Oleh A. Rusdiana, Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Dalam menyongsong abad ke-21, kehadiran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam bidang pendidikan memang tidak dapat dielakkan lagi. Hampir seluruh elemen pendidikan dan pembelajaran dilakukan dengan menerapkan TIK di dalamnya. Kondisi inilah yang menuntut para pendidik dan peserta didik untuk melek teknologi. Salah satunya dengan menerapkan literasi TIK dalam bidang pendidikan sebagai wujud upaya dalam memenuhi skill atau keterampilan Abad ke- 21 yang dikemukakan oleh World Economic Forum pada tahun 2015 lalu.

Literasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), mau tidak mau suka atau tidak suka, harus diimplementasikan kedalam jenjang pendidikan sedini mungkin. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk melakukan pembaharuan dan inovasi Pendidikan dalam menyongsong abad ke-21. Aplikasi program literasi TIK ini dapat dilakukan mulai dari sekolah dasar, menengah, hingga level pendidikan tinggi. (Helaluddin 2019). Di samping itu, literasi TIK juga harus diberlakukan untuk insan pendidikan yang lain, tidak hanya diterapkan kepada pembelajar tetapi juga para pengajar dan tenaga administrasi pendidikan. Terlebih, seiring pula dengan terjadinya penyebaran wabah covid-19 dalam dua tahun terahir ini, masih belum mereda.

Literasi Teknologi, dimaknai sebagai ”kemampuan seseorang untuk bekerja secara independen maupun bekerjasama dengan orang lain secara efektif, penuh tanggung jaab dan tepat dengan menggunakan instrumen teknologi untuk mendapat, mengelola, kemudian mengintegrasikan, engevaluasi, membuat serta mengkomunikasikan informasi”(Ginting 2020).

Melalui program literasi TIK, diharapkan para peserta didik memiliki beberapa keterampilan TIK. Keterampilan ini sangat krusial dalam mencari dan menentukan informasi dari sumber-sumber yang tak terbatas, berkomunikasi melalui komputer dan memanipulasi informasi tertentu untuk tujuan tertentu seperti melengkapi tugas, presentasi, dan analisis data. Lebih lanjut, teknologi informasi juga sangat vital peranannya dalam kebutuhan sosial peserta didik, seperti interaksi dalam media sosial, menikmati hobi, menciptakan ide-ide kreatif, dan menemukan informasi yang berkaitan dengan pembelajaran (Ahmad et al., 2016).

Badan Litbang Sumber Daya Manusia (SDM) Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) memberikan salah satu model dalam mengukur tingkat literasi TIK, yaitu model P-CMM atau Personal Capability Matuarity Modle. Dalam model ini dikenal lima tingkatan di dalamnya yakni:

Pertama: Tingkatan nol; bermakna bahwa jika individu/seseorang tidak peduli atau tidak tahu tentang peran pentingnya teknologi informasi dan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua: Tingkatan satu; adalah sebuah tingkatan jika seseorang pernah sesekali menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam mencari atau memecahkan masalah.

Tingkatan selanjutnya dalam model P-CMM adalah tingkatan dua, yaitu tingkatan yang memposisikan seseorang telah menggunakan teknologi berkali-kali dalam aktivitas sehari-hari.

Tingkatan ketiga, yaitu kondisi seseorang yang memiliki kesadaran dan pengetahuan tentang penggunaan teknologi dalam kehidupannya sehari-hari dan secara konsisten tetap menggunakannya.

Tingkatan keempat adalah tingkatan di mana seseorang telah mampu dan berhasil meningkatkan kualitas kinerjanya sehari-hari dengan menggunakan teknologi informasi dalam aktivitasnya sehari-hari.

Tingkatan kelima adalah kondisi individu yang telah menganggap teknologi komunikasi dan informasi sebagai bagian yang takterpisahkan dari aktivitas sehari-hari yang menyadari baik secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap tingkahlaku dan budaya hidupnya.

Dalam melakukan asesmen terhadap literasi TIK, biasanya peneliti atau praktisi pendidikan dapat menggunakan panduan dari ETS (Educational Testing Service). Asesmen ini, terfokus pada ranah kognitif, yaitu problem solving dan kemampuan berpikir kritis yang diasosiasikan dengan penggunaan teknologi untuk mengatur informasi. Pengukuran asesmen pada literasi TIK melalui tujuh area performansi, yaitu define, acces, manage, integrate, evaluate, create, dan communicate (Katz & Macklin, 2007).

Kecakapan pertama; dalam area performansi di atas adalah define atau pendefinisian. Kecakapan ini merupakan kemampuan seseorang dalam menggunakan peralatan digital untuk mengidentifikasi dan merepresentasikan kebutuhan informasi.

Kecakapan kedua; adalah kecakapan acces atau kecakapan dalam mengumpulkan dan mendapatkan informasi dalam lingkungan digital.

Kecakapan ketiga manage, adalah kecakapan dalam menggunakan peralatan digital untuk mengaplikasikan atau mengklasifikasikan skema untuk sebuah informasi.
Kecakapan keemapat integrate; adalah kecakapan seseorang menginterpretasikan dan merepresentasikan seperti, seperti penggunaan alat digital untuk menyintesiskan, menyimpulkan, membandingkan, dan membandingkan informasi dari sumber yang beragam.

Kelima, kecakapan yang dikemukakan oleh ETS tersebut adalah evaluate. Kecakapan ini merupakan kemampuan seeorang dalam menilai sejauh mana informasi digital tersebut memenuhi kebutuhan masalah informasi, termasuk menentukan otoritas, bias, dan ketepatan material. Selanjutnya, kecakapan yang ditentukan dalam ranah tersebut adalah menciptakan atau create. Kecakapan ini merupakan kemampuan mengadaptasi, mengaplikasikan, mendesain, atau mengonstruksi informasi dalam lingkungan digital. Terakhir, kecakapan dalam ranah ini adalah communicate yaitu kemampuan seseorang dalam mendesiminasi/ mempublikasi/ menyebar informasi yang relevan pada audiens tertentu dalam format digital yang efektif. Wallahu A’lam Bishowab.

Penulis:

Ahmad Rusdiana, Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peneliti PerguruanTinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) sejak tahun 2010 sampai sekarang. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Misbah Cipadung-Bandung yang mengem-bangkan pendidikan Diniah, RA, MI, dan MTs, sejak tahun 1984, serta garapan khusus Bina Desa, melalui Yayasan Pengembangan Swadaya Masyarakat Tresna Bhakti, yang didirikannya sejak tahun 1994 dan sekaligus sebagai Pendiri/Ketua Yayasan, kegiatannya pembinaan dan pengembangan asrama mahasiswa pada setiap tahunnya tidak kurang dari 50 mahasiswa di Asrama Tresna Bhakti Cibiru Bandung. Membina dan mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) TK-TPA-Paket A-B-C. Rumah Baca Masyarakat Tresna Bhakti sejak tahun 2007 di Desa Cinyasag Kecamatan. Panawangan Kabupaten. Ciamis Provinsi Jawa Barat. Karya Lengkap sd. Tahun 2022 dapat di akses melalui: (1) http://digilib.uinsgd.ac.id/view/creators. (2) https://www.google.com/search?+a.rusdiana+shopee & source (3) https://play.google.com/store/books/author?id.

Bagikan tulisan ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id