Oleh Masyhari, Lc., M.H.I, Dosen Fikih & Ushul Fiqh IAI Cirebon & IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Rumah Baca – Sudah tidak diragukan lagi perbedaan merupakan suatu keniscayaan dalam kehidupan umat manusia (sunnatullah). Pergantian antara siang dan malam merupakan bagian dari bukti yang sangat nyata akan keniscayaan itu. Adanya siang dan malam, perbedaan warna kulit, perbedaan bahasa, perbedaan jenis kelamin, perbedan kabilah, suku dan lain sebagainya adalah suatu fenomena yang tidak saja menarik, namun harus menjadi pelajaran dan renungan bagi umat manusia, khususnya umat muslim. Melihat umat Islam adalah umat pilihan sudah selayaknya memiliki sikap moderat (wasath), bukan ekstrim kanan (ifrath) maupun ekstrim kiri (tafrith).

“Melihat umat Islam adalah umat pilihan sudah selayaknya memiliki sikap moderat (wasath), bukan ekstrim kanan (ifrath) maupun ekstrim kiri (tafrith).”

Perbedaan merupakan unsur terpenting dari keindahan. Dari kombinasi beberapa bentuk yang berbeda akan menghasilkan sesuatu yang menarik dan eksotis. Suatu objek pandang akan berbeda tergantung siapa dan bagaimana cara memandangnya (relatif), karena setiap manusia tidak hanya memiliki bentuk kepala yang berbeda, akan tetapi isi kepala, pendapat dan pemikiran yang berbeda pula. Hal itu terkait input yang diterimanya dan pengalaman hidupnya.

Segala sesuatu diciptakan oleh Allah swt dengan hikmah dan manfaat, baik diketahui manusia ataupun tidak hikmah itu. Begitu juga dengan perbedaan, ia diadakan oleh Allah dengan hikmah yang begitu banyak. Padahal kalau Allah berkehendak, Dia Maha kuasa untuk menjadikan manusia satu dengan segala-galanya sama, namun tidak. Di antara hikmah dari perbedaan yaitu sebagai tanda ke-Mahakuasaan serta ke-Mahaagungan-Nya, sebagai ujian dari-Nya siapa yang paling berkualitas amal perbuatannya, adanya proses interaksi dan saling mengenal di antara umat manusia, sehingga terciptalah rasa cinta dan keharmonisan, dan lain sebagainya. Bisa dibayangkan bilasaja Allah menciptakan manusia dengan model yang sama dengan pemikiran yang sama.

Bila manusia mau berpikir, mereka akan mengerti bahwa ikhtilaf (perbedaan) merupakan faktor pendorong (motivator) bagi mereka untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, juga merupakan wahana untuk saling mengenal dan memahami, sehingga semakin memperkuat ikatan persaudaraan antara umat Islam (ukhuwah Islamiyyah) dan persaudaraan antar umat manusia (ukhuwah basyariyyah).

Studi Ikhtilaf

Perlu ditegaskan di sini bahwa perbedaan (ikhtilaf) bukanlah perpecahan (iftiraq), keduanya adalah hal yang berbeda. Ikhtilaf adalah nikmat, sedangkan perpecahan adalah niqmah (bencana). Tidak sedikit ayat Al-Qur’an yang menegaskan hal ini, di antaranya yaitu (a) surat Al-Ruum [30]: 10, (b) surat Al-Baqarah [2]: 164, (c) surat Yunus [10]: 6,  (d) surat Ali Imran [3]: 160, dan ayat-ayat lainnya yang menjelaskan dengan gamblang bahwa perbedaan adalah bagian dari tanda kekuasaan (ayat kauniyyah) Allah swt.

Dalam konteks Hukum Islam, perbedaan yang dimaksud adalah perbedaan mazhab dan pandangan dalam fikih yang bersifat ijtihadiyyah, yang diwujudkan dalam fikih perbeandingan mazhab. Yang dimaksud perbandingan di sini adalah usaha untuk mengetengahkan dan mengkonfrontasikan antar berbagai pandangan para ulama terkait masalah yang diperselisihkan, landasan dan alasan metodologis dan yuridis yang mereka pergunakan dalam penggalian hukum (istinbat al-ahkam).

Studi ini diharapkan akan memperkenalkan perbedaan antar para ulama, dalil-dalil yang mereka pergunakan, serta sebab-sebab yang menjadikan mereka berbeda pendapat, dan bukan menjadi ajang merendahkan pendapat lawan atau mencari titik kelemahan ulama. Akan tetapi sebagai media untuk mencari pendapat yang paling mendekati kebenaran, karena sebagaimana sabda Nabi saw bahwa setiap mujtahid itu benar, bila menghasilkan produk yang salah akan mendapat satu pahala atas usaha dan jerih payahnya.

Perbandingan ini juga bertujuan untuk menjauhkan umat Islam dari sikap ‘ashabiyyah (fanatisme) terhadap suatu kelompok, pandangan, maupun tokoh manapun. Fanatisme seringkali disebabkan oleh kebodohan dan  ketidaktahuan terhadap informasi yang sebenarnya terkait pandangan mazhab dan landasan dari pendapat tersebut. Sungguh indah apa yang dikatakan oleh Al-Imam Al-Syafi’i, “Pendapatku benar, namun berpotensi salah. Sebaliknya, pendapat selainku salah, namun berpotensi benar.” Maka, perbedaan dan perbandingan dapat membangkitkan semangat persaudaraan dan toleransi antar umat Islam dan juga umat manusia.

Dalam tulisan ini akan diuraikan sekilas tentang pengertian ikhtilaf, macam-macam ikhtilaf, pandangan ulama terkait ikhtilaf, dan argumentasi masing-masing dari mereka, serta mengupayakan semaksimal mungkin untuk mencari titik temu, dan jalan tengah antar pandangan yang ada (kompromi) bila memungkinkan. Bila tidak, maka tiada ada jalan lain kecuali dengan jalan melakukan tarjih.

Definisi Ikhtilaf

Secara bahasa, ikhtilaf mengikuti wazan “ifti’al” yang tiada lain adalah bentuk masdar dari “ikhtalafa-yakhtalifu”, merupakan antonim dari “ittifaq (bersepakat). Seseorang dikatakan ikhtilaf dengan orang lain bila memiliki pandangan yang berbeda dengannya. Sesuatu dikatakan berbeda, bila tidak sesuai atau tidak sama. Antar manusia dikatakan ikhtilaf bilamana salah seorang dari mereka membela pendapat yang diikuti dan dipegangnya, seolah-olah ia pemilik pendapat tersebut (Mahir Yasin Al-Fahl, 5).

Selain kata ikhtilaf, dikenal istilah lainnya yaitu khilaf. Meskipun keduanya berasal dari akar kata yang sama, yaitu “kha-la-fa”, akan tetapi keduanya memiliki sisi perbedaan. Dalam “Lisan AlArab” disebutkan bahwa kata “khilaf” berarti “mudhadah” (berlawanan). Namun terkadang, antara kedua seringkali dipakai sebagai sinonim. Namun jika diperhatikan secara seksama dalam Al-Qur’an, akan jelas bagi kita bahwa kata “khilaf” atau “Khaalafa” diidentikkan dengan sebuah pelanggaran yang dilakukan secara sengaja. Sebagaimana firman Allah swt:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya, “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”(QS. Al-Nuur [24]: 63).

Juga firman Allah swt:

فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ

Artinya, “Orang-orang yang tidak turut serta berperang itu merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah…”(QS. Al-Taubah [9]: 81).

Yang dimaksud di belakang yaitu berbeda sikap dengan Rasulullah saw.

Hal ini berbeda dengan kata “ikhtilaf”, dimana kebanyakan digunakan untuk mengungkapkan perbedaan yang berlainan dalam bentuk, warna dan lain sebagainya.

إِنَّ فِي اخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَّقُونَ

Artinya, “Sesungguhnya pada perbedaan (pergantian) malam dan siang itu, dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang- orang yang bertakwa.” (QS. Yunus [10]: 6).

Ada pula perbedaan yang terjadi akibat perbedaan persepsi dan pemahaman (Abd Al-Wahhab Abd Al-Salam Thawilah, 2000: 17).

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Artinya, “Dan Kami tidak menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) ini kepadamu, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. Al-Nahl [16]: 64).

Dalam ranah fikih, term yang digunakan para ulama adalah pengertian ikhtilaf secara bahasa sebagaimana disebutkan di atas (Mahir Yasin Fahl: 5).

*) Tulisan ini pernah dimuat di website IAI Cirebon

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *