Oleh A. Rusdiana, Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Kemampuan literasi statistik sangat penting bagi semua orang dalam menentukan keputusan berdasarkan informasi yang diperoleh, sehingga memiliki ketepatan dalam membuat sebuah kesimpulan. Kemampuan literasi ini telah dikembangkan sejak dini namun membutuhkan proses yang sangat lama (Pierce & Chick, 2013). Bahkan Kementerian Pendidikan menjadikan materi statistika sebagai salah satu materi yang diujikan pada Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) untuk mengukur tingkat literasi numerasi siswa (Pusmenjar, 2021).

Tetapi fenomena yang terjadi, masih banyak siswa maupun mahasiswa yang masih memiliki kemampuan literasi statistis ini dalam kategori rendah. Hal ini sejalan dengan penelitian (Ruhyana (2016); Maryati et.al., 2019) yang menyatakan siswa Sekolah Menengah Pertama masih mengalami kesulitan dalam belajar penyajian data dalam bentuk diagram dan grafik. Pulungan & Herosian (2019) menyatakan dengan masih rendahnya kemampuan literasi statistis siswa Sekolah Menengah Atas dikembangkannya tes literasi statistis melalui tiga tahap pengembangan dan enam aspek literasi statistis. Begitu pula dengan kemampuan literasi statistis mahasiswa masih rendah sejalan dengan penelitian (Hafiyusholeh et al., 2017). Terdapat 37,5% dari 32 orang mahasiswa calon guru pendidikan agama islam yang mampu memberikan interprestasi data (Nahdi, et al., 2021).

Martadipura (Yuniawati, 2018) menyatakan bahwa indikator kemampuan literasi statistic meliputi: (1) penalaran terhadap data; (2) penalaran terhadap konsep dasar statistic istilah-istilah dalam statistika; (3) penalaran terhadap pengumpulan dan pengolahan data secara deskriptif; (4) menerjemahkan data; dan (5) komunikasi data dan hasil. Lebih lanjut, dikatakan bahwa keempat indicator tersebut menunjukkan bahwa kemampuan literasi statistik tidak hanya berfokus pada pemahaman pengetahuan statistika, tetapi lebih mendalam pada kemampuan penalaran (Yuniawati, 2018).

Salah satu mata kuliah yang dipelajari oleh mahasiswa calon guru matematika terkait statistika adalah mata kuliah metode statistika. Mata kuliah metode statistika bertujuan mengembangkan kemampuan penalaran statistik, yang salah satunya mengerucut pada kemampuan literasi (melek). Adapun Pembelajaran statistika di Perguruan Tinggi bertujuan untuk mengembangkan kompetensi dasar mahasiswa yang meliputi: (1) kemampuan memahamai data; (2) kemampuan memahami konsep dasar statistika dan terminologinya; (3) kemampuan mengumpulkan data dan mendeskripsikannya; (4) keterampilan menginterpretasikan data; dan (5) dasar komunikasi (Rumsey, 2002).

Kemampuan penalaran statistik diartikan sebagai kemampuan menalar menggunakan ide statistik dan bisa dipahami dari informasi yang bersifat statistik (Garfield& Chance,2000). Dijelaskan lebih lanjut, penalaran statistik mencakup pada interpretasi berdasarkan data, representasi data, atau ringkasan statistik data. Beberapa ahli membedakan penalaran statistik dengan penalaran matematis (delMas, 2002). Karakteristik berpikir statistik lebih spesifik dibandingkan dengan matematis yang selanjutnya kemampuan penalaran tersebut merupakan bagian tidak terpisahkan dari kemampuan literasi statistik (melek statistika) (delMas,2002).

Terakhir Penelitian Andriatna, et.al. (2021), hasil analisis mereka menunjukkan bahwa “pencapaian kemampuan literasi statistic mahasiswa calon guru matematika belum merata untuk setiap indikatornya, yaitu indicator penalaran terhadap data dan hasil statistika berada pada level multistruktural, indikator penalaran terhadap konsep dasar dan istilah statistika berada pada level unistruktural, indikator penalaran terhadap pengumpulan dan pengolahan data secara deskriptif berada pada level relasional, dan indikator melakukan interpretasi data berada pada level unistruktural.

Pertanyaanya mengap demikian? Untuk hal itu Tiro&Nusrang dalam Jurnalnya berjudul Eksplorasi Pembelajaran Literasi Statistika Dalam Paradigma Konstruktivisme (2016), mengidentifikasi ada beberapa alasan di antaranya:

Pertama; Pembelajaran statistika dewasa ini masih dipengaruhi oleh pembelajaran dengan cara tradisional, masih ada anggapan statistika adalah bagian dari matematika.

Kedua; Pembelajaran statistika masih cenderung menekankan pada penurunan rumus dan perhitungan, bukan pemikiran statistisnya. Paradigma matematis, statistika diajarkan sebagai metode atau prosedur teknis, tanpa memberi penekanan perhatian pada makna di balik angka yang dihasilkan dari analisis data.

Ketiga, pembelajaran statistik dewasa ini masih warisan dari cara tradisional yang belum memanfaatkan TIK. Kehadiran teknologi informasi seperti komputer, internet, dan software statistika memaksa terjadinya perubahan pada pembelajaran statistika. Perubahan ini perlu menekankan pada pemikiran statistis, dan tidak banyak menghabiskan waktu untuk penurunan rumus dan perhitungan dengan cara manual.

Keempat, pembelajaran statistika dewasa ini masih menekankan pada penurunan rumus yang masih banyak, sehingga menyulitkan siswa dalam memahaminya. Selain itu, masih terdapat anggapan di kalangan siswa dan guru yang menyatakan statistika adalah bagian dari matematika, sedangkan sesungguhnya statistika adalah disiplin ilmu tersendiri. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran dan solusi yang diperlukan dalam mengatasi permasalahan tersebut.

Salah satu upaya membangun kemampuan literasi statistis siswa dapat dikembangkan; (1) melalui penguasaan matematika pada materi statistika. Dengan memahami materi statistika, siswa dapat memahami cara mengumpulkan informasi dan penarikan kesimpulan berdasarkan analisis data statistika yang dilakukannya (Fadillah and Munandar 2021).

Teknologi harus dimanfaatkan dengan optimal. penurunan rumus dan perhitungan dengan cara manual. Wallahu A’lam Bishowab.

Penulis:

Ahmad Rusdiana, Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peneliti PerguruanTinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) sejak tahun 2010 sampai sekarang. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Misbah Cipadung-Bandung yang mengem-bangkan pendidikan Diniah, RA, MI, dan MTs, sejak tahun 1984, serta garapan khusus Bina Desa, melalui Yayasan Pengembangan Swadaya Masyarakat Tresna Bhakti, yang didirikannya sejak tahun 1994 dan sekaligus sebagai Pendiri/Ketua Yayasan, kegiatannya pembinaan dan pengembangan asrama mahasiswa pada setiap tahunnya tidak kurang dari 50 mahasiswa di Asrama Tresna Bhakti Cibiru Bandung. Membina dan mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) TK-TPA-Paket A-B-C. Rumah Baca Masyarakat Tresna Bhakti sejak tahun 2007 di Desa Cinyasag Kecamatan. Panawangan Kabupaten. Ciamis Provinsi Jawa Barat. Karya Lengkap sd. Tahun 2022 dapat di akses melalui: (1) http://digilib.uinsgd.ac.id/view/creators. (2) https://www.google.com/search?+a.rusdiana+shopee & source (3) https://play.google.com/store/books/author?id.

Bagikan tulisan ke:

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id