Oleh Evy Aldiyah, Guru IPA SMP Negeri 202 Jakarta

RumahBaca.id – Sepekan yang lalu saya menemani seorang kawan ke hajatan saudaranya di satu titik di Jakarta. Suasana kekeluargaan yang kental dengan budaya sangat terasa. Ada sepasang ondel-ondel di gerbang masuk menuju rumah. Ya, pasti orang Betawi punya itu. Entah kenapa jantung saya nyut-nyutan saat bergegas melintasi patung ondel-ondel itu, mungkin karena badannya yang besar membuat saya sedikit ngeri untuk berdekatan.

Sambutan ramah dan kekeluargaan sangat terasa begitu memasuki rumah. Ya, hajatan ini digelar di rumah kampung, jadi beda suasananya dengan pesta di gedung. Setelah menyalami sepasang pengantin yang gagah dan cantik, lengkap dengan busana khas Betawi, kami langsung dipersilakan menyantap sajian makanan. Musik tanjidor mengiringi acara makan kami. Luar biasa, mendengar musik tradisional khas Betawi yang sudah semakin langka seperti ini. Meski yang dinyanyikan adalah lagu-lagu kekinian, namun terasa suasana etnik, karena diiringi oleh musik tanjidor. Hanya suara mercon yang tidak terdengar, di mana biasanya dinyalakan setelah akad nikah.

Surprisenya, saya dan teman disuguhi roti buaya berukuran seperti roti pada umumnya. Roti buaya hanya ditemukan di acara pernikahan adat. Rasanya sayang untuk dimakan karena bentuknya lucu dan unik. Melihat dan menyantap roti buayalah yang sebenarnya membuat saya merasa “wah”. Roti ini mengingatkan saya peristiwa masa 18 tahun silam. Penasaran sama roti buaya? atau malah sama cerita 18 tahun silam?

Dalam tradisi Betawi, roti buaya dibuat sepasang, hanya digunakan sebagai bahan seserahan untuk pengantin wanita. Konon, dulu roti buaya dibuat dengan tekstur keras, karena untuk dijadikan pajangan di atas lemari, bukan untuk dibagikan kepada para tamu.

Iye, dulu pas aye nikah mah rotinye keras, beda ma jaman sekarang. Kalo dulu mah rotinye buat pajangan doang di ruang tamu, terus pas acara dah selesai baru dipindahin ditaro atas lemari. Ngejedog bae dah tuh roti ampe busuk,” tutur Mpok Sara, menjelaskan perihal roti buaya. Mpok Sara merupakan penduduk Betawi asli.

Namun, lanjutnya, seiring perkembangan zaman, roti buaya mengalami perubahan. Tekstur roti buaya kini dibuat lebih empuk seperti roti pada umumnya, bahkan ada tambahan coklat, keju dan kismis. Roti dibagikan kepada para tamu seusai acara akad nikah. Tujuannya juga jadi berbeda, yaitu sebagai berkat bawaan para tamu.

Filosofi di Balik Roti Buaya

Tapi tahukah para pembaca, kenapa hewan yang terpilih untuk ikon roti adalah buaya? Bukan singa atau ikan hiu. Selama ini kita tahu, lelaki tidak setia diidentikkan buaya darat. Tapi kenapa masyarakat Betawi justru menjadikan roti buaya sebagai simbol pernikahan? Rupanya ada makna tersendiri di balik terpilihnya hewan ini di masyarakat Betawi masa dahulu. Konon, roti buaya ini sebagai simbolisasi kehidupan, kemapanan dan kesetiaan seumur hidup bagi pasangan suami istri.

Sebagai guru IPA saya jadi penasaran nih sama buaya. Seperti apa fakta ilmiah dari buaya, kok bisa menjadi ikon pernikahan dalam adat dan budaya Betawi? Dengan rasa penasaran saya akhirnya ngubek-ngubek dunia reptil. Saya tonton film dokumenter Steve Irwin, seorang pakar reptil, untuk sekadar mengobati rasa penasaran saya terhadap buaya yang katanya setia. Saya fokuskan pada tingkah laku reproduksinya.

Di alam liar, buaya dapat hidup hingga usia 70 tahun, bahkan ada yang 100 tahun. Ternyata tua sekali ya umur buaya, melebihi umur manusia pada umumnya. Rockefeller Wildlife Refuge di Louisiana telah meneliti tingkah laku reproduksi buaya selama 10 tahun. Penelitian tersebut membuktikan bahwa pada saat musim kawin tiba 70% lebih buaya betina akan mencari pasangan yang sama. Buaya jantan dan betina hanya akan kawin sekali dalam hidupnya sebagai bentuk kesetiaan pada pasangannya. Sang jantan tidak akan kawin lagi atau mencari pasangan baru meskipun sang betina telah lebih dulu mati. Mereka akan menghabiskan sisa hidupnya sendirian. Sedih banget ya, sampai hari tuanya sendirian.

Buaya jantan dikenal sebagai hewan yang protektif dan sangat melindungi pasangannya. Buaya jantan akan siap siaga menjaga betina dan telur-telurnya dari predator. Bila perlu, buaya jantan akan mengorbankan nyawanya sendiri. Tapi itu jarang terjadi, karena buaya jantan yang protektif itu menjadi sangat beringas.

Sebagai hewan pemangsa penyergap yang sabar dengan kekuatan pada moncong, ternyata moncong buaya memiliki kelemahan. Otot-otot pembuka mulutnya ternyata amat lemah. Dalam film dokumenternya, Steve Irwin hanya mengikatkan tali karet ban dalam di ujung moncong buaya dan melilitkan lakban beberapa kali untuk menutup sementara mulut buaya saat dilakukan pengamatan. Tampaknya cukup mudah ya menaklukkan buaya. Begitulah cerita ilmiah buaya.

Sekarang, masih penasarankah dengan cerita saya 18 tahun silam tentang roti buaya? Baiklah saya ceritakan sedikit. Sekitar 18 tahun silam, saya pernah bertetangga dengan orang Betawi, sebut saja Mpok Ati. Santun sekali sikapnya terhadap keluarga saya. “Bu Guru,” begitulah dia biasa menyapa saya. Suatu hari Mpok Ati akan memeriahkan pernikahan putranya di rumah dengan adat betawi, dan pastinya ada acara bakar merconnya, dar der dor… bisa bikin jantung semaput. Tiga malam sebelum itu tetangga Betawi menyambangi rumah keluarga saya untuk meminta izin mengganggu kenyamanan. Masyaallah tetangga santun banget. Itulah kesan yang saya tangkap.

Karena kebetulan saya sedang dalam masa hamil muda lebih kurang 5 bulan, saya mengungsi sementara ke rumah saudara untuk menghindari kebisingan, meninggalkan keluarga di rumah sementara waktu. Yang membuat saya terkesan, Mpok Ati turut serta mengantar saya. Masyaallah, luar biasa.

Surprise berikutnya terjadi lima hari kemudian. Saat keluarga menjemput saya di rumah saudara, ternyata Mpok Ati turut serta menjemput serta membawakan roti buaya khusus untuk saya. Makan roti buaya sambil didoakan yang baik-baik, sungguh suatu keberkahan yang tiada tara. Itulah momen surprise roti buaya 18 tahun silam yang selalu saya ingat.

Kembali ke filosofi roti buaya. Bukan hanya enak dan empuk, roti buaya ternyata juga sarat makna. Roti buaya menyimpan kisah tentang kesetiaan terhadap pasangan. Roti buaya yang diberikan sebagai seserahan dari pengantin pria kepada pengantin wanita adalah sebuah simbolisme, bahwa sang pengantin pria akan terus setia terhadap sang pengantin wanita sampai akhir hayatnya. Roti buaya juga melambangkan kesabaran. Seekor buaya selalu sabar ketika melakukan pengintaian, saat memburu mangsanya.

Kesetian buaya terhadap pasangannya yang membuat masyarakat Betawi menjadikan roti buaya sebagai seserahan saat lamaran dan pernikahan. Diharapkan pasangan yang menikah bisa setia seperti buaya. Nggak nyangka ya, ternyata di balik kebuasannya, buaya termasuk hewan yang setia dan sabar. Kalau buaya yang buas aja bisa setia, masa kamu enggak?

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

One thought on “Kisah & Fakta Ilmiah [di Balik] Roti Buaya Betawi”
  1. Masya Allah ,,,, manteph sekali bu Evy, keilmuannya dapet, dan sosialnya juga OK,,, sungguh bacaan yang bermakna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *