Oleh: Ari Yoseva*)

Nope! Its not a question, people! 😂

Judul di atas maknanya sedikit berbeda. You know, in English, there are certain words that has different meaning than what we usually know. Kata “what a” berarti “sungguh” atau “betapa”. Okay, that’s enough. Saya tidak sedang mengulas materi tata bahasa Inggris 🤭.

Program yang akan saya ceritakan di sini adalah program yang saya inisiasi sebagai bentuk kontribusi yang bernilai positif bagi lembaga tempat saya mengadakan Praktik Pengalaman Lapangan atau selanjutnya saya singkat PPL.

Pada awal bulan Maret lalu, Institut Agama Islam Cirebon mengadakan program PPL bagi mahasiswanya yang telah menempuh pendidikan di semester V.

PPL diadakan dengan tujuan agar mahasiswa mampu mengalami secara langsung penerapan ilmu yang dipelajarinya selama di perguruan tinggi.

Untuk bisa menjadi profesional dalam pekerjaan yang kita jalani, tentu harus ada praktik, bukan hanya sekedar belajar teori. Program PPL inilah momentum bagi kita untuk mengaplikasikan ilmu dan teori yang selama ini dipelajari dalam berbagai mata kuliah.

Saya dan kawan-kawan satu kelompok mulanya bingung dengan apa yang harus kami lakukan 🤷🏻‍♀️. Ya, namanya juga pertama kali. Ya kan?

And I think that’s normal, and everyone might encountered similar situation.

Dan rasanya, kebingungan serta kesulitan tak mungkin hilang jika dibiarkan saja toch? Oleh karena itu, penting sekali menjalin hubungan dan komunikasi yang baik dan often dengan lingkungan, terutama dosen pembimbing dan guru pamong. It’s a bit of hassle for me, but I got ’em taken care of.

So, back to my topic! Oleh lembaga, kami ditanya “kalian punya program apa untuk sekolah kami?”

And then, I got shock of course! No one ever tell me that i need to make up a program??? toengg….!!

So, saya mengutarakan ide untuk membuat pojok baca di setiap kelas. Hal ini sebagai solusi bagi keterbatasan jumlah buku serta ruang perpustakaan yang dimiliki oleh sekolah tersebut. Karena bagi saya, membaca harusnya menjadi kebutuhan yang staple bagi pelajar. Namun sayangnya program itu harus ditunda karena beberapa kendala (internal).

So, akhirnya kami harus berdiskusi dan meminta bantuan guru pamong mengenai hal-hal yang sekiranya bisa kami lakukan untuk sekolah. And, to my opinion, she’s a very nice and sweet person. I like her quite a lot, she’s smart too.

So, she was like “why don’t you help us to handle a few things for us? And i’m like, “sure, why not?” Beliau meminta kami menjadi panitia dan juri dalam peringatan Isra Mi’raj 1442H, yang dilaksanakan hari Sabtu (20/3/21) lalu. Its such an honor for us to be given such a trust, for we are still considered an outsider of course! Merupakan suatu kehormatan dong tentunya bagi kami yang masih termasuk “orang luar”.

Dan kami diminta untuk melibatkan anak-anak pengurus OSIS di sana. Kami mempersiapkan semuanya sendiri, mulai dari menyusun proposal; anggaran belanja hadiah; membungkus hadiah; menyiapkan ruang lomba; membuat sertifikat pemenang; hingga menyusun teknis dan susunan acara. What an experience! Pengalaman yang sungguh mengesankan dan penuh tawa. Yup, tawa 😁. We somehow make a bonding goes very smoothly and sweetly. Hanya dalam kurun waktu seminggu, kami (mahasiswa dan OSIS) kami terkoneksi dengan ikatan yang cukup manis dan menggembirakan.

Selain itu, kami juga melihat mading yang kosong dan tidak terpakai. Jadi, kami menawarkan diri untuk mendekorasi ulang dan mengelolanya. Guru pamong kami, yang juga merangkap kepala bagian kurikulum, sangat “welcome” dengan ide itu. Kami sangat bahagia dan antusias mendekor ulang mading tersebut.

Dan sebagai follow-up ide itu, kami diarahkan untuk kembali bekerja sama dengan para pengurus OSIS. Karena memang setelah kami pergi, mereka lah yang harus mampu menjalankan dan mengelolanya.

Tentunya, masalah tidak berakhir sampai disitu. Yaelah, banyak amat dah masalahnya! 🙄

Ya emang, kata pak Afifi Hasbunallah kita harus “nyari masalah” 🤣. Dan dari masalah (mading mangrak), kami munculkan solusi (mengaktifkan kembali), dan muncul masalah baru…! What? 😱

Ya….menurut penuturan pengurus OSIS, mading berhenti karena mereka kehabisan ide untuk membuat kontennya. 🤔

So, kami berpikir, “no worries, we got you covered” 😂

I, somehow, got a very brilliant idea. Thanks to UKM Sahabat Literasi yang mengajarkanku banyak hal, dan I come up with an idea untuk memberi warna baru dalam pembelajaran PAI. Yakni, sebuah ide untuk membuat program “5-menit berkreasi di mata pelajaran PAI”.

Kedengarannya sangat sederhana, but it’s such a multi-function idea! And I’m very proud of it😁. Yup, saya merasa sangat bangga dengan program tersebut, karena murni ide dari kami.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, program ini kami munculkan untuk memberi warna baru dalam pembelajaran PAI. Selain itu, sebagai ice-breaking sebelum pembelajaran, yang lebih nyaman saya sebut “mind-refresher“.

Hal ini bertujuan untuk me-refresh dan mengosongkan mind para siswa sebelum belajar, sehingga mereka lebih rileks ketika belajar. Karena saya berkeyakinan bahwa siswa harus merasa tenang dan nyaman ketika belajar. Atau setidaknya “pemanasan” dulu 😂.

Dalam program ini, saya lebih suka menyebutnya sebagai “permainan”, tidak ada aturan apa yang harus ditulis atau bagaimana menulisnya. Kami hanya berpesan, “tuliskan apapun yang sedang kalian pikirkan”. That’s it! As simple as that.

Dan hasilnya sangat bervariatif dan mengagumkan. Beberapa menulis puisi, kata mutiara, menulis ayat Alquran dan hadis yang dihapalnya, atau sekedar menyatakan kebingungan mereka tentang apa yang harus mereka tuliskan 😂.

Namun hampir semuanya kreatif sekali dalam mencorat-coret kertas yang kami sediakan. Dan hasilnya kami (bersama pengurus OSIS) memilih karya-karya yang bagus untuk dipajang dan ditampilkan di mading. Setelah selesai kami tempelkan, semua siswa berkerumun (penasaran). Beberapa kaget karena merasa itu (yang ditampilkan) adalah tulisannya, sambil senyum-senyum sendiri.

Beberapa siswa lainnya bertanya mengapa tidak ada karya mereka. Sepertinya mereka excited dan berharap karya mereka ditampilkan. So, kami bilang “wait for your turn, guys!” 🤭

Tidak lupa pula kami memberi nasehat “jagain mading baru kalian baik-baik ya…” Karena mereka ini tipe-tipe siswa yang memiliki tangan kreatif dan eksploratif.

Untuk seterusnya, kami juga mengajarkan anak-anak pengurus OSIS mengenai bagaimana berkreasi mengisi konten mading, dan tanpa harus mikir sendirian. Ya.. Itu tadi, libatkan seluruh siswa untuk turut serta berperan bagi kelangsungan mading sekolah.

And I’m glad its almost “game over” guys! 🤭 But, at the same time its kinda sad to part with the students. However, they are very cheerful and smart kids.

Dan sabtu lalu, mereka terlihat kecewa dan sedih ketika kami mengatakan bahwa masa PPL hanya tinggal seminggu lagi.

“Yah….kok cepet banget bu?” Kata-kata itu seperti irisan bawang bagi mataku, bikin mewek 😭. You know, i’m very fragile. Saya hanya bisa berkata, “tenang aja, nanti saya akan sering main ke sini. Rumahku dekat dari sini kok!”. Mereka hanya membalas dengan senyum. Dan, I mean it, insyaallah, saya akan tepati kata-kata saya itu.

Meskipun saya termasuk tegas ketika mengajar, alhamdulillah mereka sangat manis dan perhatian. Meski hanya sekedar dengan kata-kata “ibu mukanya pucet banget!”, atau “ibu belum makan? Sini aku beliin makan!”. Awww….It’s too sweet, i almost got diabetes 😂. However, it moves my heart. 😊

And those are some experience that i got from PPL. PPL sangat membawa banyak manfaat dan pengalaman berharga, sekaligus baru bagi saya. I’m very grateful for it. Ya, saya sangat bersyukur mengalami itu semua.

This writing I present for my campus (IAIC) for letting me experience this, and for SMP Abu Manshur that provides me a comfortable place to experience education in a different way.

Dan buat kalian di sini yang belum mengalami, bersabarlah sahabat. It’s your turn when its time. Be patient, okay? 😉

Salam literasi 👆🏻
Cangkring, 22 Maret 2021

*) Ari Yoseva, mahasiswa pegiat literasi di UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *