Oleh Bima Samara, Mahasiswa Hukum Keluarga Islam IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Indonesia merupakan negara yang diberkati Tuhan dengan segudang keunikannya. Bukan hanya dari segi keanekaragaman hayati, bermacam macam spesies hewan dan tumbuhan saja, akan tetapi juga dengan berbagai keunikan kultur, budaya, bahasa, dan lain sebagainya.

Indonesia merupakan negara surga dunia yang Tuhan berikan untuk ciptaannya. Indonesia dikenal sebagai negara yang rukun, meskipun memiliki banyak perbedaan. Negara ini dijuluki sebagai Zamrud khatulistiwa yang memiliki segudang kelebihan di mata negara dan bangsa lainnya. Tidak hanya itu, Indonesia juga dijuluki sebagai macan Asia yang tertidur. Indonesia juga disebut-sebut sebagai paru-paru dunia.

Namun tahukah kamu, selain dijuluki dengan berbagai macam julukan yang menggambarkan perbedaan dalam kesatuan, Indonesia juga merupakan bangsa dan ras yang paling unggul di muka bumi loh. Jika kamu berfikir Amerika merupakan bangsa dan ras yang paling unggul di muka bumi, kalian salah. Apalagi China, salah besar. Pendapat bahwa Indonesia merupakan bangsa dan ras yang paling unggul di muka bumi adalah menurut Stephen OppenHeimer, seorang ahli DNA dari Universitas Oxford pada acara bedah bukunya yang berjudul Eden in the East (Surga dari Timur) bahwa induk peradaban manusia modern bukan berasal dari Mesir, Mediterania, atau Mesopotamia, bukan pula dari Barat, apalagi China. Peradaban manusia modern justru dari Indonesia. Bangsa ini merupakan pewaris tunggal atas kejayaan bangsa-bangsa besar di masa lalu.

Bahkan tidak hanya itu, selaras dengan teori Stephen OppenHeimer tersebut, Profesor Arsyio Santos dari Brazil dalam buku Atlantis the lost Continent Finally Found menyatakan bahwa titik Atlantis itu berada di Sundaland (tanah Sunda), kota yang dikenal maju dan modern berada di Sundaland. Itu merupakan bukti bahwa Tuhan sedang mengukir ciptaan-Nya untuk dinikmati oleh kita semua.

Indonesia dikenal sebagai bangsa paling unggul di muka bumi tentu memiliki sistem yang kompleks dari mulai sistem ekonomi, politik, agama, bahkan hukum jika dilihat dari pandangan Stephen OppenHeimer. Dengan demikian, Atlantis yang dikenal dengan peradaban dan kemajuan bangsa itu ternyata berada di salah satu pulau di Indonesia. Maka dari itu, kita sebagai tunas bangsa harus bangga bisa lahir dan hidup di negara Indonesia.

Dari segi pewaris tunggal atas kejayaan bangsa-bangsa terdahulu tentu bangsa Indonesia memiliki berbagai kelebihan dalam berbagai bidang, khususnya bidang hukum. Hal ini karena hukum merupakan sektor terpenting dalam menunjang kemajuan peradaban manusia. Apalagi bangsa Indonesia merupakan pusat peradaban manusia modern. Maka dari itu, hukum dalam bangsa Indonesia sangat lengkap dan kompleks. Akan tetapi tentu pada saat itu hukum yang berlaku hanya hukum yang dibuat oleh bangsa atau manusia modern itu sendiri demi kepuasan bangsa sendiri. Sedangkan hukum agama tentunya belum bisa diterapkan, karena memang pada masa itu agama masih menganut agama nenek moyang, seperti menyembah batu, roh, matahari, dan lain sebagainya.

Dari situ muncul berbagai agama, khususnya agama Islam. Agama Islam masuk ke Indonesia, menurut buya Hamka, pada abad ke-7 M atau 1 H oleh para pedagang yang berlabuh di salah satu kerajaan di Sumatera, yaitu kerajaan Samudra Pasai, kerajaan Islam pertama di Indonesia.

Setelah itu, mulailah ajaran ajaran Islam meresap ke sendi-sendi masyarakat Indonesia. Pada saat itulah agama Islam mulai tersebar dan berkembang dengan pesat. Bahkan ajaran Islam masuk ke pedalaman-pedalaman terpencil.

Islam dengan berbagai ajaran di dalamnya disebarkan oleh para pengemban dakwah ke tanah Indonesia dengan metode yang toleran. Akulturasi budaya adalah salah satunya. Sunan Kalijaga misalnya, beliau menyebarkan syiar dan dakwah Islam melalui budaya dan tradisi masyarakat, yaitu wayang. Artinya, di sini Sunan Kalijaga tidak serta merta menghapus tradisi yang telah berkembang di masyarakat. Beliu sedikit demi sedikit mengubah makna yang terkandung dalam wayang. Bila sebelum Islam datang, tradisi wayang kulit berisi kisah para dewa Hindu dan Budha, oleh beliau wayang diisi dengan cerita para nabi, pesan-pesan ajaran kebaikan Islam, dan lain sebagainya.

Artinya toleransi merupakan nilai-nilai yang sangat sakral dalam penyebaran agama Islam, maka dari ajaran tersebut masyarakat Indonesia mulai terbiasa menerapkan nilai-nilai toleransi dalam kehidupan sehari-hari.

Akan tetapi, dengan berjalannya waktu dan semakin majunya teknologi, justru masyarakat dibuat bingung terkait dogma-dogma miring mengenai agama. Ini menjadi problem dan tantangan tersendiri di tengah-tengah masyarakat. Banyak masyarakat yang dibuat bingung, bahkan tidak jarang yang meninggalkan nalar sehatnya, sehingga terlalu kaku dalam beragama. Fenomena ini kerap disebut dengan istilah mabuk agama krisis logika. Hanya bermodal semangat, tanpa dibekali pengetahuan yang cukup, akhirnya terjerumus ke dalam jurang dogma-dogma ‘miring’ dalam beragama. Parahnya, hal demikian itu diklaim sebagai ajaran agama yang genuin. Kelompok semacam ini malah yang merasa paling benar dan selamat. Padahal, sejak dahulu, Islam tersebar di bumi Indonesia dengan ramah dan toleran. Kita adalah bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi.

Mereka bersorak terkait agama, seakan-akan perilaku keagamaan orang Islam di Indonesia telah melenceng jauh dari relnya. Padahal merekalah yang melenceng jauh dari rel agama Islam. Mereka menyuarakan takbir, menegakkan panji-panji jihad, dan berusaha memperjuangkan penegakan sistem pemerintahan khilafah. Akan tetapi, mereka tidak tahu terkait apa yang mereka perjuangkan. Banyak dogma-dogma miring semacam ini.

Agama Islam di dalam tubuh NKRI bisa dikatakan sudah final. Artinya tidak perlu lagi yang namanya menyuarakan takbir, menyerukan jihad perang di NKRI ini. Islam merupakan agama yang rahmatan lil alamin, memberikan kasih sayang ke semesta alam, ajaran Islam yang sesungguhnya.

Sebenarnya, kalau diamati secara mendalam, apa yang mereka melakukan itu tidak jauh dari kepentingan politik semata. Sekali lagi, faktor uang dan kekuasaanlah yang membuat mata dan hati tertutup. Jika dengan ajaran atau hukum agama saja mereka sudah tuli, apa lagi terkait hukum pemerintah yang sah. Banyak preman berjubah agama. Banyak pemberontak yang memakai kedok perjuangan kepentingan agama. Bukan agama Islam yang bermasalah, tetapi mereka yang mempermasalahkan hal yang seharusnya bukan masalah. Hanya karena dorongan ekonomi dan politik, hati dan mata mereka buta terhadap cahaya kebenaran yang terpancar oleh agama yang damai dan penuh kasih sayang ini.

Dari mabuk agama tersebut munculnya radikalisme yang pada akhirnya mengarah pada sikap anarkis. Menurut Gus Dur, Islam damai harus disuarakan secara lantang di Indonesia. Perdamaian yang diperjuangkan Gus Dur berupa “Islam ramah” perlu disyiarkan kembali, mengingat “Islam marah” mulai menandingi “Islam ramah”. Mereka yang radikal menebarkan ketakutan di mana-mana, baik ketakutan saat suka-cita maupun ketakutan saat menyuarakan aksi yang positif. Teror dan ketakutan itu disebarkan dan semakin memanas melalui media sosial. Sehingga, “Islam ramah” dikacaukan dengan ujaran kebencian. Seolah-olah mereka mengajak “perang” kepada semua pihak, baik kepada “Islam ramah” maupun kalangan non-Islam.

Mereka menggunakan tiga cara untuk menembus jantung “Islam ramah” yakni masjid, media sosial, dan kader militan. Kelompok radikalis menguasai masjid sebagai “pintu masuk” yang paling strategis, karena masjid adalah tempat berkumpulnya orang Islam, setidaknya lima kali dalam sehari.

Mereka atau kaum radikalis menganggap bahwa menguasai masjid adalah kunci utama dalam memporak-porandakan keyakinan masyarakat. Mereka mengambil alih masjid-masjid dan membuat kajian-kajian, menyebarkan ajaran radikal yang mereka yakini sebagai sebuah kebenaran. Akan tetapi dengan adanya NU di setiap sudut kota maupun desa, paham-paham radikal pun dapat dikikis dan ditahan dengan cepat. Sehingga, masyarakat bisa selamat dari virus radikal yang berbahaya.

Cara yang kedua, media sosial atau medsos. Mereka menyebarkan “bom” di berbagai media sosial. Cara ini, menurut Gus Dur, lebih sulit dihadapi dibandingkan dengan melalui masjid tadi. Akan tetapi bukan berarti tidak bisa. Di media sosial, bukan hanya ribuan atau jutaan orang, bahkan bisa jadi lebih dari itu. Sebab media sosial dipakai oleh seluruh masyarakat dunia. Maka dari itu, perlu langkah dan tindakan yang cermat dalam menangani serangan radikalisme media sosial ini. Langkah kongkrit yang bisa dilakukan seperti membuat konten artikel atau video berisi pesan perdamaian, toleransi dan ajaran Islam ramah, juga meme yang kontra radikalisme, dan lain sebagainya.

Cara ketiga yang mereka lakukan untuk memecah-belah bangsa Indonesia yaitu dengan mencetak kader militan. Kader militan ini ditempatkan oleh mereka di instansi atau komunitas yang lekat dengan agama, seperti pondok pesantren, masjid, sekolah, dan lain sebagainya. Tentu saja Islam ramah memiliki cara tersendiri untuk menangani hal tersebut yaitu dengan mengajarkan secara massif dan menerapkan ajaran ke-NU-an dan ke-Aswaja-an. Islam ramah diajarkan di sekolah atau dalam pengajian-pengajian di pesantren, masjid, dan majelis taklim. Wallahu a’lam.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *