0 0
Read Time:4 Minute, 21 Second

Oleh Ahmad Rusdiana*)

Kepekaan atau literasi pada seseorang tentu tidak muncul begitu saja. Tidak ada manusia yang sudah literat sejak lahir.

Menciptakan generasi literat membutuhkan proses panjang dan sarana yang kondusif. Budaya inilah yang nampaknya belum dimiliki sebagian besar masyarakat Indonesia.

Hal ini terbukti dengan banyaknya peristiwa-peristiwa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat yang bersumber pada kesalahan komunikasi, salah pengertian, dan ledakan emosi sesaat.

Kenyataannya masyarakat masih menganggap aktifitas membaca untuk menghabiskan waktu (to kill time), bukan mengisi waktu (to full time) dengan sengaja. Artinya aktifitas membaca belum menjadi kebiasaan (habit) tapi lebih kepada kegiatan ’iseng’.

Kebiasaan adalah perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa adanya unsur paksaan. Kebiasaan bukanlah sesuatu yang alamiah dalam diri manusia tetapi merupakan hasil proses belajar dan pengaruh pengalaman dan keadaan lingkungan sekitar (Kimbey, 1975). Karena itu kebiasaan dapat dibina dan ditumbuhkembangkan.

Sedangkan membaca, menurut Nurhadi (1978) dan Wijono (1981), merupakan suatu proses komunikasi ide antara pengarang dengan pembaca, di mana dalam proses ini pembaca berusaha menginter-pretasikan makna dari lambang-lambang atau bahasa pengarang untuk menangkap dan memahami ide pengarang/penulis.

Maka kebiasaan membaca adalah kegiatan membaca yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa ada unsur paksaan.

Kebiasaan membaca mencakup waktu untuk membaca, jenis bahan bacaan, cara mendapatkan bahan bacaan, dan banyaknya buku/bahan bacaan yang dibaca.

Namun demikian, kemampuan membaca pada diri seseorang bukan jaminan bagi terciptanya kebiasaaan membaca karena kebiasaan membaca juga dipengaruhi oleh faktor lainnya (Winoto, 1994), seperti ketersediaan bahan bacaan.

Dalam pembelajaran guru atau dosen wajib menyediakan bahan ajar, hand out, dan lain sejenisnya.

Perkembangan kebiasaan melakukan kegiatan merupakan proses belajar yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Gould (1991) menyebut bahwa faktor internal dalam hal ini yaitu kematangan individu, sedangkan faktor ekternal seperti stimulasi dari lingkungan.

Hal itu disebabkan kurangnya pembiasaan membaca dan kemampuan mendapatkan keterampilan-keterampilan baru. Padahal penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca dengan tujuan meningkatkan rasa cinta baca di luar jam pelajaran dapat meningkatkan kemampuan memahami bacaan, meningkatkan rasa percaya diri sebagai pembaca yang baik dan menumbuhkembangkan penggunaan berbagai sumber bacaan (Permendikbud No. 23 Tahun 2015). Baca selengkapnya di sini.

Persoalannya bagaimana membiasakan perserta didik atau mahasiswa untuk dapat membaca dan kemampuan mendapatkan keterampilan-keterampilan baru?

Sebagai alternaif untuk membiasakan itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru/dosen:

Pertama: Penggunaan Metode Pembelajaran

Salah satu metode pembelajaran dalam bidang Sains, yang sampai sekarang masih tetap dianggap sebagai metode yang cukup efektif adalah metode inkuiri. Haury (1993) dalam artikelnya mengutip definisi dari Alfred Novak bahwa inkuiri merupakan tingkah laku yang terlibat dalam usaha manusia untuk menjelaskan secara rasional fenomena-fenomena yang memancing rasa ingin tahu. Dengan kata lain, inkuir berkaitan dengan aktivitas dan keterampilan aktif yang fokus pada pencarian pengetahuan atau pemahaman untuk memuaskan rasa ingin tahu.

Kedua: Penggunaan Media Pembelajaran

LMS atau yang lebih dikenal dengan Learning Management System, sebagai media pembelajaran menggunakan open source yang telah tersedia. LMS diharapkan dapat menarik perhatian siswa, memberikan motivasi pada siswa, dan disesuaikan dengan minat siswa sehingga diharapkan informasi yang disampaikan melalui media tersebut dapat ditangkap oleh siswa dan diujicobakan pada proses belajar mengajar untuk melihat kepraktisan penggunaan LMS.

LMS adalah sebuah perangkat lunak atau software untuk keperluan administrasi, dokumentasi, pencarian materi, laporan sebuah kegiatan, penugasan, pemberian materi-materi pelatihan kegiatan belajar mengajar secara online yang terhubung ke internet.

LMS digunakan untuk membuat materi pembelajaran online berbasiskan web dan mengelola kegiatan pembelajaran serta hasil-hasilnya. LMS ini, sering disebut juga dengan platform e-learning atau learning content management system (LCMS)” (Ellis (2009).

Intinya LMS adalah aplikasi yang mengotomasi dan memvirtualisasi proses belajar mengajar secara elektronik.

Ketiga: Model Assigmet (Penugasan) di LMS

Penugasan sudah barang tentu harus relevan dengan metode inkuiri. Salah satu contoh pembiasaan tugas mahasiswa diterapkan dalam mata kuliah Kebijakan Pendidikan, di LMS dengan Pokok Bahasan “Implementasi Kebijakan Pendidikan” Kemampuan Akhir Pembelajaran: Setelah mengikuti perkuliahan mahasiswa diharapkan dapat mengetahui batasan-batasan implentasi kebijakan. Baca selengkapnya di sini.

Adapun pembisaan tugas mahasiswa sebagai berikut:
1) Mengidentifikasi dan mengabstraksikan 4 poin penting dari kajian Implementasi Kebijakan Pendidikan:
 Konsep Dasar implementasi kebijakan pendidikan
 Model Teori Implementasi Kebijakan pendidikan.
 Model Implementasi Kebijakan pendidikan di Indonesia
 Pendekatan dan Langkah-langkan Implementasi Kebijakan pendidikan
2) Temukan Esensi/Nilai dari 4 poin penting dari kajian di atas. Tulis pada kolom summary maksimal 10 kalimat
3) Batasi Penulisan keseluruhan maksimal 500 kata berdasar pada word count. Walahu A’lam Bishowab.

*) Ahmad Rusdiana, Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peneliti PerguruanTinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) sejak tahun 2010 sampai sekarang. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Misbah Cipadung-Bandung yang mengem-bangkan pendidikan Diniah, RA, MI, dan MTs, sejak tahun 1984, serta garapan khusus Bina Desa, melalui Yayasan Pengembangan Swadaya Masyarakat Tresna Bhakti, yang didirikannya sejak tahun 1994 dan sekaligus sebagai Pendiri/Ketua Yayasan, kegiatannya pembinaan dan pengembangan asrama mahasiswa pada setiap tahunnya tidak kurang dari 50 mahasiswa di Asrama Tresna Bhakti Cibiru Bandung. Membina dan mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) TK-TPA-Paket A-B-C. Rumah Baca Masyarakat Tresna Bhakti sejak tahun 2007 di Desa Cinyasag Kecamatan. Panawangan Kabupaten. Ciamis. Karya Lengkap sd. Tahun 2022 dapat di akses melalui: (1) http://digilib.uinsgd.ac.id/view/creators. (2) https://www.google.com/search?q=buku+ a.rusdiana+ shopee& source (3) https://play.google.com/ store/books/author?id.

About Post Author

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id