Mungkin gambar 1 orang dan tersenyum
Oleh M Kholid Syeirazi, Sekjend PP ISNU

Setiap kondangan nikah, di kampung saya, ada lagu wajib yang selalu diputar. Penyanyinya grup gambus Nasida Ria. Judulnya Pengantin Baru. Liriknya begini: ‘Duhai senangnya pengantin baru, duduk bersanding bersenda gurau, bagaikan raja dan permaisuri,’ dst… Kenapa terus diputar ulang? Karena romansa. Pasangan-pasangan tua, yang hadir kondangan, diingatkan bahwa mereka pun pernah muda. Mereka juga pernah seperti itu, dulu. Bagaikan raja dan permaisuri, semalam.

Sekarang ada lagu lama yang diputar tahunan. Tidak di kondangan. Tapi di setiap penghujung September. Lakonnya PKI, yang diganyang Soeharto. Soeharto jadi hero. Setelah itu, dia berkuasa selama tiga dekade. Tiap tahun dia membarui legitimasinya. Dia mengingatkan dialah jawaranya, yang menyelamatkan Indonesia dari hantu komunisme. Dia perintahkan TVRI menayangkan film G30S PKI. Saya tiap tahun menontonnya, tanpa tahu persis kebenarannya. Saya menikmatinya seperti saya menikmati film horor yang lain. Adegan-adegannya menegangkan, terutama ketika di lubang buaya. Saya percaya PKI berontak beberapa kali. Mereka juga sadis. Tapi saya tidak yakin gambaran kekejaman PKI seperti adegan film itu.

Setelah Orba runtuh, film itu tidak lagi nongol di TVRI. Tetapi, ada petugas yang terus memeliharanya. Tiap tahun dia muncul, mengingatkan bahaya PKI. Arusnya kenceng jelang hajatan Pilpres. Tahun 2014, isu ini digoreng sebagai adonan politik. Setelah itu, setiap tahun, aktornya itu-itu saja. Jualannya itu-itu juga. Sepanjang September, kejadian-kejadian yang mungkin tidak berhubungan, tiba-tiba jadi berhubungan. Hubungannya dengan anasir kebangkitan PKI.

Tahun 2017, saya menulis, untuk merespons isu itu. Judulnya ‘Tentang Kebangkitan PKI.’ Ini tulisan, yang saya posting di fesbuk, yang paling banyak dikanibal oleh portal-portal online. Saya senang-senang saja. Dia juga diviralkan di grup-grup WA. Setiap penghujung September, setiap tahun, tulisan itu seperti menemukan jalannya untuk dibaca orang. Orang-orang yang tidak suka dengan Gatot N, tetapi tidak tahu caranya membantah, merasa cukup terwakili oleh tulisan itu. Saya iseng searching di google. Hasilnya, tulisan itu memang terus didaur ulang, tiap tahun. Ini antara lain:

https://wartakota.tribunnews.com/…/sekjen-pp-isnu-ini…
https://medan.tribunnews.com/…/sekjen-pp-isnu-sebut-isu…
https://www.infopresiden.com/…/isu-kebangkitan-pki…
https://arrahim.id/author/syeirazi/
https://santrinews.com/Opini/10514/Tentang-Kebangkitan-PKI
dan lain sebagainya.

Tahun ini juga begitu. Gatot N kembali jualan isu PKI. Penabuh kendangnya barisan yang sama. Pemantiknya pemindahan tiga patung di Museum Dharma Bhakti: patung Soeharto, Sarwo Edhie, dan AH Nasution. Gatot N langsung teriak: PKI menyusup di tubuh TNI. Tulisan lama saya, tiba-tiba muncul lagi. Sama-sama lagu lama, yang diputar ulang. Entah sampai kapan.

Saya menerka-nerka, apa sebenarnya motif orang kayak GN? Saya tahu dia punya obesesi politik. Tapi mestinya dia pegang kalkulator. Apakah isu ini punya insentif elektoral? Basisnya harus data, evidence-based. Ini kata survei SMRC, tahun 2020. Hanya 36 persen responden yang ngeh soal isu PKI, 64 persen tidak tahu atau tidak peduli. Dari jumlah yang aware dengan isu PKI, jika diekstrapolasi dari total populasi, jumlahnya hanya 14 persen. Dari 2016 sampai 2020, jumlah yang percaya isu kebangkitan PKI hanya berkisar 10-16 persen. Ini jumlah kecil, jika maksudnya adalah insentif elektoral. Alhasil, jualan itu tidak laku, alias gatot: gagal total.

Kalau tidak punya maksud politik, dalam rangka maintenance konstituen, terus apa motifnya? Apa betul maksudnya cuma ideologis: dia betul-betul tidak ingin Indonesia jatuh ke pelukan komunisme?

Komunisme telah raib. Dia cuma jadi bungkus sistem pengendalian politik dengan pasar terbuka, seperti China. Tidak ada orang yang mau hidup dalam sistem komunis. Kalau tidak percaya, tanya rakyatnya Kim Jong-un. Seumur hidup mereka sakit gigi dan tidak bisa buka mulut. Mereka hanya bisa gerundel tentang kelakukan pemimpinnya yang aneh. Di sini kita bisa buka mulut. Sayang minat baca kita kurang. Orang jadi sok pintar dengan ponsel pintar dan merasa jadi jagoan di medsos. Hoaks merajalela. Fitnah dan bulliying jadi menu harian warganet, warga dari planet antah berantah. Akhirnya dibuatlah UU ITE. UU itu mestinya tidak perlu ada, jika kita dewasa. Cuma kita ini seumpama anak-anak yang euforia. Kita rayakan kebebasan sebebas-bebasnya, setelah belasan tahun sebelumnya kita dipaksa tidak bebas. Kita lantas tidak bisa membedakan antara kritik dengan fitnah, nyinyir dengan kebebasan berekspresi, kontrol dengan insinuasi.

Sayangnya, pemerintah juga telinganya tipis. Mereka tidak tahan dengan suara-suara mural yang bungkam. Kenapa mural-mural itu tidak dibiarkan sebagai khazanah seni? Dia adalah seni bicara dalam sunyi.

Dunia hidup dalam tegangan elemen kanan dan kiri. Kita tidak mungkin hidup di ekstrim kanan atau kiri. Seluruh dunia, yang normal, mengayun di tengah-tengahnya. Ayunan pendulum itu, tentu saja, kadang bergerak doyong ke kanan atau ke kiri. Amerika itu kanan, tetapi juga sangat kiri. Dalam beberapa kasus, negara tampil sebagai aktor utama pembangunan, atau perlindungan, seperti program Obamacare. China itu kiri, tetapi saham raksasa minyaknya sekarang diprivatisasi sebagian. Kita lebih kiri ketimbang China. Jangankan induknya, rencana IPO anak perusahan Pertamina saja sudah ditentang serikat pekerja.

Dunia panggung kompetisi, dan juga kolaborasi. Tidak mungkin bisa bersanding tanpa bertanding. Juga tidak mungkin terus bertanding tanpa mau bersanding. Sistem dunia harus menyerap elemen terbaik dari dua sisi. Sistem-sistem ekstrem itu tidak laku. Kata Nabi, perkara terbaik adalah di tengahnya. Jadi, saya yakin sistem ektrem seperti komunisme itu tidak laku. Kapitalisme bisa unggul karena dia mau menyerap elemen aspirasi komunisme-sosialisme. Lahirlah konsep welfare state. Kita ikut di situ, dengan kekhasan tertentu, yaitu koperasi sebagai soko gurunya, kata Bung Hatta.

Orang yang mikirnya PKI itu hanya soal ateisme, dan karena itu anti-agama, pasti malas berpikir bagaimana absurd-nya konsep ekonomi-politik komunisme. Intinya tidak gampang jadi komunis, bro. Orang bahkan bilang gagasan Karl Marx itu utopia, mimpi yang terlalu indah untuk menjadi nyata, too good to be true.

Tapi saya kasihan, ada orang yang terus memelihara wahamnya tentang PKI. Dia tidak mau melepas kaca matanya, enggan mengubah cara berpikirnya. Kata Richard Branson, ‘Only a fool never changes his mind.’ ‘Orang yang tidak pernah mengubah pikirannya, dia tidak pernah berpikir sama sekali,’ kata Mirabeau. Apa sampeyan ikhlas dengan anekdot tentang otak orang Indonesia yang baru, karena tidak pernah dipakai?

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *