinya saya berkesempatan sowan kepada Kiai Aliyudin Kresek Tangerang. Beliau adalah pengasuh PP Al-Hikmah Pendawa Kresek. Pembawaannya sangat kalem. Sederhana. Sangat tawaduk. Khas kiai-kiai yang memiliki kedalaman ilmu. Meski demikian, beliau selalu menolak bila ada yang memanggilnya Kiai. “Jangan sebut saya Kiai. Tolong. Kiai itu berat. Kiai tidak boleh berbohong. Harus selalu baik hati. Enak jadi santri saja,” tutur beliau menyela teman saya yang memanggilnya Kiai.

Bagi saya pribadi ngobrol dengan beliau justru sangat mengasyikkan. Asal kita bisa bersabar percikan-percikan pengetahuannya bisa kita ambil. Saya sendiri mendapatkan beberapa ijazah dari beliau. Dulu diijazahi doa mancing ikan. Kemarin dapat ijazah bagaimana etika berziarah ke makam wali, dan beberapa doa lainnya.

Dulu saat beliau menjadi santri termasuk santri kelana. Keliling dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Salah satu yang sering disebutnya adalah Pesantren Tebuireng. Allahu Yarhamhuma Kiai Idris Kamali dan Kiai Syansuri Badawi adalah dua Kiai yang sempat menjadi gurunya.

Ada satu kisah menarik yang beliau tuturkan saat beliau nyantri di Tebu Ireng. Saat itu, salah satu pengasuhnya adalah Kiai Syansuri Badawi. Kata beliau, dulu saat nyantri di sana saya sudah memiliki banyak tamu. Mereka datang ke beliau untuk minta didoakan. “Dari berbagai daerah. Seminggu bisa dua tiga kali tamu mencari saya,” kenang beliau. Sampai kemudian terdengar oleh pengasuh dan akhirnya beliau dipanggil. Kemudian Kiai Aliyudin disuruh puasa oleh Kiai Syansuri Badawi. Setelah itu, tak ada lagi tamu yang datang mencarinya.

Beliau juga menuturkan bahwa kakek beliau adalah salah satu khadam Syekh Nawawi Banten. Seusai belajar di sana, kakek beliau pulang ke kampung halamannya dan mengadakan pengajian di masjid Kresek. Saat hendak pamitan, saya menundukkan diri sambil meminta doa khusus untuk adik Sezgin yang kata mamahnya sedang kurang sehat. Lalu beliau memegang kepala saya dan merapal doa.

Moga panjenengan sehat selalu, Kiai. Kami masih mengharap percikan hikmah dan doa dari panjenengan.[]

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *