Oleh Ati Latifah*)

Rumah Baca – Saya awali tulisan ini dengan membahas situs makam keramat di desa Cirebon Girang. Desa ini berada di wilayah kecamatan Talun kabupaten Cirebon Jawa Barat. Menurut informasi yang saya peroleh dari Kuwu Ruslani Abdullah, SE, jumlah penduduk desa Cirebon Girang terbilang padat, yaitu sebanyak 12.450 jiwa. “Dengan demikian, dari 11 desa di kecamatan Talun, Cirebon Girang merupakan desa dengan jumlah penduduk terpadat,” terang Kuwu Ruslani.

Makam keramat tersebut di kalangan masyarakat Cirebon dikenal dengan nama Makam Kramat Talun. Lalu siapakah sosok yang dimakamkan di sana? Kabarnya, yang dikuburkan di situs makam kramat tersebut adalah Mbah Kuwu Sangkan. Sementara menurut Tohir, sesepuh Cirebon Girang, sebagaimana dikutip oleh Fajarsatu.com, situs tersebut adalah petilasan Mbah Kuwu Sangkan. Tempat itu semacam padepokan, tempat beliau singgah, melakukan pertapaan dan membimbing para santri semasa hidupnya.

Lantas, siapa yang dimakamkan di situ? Menurut Tohir, yang dimakamkan di situ adalah santri yang membantu Mbah Kuwu Sangkan dalam menjalankan syiar islam. Sedangkan Mbah Kuwu Sangkan dimakamkan di gunung Sembung, di komplek makam Sunan Gunung Jati.

Siapakah Sosok Mbah Kuwu Sangkan?

Sosok Mbah Kuwu Sangkan yang mempunyai nama asli Walangsungsang (baca: Pangeran Walangsungsang) adalah putra Prabu Siliwangi (Raja Galuh atau Prabu Sri Baduga Maharaja) dan Nyai Mas Subanglarang. Selain Pangeran Walangsungsang, Prabu Siliwangi dan Nyai Mas Subanglarang juga mempunyai dua orang anak lagi yang bernama Nyai Mas Ratu Rara Santang dan Pangeran Raja Sangara. Total tiga bersaudara.

Selain dikenal dengan Mbah Kuwu Sangkan, Pangeran Walangsungsang juga memiliki nama lain yaitu Raden Kian Santang dan Pangeran Cakrabuana. Keempat nama ini adalah sosok yang sama.

Pangeran Walangsungsang lahir di kerajaan Sunda Galuh yang beribu kota di Pakuan Pajajaran (Bogor) Jawa Barat. Menurut berbagai catatan sejarah, kerajaan Sunda Galuh merupakan hasil penyatuan dua kerajaan; Sunda dan Galuh. Kerajaan Sunda beribu kota di Pakuan (Bogor) dan kerajaan Galuh beribu kota di Kawali (sekarang Ciamis). Saat itu, kedua orang tuanya (Prabu Siliwangi dan istri) belum memeluk Islam.

Menurut informasi yang saya dapatkan dari tetua desa Cirebon Girang, Drs. Sukardi Hariri, akhirnya Walangsungsang pergi berkelana ke arah utara. Hal yang membuat Walangsungsang harus berkelana yaitu dalam rangka mencari tahu tentang ajaran Islam. Ia bermimpi ada sebuah agama yang mengajarkan kebaikan, yang akan menyelamatkan manusia di dunia dan di akhirat, yaitu Islam.

Pangeran Walangsungsang keluar dari Istana Pajajaran berkelana bersama dengan istrinya, Nyai Mas Endang Geulis dan juga adiknya, Nyai Mas Rara Santang. Perjalanannya dimulai dengan melewati gunung Merapi, gunung Ciangkup, gunung Kumbang, dan gunung Cangak. Di setiap perjalanan, mereka bertemu dengan seseorang yang bisa dikatakan sebagai guru, namun beliau belum juga menemukan penjelasan tentang Islam.

Ketika perjalanannya sampai di gunung Cangak, Walangsungsang bertemu dengan Sang Hiang Bangau. Sang Hiang Bangau memerintahkan Pangeran Walangsungsang untuk meneruskan perjalanannya. Akhirnya, Pangeran Walangsungsang beserta istri dan adiknya bertemu dengan Syekh Nur Jati (Syekh Dzatul Kahfi). Walangsungsang menyampaikan maksud dan tujuannya berkelana yakni ingin belajar dan mendalami ilmu agama Islam pada Syech Nur Jati. Diajarkan padanya semua tentang ilmu agama Islam, berikut juga mengenai rukun Iman dan rukun Islam. Dan akhirnya Pangeran Walangsungsang beserta istri dan adiknya bersyahadat, memeluk agama Islam.

Setelah dirasa sudah cukup ilmu yang dimiliki oleh Pangeran Walangsungsang, Syech Nur Jati memerintahkannya untuk berkelana, melakukan pengembaraan untuk menemui Ki Geden Danusela (Ki Pangalang Alang). Karena hormat dan takzim pada sang guru, Pangeran Walangsungsang menuruti perintah Syekh Nur Jati. Dengan mengajak istri serta adiknya, sampailah di tempat Ki Pangalang Alang.

Sampai diizinkannya Pangeran Walangsungsang untuk membangun sebuah padukuhan (tempat tinggal), untuk bermukim. Izin tersebut dengan syarat, Pangeran Walangsungsang harus menebang pepohonan dan hutan belantara yang ada di sana, dengan harapan tempat tersebut sebagaimana diyakini Ki Pangalang Alang dikunjungi oleh banyak orang. Tepat pada tanggal 1 Suro (Muharram) dimulailah proses penebangan pepohonan di hutan belantara oleh Pangeran Walangsungsang.

Akhirnya, menetaplah Pangeran Walangsungsang di wilayah Cirebon Selatan, sampai mendapatkan mata pencaharian sendiri. Selama berada di sana, beliau mencari ikan rebon di tepi laut Cirebon yang kemudian diolah menjadi terasi. Usaha pengolahan rebon menjadi terasi ini kian besar, hingga tersiarlah kabar ini sampai ke wilayah Pasundan, pusat kerajaan Pajajaran.

Serentak warga Pasundan menemuinya untuk membeli rebonnya, sambil berkata, “Geura age garagalna,” yang artinya kurang lebih: cepat, ditumbuk rebon dan ikan kecilnya. Kata-kata itu diucapkan oleh orang Pasundan karena melihat banyak sekali orang yang antri membeli rebon olahan beliau. Kata-kata geura age garagalna ini diucapkan oleh lidah orang Jawa Cirebon berubah menjadi Gerage. Mungkin, itu salah satu asalmuasal terciptanya nama Grage di Cirebon. Wallahu a’lam.

Sampai pada akhirnya Ki Pangalang Alang mengutus para prajuritnya untuk mengumpulkan penduduk Cirebon wilayah Selatan untuk mengadakan pemilihan pemimpin yang saat itu disebut Pikuat atau Kuwu. Terpilihlah Pangeran walangsungsang menjadi Kuwu di wilayah Cirebon Selatan, sekaligus kuwu pertama di wilayah Cirebon. Meskipun sebelumnya wilayah Cirebon Selatan sudah lebih dulu dipimpin oleh Ki Pangalang Alang, hanya saja istilah kuwu belum resmi digunakan, seperti halnya pemilihan Kuwu yang dipilih oleh penduduk langsung. Sampai saat ini hampir semua desa di Cirebon (dan Indramayu) mempunyai Kepala Desa yang disebut Kuwu, wabilkhusus di wilayah Kabupaten Cirebon.

Tradisi Haul Mbah Kuwu Sangkan

Setiap tanggal 1 Muharam atau 1 Suro diperingati sebagai Haulnya Mbah Kuwu Sangkan (Pangeran Walangsungsang). Acara rutinan ini pada setiap tahunnya dihadiri oleh seluruh kuwu se-kabupaten Cirebon dan juga Bupati Cirebon. Acara tersebut dilaksanakan di situs makam keramat Mbah Kuwu Sangkan desa Cirebon Girang.

Adapun rangkaian acara haul Mbah Kuwu Sangkan di antaranya yaitu Ngaji Budaya atau mengulang kembali cerita sejarah Babad Cirebon, perjalanan Mbah Kuwu Sangkan, kreasi kesenian khas Cirebon, santunan anak yatim piatu, ziarah dan napak tilas ke Makam Sunan Gunung Jati Cirebon.

Demikian, kurang lebih hasil penelusuran informasi tentang situs sejarah dan perjalanan Pangeran Walangsungsang (Mbah Kuwu Sangkan) hingga ke Cirebon. Semoga menambah pengetahuan untuk kita semua, terutama penulis bagi pribadi. Bagi yang sudah tahu tentang sejarah situs makam kramat Talun, anggap saja ketika baca tulisan ini Anda sedang bernostalgia dan diingatkan kembali. Mohon koreksi. Terima kasih. Salam Literasi 👆.

Talun, 11 Juli 2021

*) Penulis adalah mahasiswi Program Studi Hukum Keluarga Islam IAI Cirebon, aktivis UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon, tinggal di komplek situs makam keramat Talun

Editor: Masyhari

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

One thought on “Menelusuri Jejak Sejarah Mbah Kuwu Sangkan Pendiri Cirebon”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *