Oleh Musrifah, Dosen Komunikasi dan Jurnalistik IAI Tabah Lamongan

Siapapun yang pernah berkunjung ke Paciran (Kab. Lamongan) pasti tidak asing dengan legen Paciran. Legen adalah minuman khas Paciran yang berasal dari sari pohon siwalan. Legen dengan mudah kita jumpai di warung- warung sederhana di sepanjang jalur pantura Jawa Timur. Namun tahukah kalian, mendapatkan legen tidak semudah meminumnya.

Setiap pagi dan sore atau menjelang petang, petani siwalan bersiap-siap menuju ladang dengan membawa bumbung. Bumbung adalah wadah berbentuk tabung yang terbuat dari bambu. Petani siwalan biasanya membawa empat hingga enam bumbung sekaligus.

Bunga tutup

Bumbung kemudian diisi sedikit air tawar dan diberi taburan bunga tutup. Bunga tutup adalah sebutan masyarakat Paciran pada sejenis bunga semak liar yang digunakan sebagai pengawet alami. Taburan bunga tutup di dalam bumbung membuat air legen nantinya tidak berasa asam maupun basi meski seharian di puncak pohon. Dengan cekatan, petani siwalan kemudian memanjat pohon siwalan yang tingginya puluhan meter dengan kaki dan tangan telanjang.

Bumbung yang telah dipasang tali kemudian digantungkan di puncak pohon siwalan sebagai tempat menampung air nira pohon siwalan. Air tersebut keluar dari pohon siwalan melalui tangkai tandan bunga siwalan yang telah dipotong kemudian disadap. Masyarakat Paciran menyebut tandan bunga ini dengan sebutan wolo.

Biasanya petani memanen air nira pada pagi hari selepas subuh. Ngunduh tetese wolo, begitu masyarakat Paciran menyebut aktivitas memanen air nira dari tangkai tandan bunga siwalan. Air nira yang dipanen inilah yang disebut legen.

Sebuah bumbung bisa menampung dua hingga tiga liter legen. Legen kemudian dijual di pasar, warung, atau tempat-tempat wisata dengan kemasan bekas botol air mineral. Tidak jarang juga konsumen langsung mendatangi petani di ladang untuk membeli dan meminum legen murni langsung dari bumbung.

Musim kemarau adalah waktu terbaik untuk memanen legen. Rasa legen di musim kemarau jauh lebih enak dibanding saat musim hujan. Hal ini karena air hujan yang bercampur tanah ikut terserap akar pohon siwalan dan membuatnya menjadi kurang enak. Karena kualitas rasanya yang menurun inilah, harga legen di musim hujan menjadi turun.

Legen asli berwarna sedikit keruh dan berasa masam segar. Pembeli biasanya mencampur legen dengan sebongkah es batu untuk menambah kesegarannnya. Namun, legen yang tidak segera diminum dapat berubah menjadi minuman yang memabukkan atau disebut toak. Untuk menghindari legen berubah menjadi toak, legen harus segera dimasukkan freezer atau direbus. Bagi sebagian orang lebih menyukai legen yang direbus karena merubah rasa legen yang asam menjadi sedikit lebih manis.

Sebotol legen murni berisi 1,5 liter umumnya dijual pedagang seharga sepuluh ribu rupiah. Dalam satu pohon siwalan, petani bisa menghasilkan 20 hingga 25 liter legen siap minum. Legen telah menjadi minuman legenda puluhan tahun lamanya. Popularitas legen Paciran sebagai minuman khas pesisir pantura Jawa Timur dikenal di banyak daerah di Jawa hingga luar Jawa. Namun kondisi legen tidak pernah berubah dari masa ke masa. Legen masih dijual dengan kemasan botol bekas air mineral.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *