Ilustrasi: Seorang petani gula aren sedang memanjat pohon enau (hasil rambah Google)

Oleh Dra. Evy Aldiyah, Guru IPA di SMP Negeri 202 Jakarta

LANGKAH kaki kupercepat saat memasuki gerbang taman bunga ini. Di sampingku, tampak dua orang ibu berusaha menyejajarkan langkahnya. Taman bunga ini belum lama diresmikan sebagai areal untuk beristirahat dan memanjakan mata. Letaknya masih berada di daerah peyangga ibu kota.

Bunga-bunganya bermekaran, berwarna-warni ditanam berdasarkan kesamaan warnanya. Sejauh mata memandang di areal yang cukup luas ini tampak tanaman semak berbunga, mulai dari bunga ikon luar negeri seperti azalea, petunia, daylily dan amarilis, hingga bunga yang dikenal merakyat di Indonesia seperti mawar, aster, asoka, alamanda, hingga lantana. Semuanya indah dipandang mata, belum lagi tanaman bunga rambatnya dan bunga dalam pot gantungnya.

Bunga-bunga ditanam bergerombol dengan warna senada membuat taman bunga ini semakin cantik dan instagramable. Para pengunjung masuk ke taman asyik berswafoto dengan latar bunga yang terindah yang dipilih. Setelah berkeliling dan menyempatkan masuk ke areal tanaman anggrek dalam rumah kaca, aku beristirahat sejenak dan berswafoto di areal bunga mawar.

Selain tempatnya agak sepi dari para pengunjung saat itu, bunga mawar juga sangat aku sukai. Di ujung areal mawar ini terdapat areal perluasan taman yang masih berbatasan dengan semak-semak liar, hanya dipisahkan oleh semacam parit yang cukup lebar. Dari tempat kuberdiri, di seberang parit tampak berjajar delapan batang pohon enau, bagaikan raja di antara semak lain di sekitarnya. Pokok batangnya besar dan gagah dengan buahnya yang terurai lebat. Buah tandannya menggantung, sepertinya tidak ada yang mau mengambil buahnya.

Tampak beberapa pria di areal taman ini sedang mengolah pupuk kompos dan menyiapkan bibit tanaman baru. Mereka sedikit menggangguk dan tersenyum melihat kedatanganku. Mungkin mereka merasa aneh saja. “Para pengunjung sibuk berfoto dengan bunga-bunga cantik, kok ibu ini nyasar ke ujung taman ini?” Mungkin itu pertanyaan di benak mereka.

Sebenarnya aku penasaran dengan kerja mereka dan berniat mengabadikannya dengan kamera video. Beginilah Ibu Guru IPA yang serba ingin tahu. Setelah membuat video, aku bahkan berdialog dengan mereka seputar taman bunga dan perluasan arealnya.

Ada satu hal yang menarik dari pembicaraan kami. Salah seorang pria perawat taman menyayangkan bila pohon enau di seberang parit itu nanti ditebang. Menurutnya, pohon enau itu abadi, sedangkan taman bunga ini semusim. “Bunga-bunga di taman hanya untuk dinikmati keindahannya saja, tapi pohon enau banyak manfaatnya,” imbuhnya.

Hatiku berdecak kagum dengan isi pikiran Si Bapak. Benar juga sih. Di samping itu enau juga termasuk pohon langka, sudah sulit ditemukan. Aku pun pulang setelah puas memanjakan mata dan mengambil beberapa poto.

Aku jadi tertarik dengan pohon enau yang diceritakan perawat taman tadi. Dalam buku yang pernah kubaca, pohon enau adalah pohon dengan sejuta manfaat. Ada pula kata bijak -entah siapa yang mencetuskannya- seperti ini, “Tak perlu indah bagai pohon mawar, tapi bermanfaatlah bagai pohon enau.”

Aku jadi bertanya sendiri, kok mawar dibandingkan dengan pohon enau? Sebagai penyuka bunga mawar, aku sedikit protes. Mungkin kata bijak itu semacam filosofi, untuk diambil hikmahnya. Tapi tak urung membuatku flashback ingatan dengan pokok pohon enau yang besar itu dan cukup seram menurutku. Terlebih bila melihat tandan buahnya yang menggantung dipenuhi buah, seperti ada aura mistis. Jadi semakin penasaran dengan pohon enau, salah satu tumbuhan yang cukup langka dan tidak terlalu familiar ini.

Pohon enau dengan nama latin Arenga pinnata L, disebut juga pohon aren atau pohon kawung. Tampaknya pohon ini kurang mendapat perhatian dari pelaku agroindustri. Pohon ini hanya dianggap sebagai tanaman liar yang tumbuh di semak-semak dataran rendah, di lereng gunung, di antara pepohonan rindang, di kebun, di tepi sawah bahkan di tepi sungai. Tetapi hampir seluruh bagian dari pohon ini mempunyai nilai ekonomis.

Selain berfungsi sebagai tanaman konservasi, enau juga berfungsi sebagai tanaman produksi yang menghasilkan berbagai produk. Masyaallah.. Mungkin para pembaca pun belum banyak yang mengenal pohon enau bukan?

Terkait peranannya dalam fungsi konservasi, sistem perakaran yang kuat pada pohon enau bermanfaat untuk mencegah erosi tanah dan longsor. Begitu pun daunnya sangat efektif menahan hempasan air hujan ke permukaan tanah. Sedangkan untuk fungsi produksi dapat dimanfaatkan dari akar, batang, daun, bunga dan buah. Di dalam buku Flora Indonesia dijelaskan bahwa pohon enau termasuk pohon kaya manfaat. Apa saja manfaatnya?

Akar pohon enau berkhasiat diuretik untuk memperlancar buang air kecil, karena mengandung kalsium dan silikat. Nah, ini juga membuatku penasaran sejauh mana penelitian tentang akar pohon enau sebagai bahan diuretik. Batang pohon enau keras mengayu pada bagian luar, sementara agak lunak pada bagian dalamnya. Batang bagian luar dapat dimanfaatkan untuk membuat bahan bangunan dan peralatan dapur. Sementara bagian dalam batang yang lunak dapat dihaluskan dan menghasilkan bahan semacam sagu sebagai bahan dasar membuat soun, bihun, atau bahan campuran pembuatan lem.

Bila diperhatikan pelepah daun pohon enau diselubungi oleh ijuk berwarna hitam. Ijuk ini bila dianyam dapat menjadi tali. Ijuk juga dapat dibuat sapu ijuk atau sikat ijuk yang sudah sangat lama dikenal oleh ibu-ibu rumah tangga. Pada teknologi penjernihan air, ijuk juga digunakan sebagai salah satu bahan penyaringnya. Sedangkan daun pohon enau digunakan sebagai bahan atap rumah rakyat, sebagai bahan rokok daun (rokok kawung), sebagai pembungkus makanan, bahan membuat hiasan, janur, ketupat, dan bila lembaran daun dianyam dapat menjadi tali. Sementara tulang daunnya dapat dimanfaatkan sebagai sapu lidi.

Tangkai bunga jantan pohon enau bila dipotong akan menghasilkan cairan nira atau tahang yang mengandung zat gula. Para pengumpul cairan nira ternyata memiliki ilmu sains secara otodidak ya, sehingga mereka tahu mana bunga jantan dan mana bunga betina. Sebagai guru IPA, aku kalah ilmu nih. Selanjutnya, cairan nira ini diolah dengan cara dimasak hingga mengental menjadi gula aren atau gula batok. Ada pula nira yang difermentasi sehingga menghasilkan minuman beralkohol dinamakan tuak.

Buah pada pohon aren dihasilkan dari bunga betina. Kulit buahnya bergetah dan membuat gatal. Membutuhkan pengolahan khusus agar dapat dihasilkan buah yang disebut kolang-kaling, beluluk, atau buah atap, yang sering diolah sebagai menu buka puasa selama bulan Ramadhan. Buah dari tandan direbus lebih dulu, lalu dikupas untuk dikeluarkan isinya. Setelah itu direbus sebentar untuk mengeluarkan lendirnya. Jadilah kolang kaling. Masyaallah. Membayangkan nikmatnya makan kolak kolang kaling, ternyata untuk menjadi kolang kaling mengalami proses pengolahan yang begitu rumit ya..

Batang, pelepah, daun, tandan dan cangkang kulit buah yang sudah kering dapat dijadikan kayu bakar. Dan setelah dibakar musnahpun arang dan abunya berguna sebagai pupuk tanaman, seperti pupuk tanaman mawar. Begitulah manfaat dari pohon enau. Tepatlah bila disebut pohon dengan sejuta manfaat.

Bagaimana dengan tanaman mawar di halaman rumahku?

Tanaman mawar juga bermanfaat meskipun kebermanfaatannya mungkin tidak sesempurna pohon enau. Cukuplah bunganya indah sebagai penghias taman. Meskipun begitu mahkota bunga mawar bermanfaat sebagai anti nyeri dan bengkak akibat sengatan tawon atau lebah. Mahkota bunga mawar dapat disuling menjadi cairan penyegar wajah. Ekstrak mahkota bunga mawar juga dapat digunakan sebagai indikator alami sifat asam basa. Bahkan sebagai guru IPA aku pernah mengajak siswa di sekolah melakukan percobaan membuat indikator alami dari ekstrak mahkota bunga mawar, untuk mengidentifikasi sifat larutan asam dan basa yang ada di lingkungan sekitar. Dan yang terpenting tanaman mawar juga berperan sebagai penyumbang oksigen di halaman rumahku.

Dari sini ada yang dapat kita petik dari kehidupan pohon enau. Selayaknya, kehidupan manusia bercermin dari pohon enau yang bermanfaat bagi kehidupan makhluk lain. Filosofinya, siapa pun kita dan di mana pun kita berada berusahalah menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain. Dengan menyadari bahwa diri tidaklah sebaik dan sesempurna pohon enau, cukuplah seperti tanaman mawar di halaman rumah. Tetap berusaha untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain. Mulai dari hal-hal kecil, mulai dari lingkungan sekitar.

Manfaat yang dimaksud bukan hanya dari segi materi, tetapi lebih kepada hal-hal lain seperti memberikan ilmu yang bermanfaat, tenaga atau keahlian, dan sikap yang baik terhadap sesama. Bermanfaat dapat berarti menebar berjuta kebaikan bagi diri sendiri maupun orang lain. Sebenarnya menjadi manusia yang bermanfaat itu tidak sulit. Hanya tergantung pada diri kita mau atau tidak melakukannya.

Menjadi manusia yang bermanfaat itu pilihan yang indah. Dampak positifnya tidak hanya dirasakan oleh orang lain, tetapi dirasakan juga oleh diri kita. Dan sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain, seperti yang disarikan dalam sebuah hadis. Sudah sepantasnyalah kita senantiasa memaksimalkan nilai manfaat diri ini, seperti halnya pohon enau ataupun tanaman mawar.[]

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

5 thoughts on “Mengaji Hikmah bersama Pohon Enau dan Mawar”
  1. Penjelasan yang sangat mudah utk dipahami. Rangkaian kata-kata yang ditulis cukup menarik.

  2. You are my inspiration n good job for all your ideas in IPA Subject ,I think you must go on yeah

  3. Luar biasa hikmahnya,, menjadikan diri ini agar sllu bisa membuat semua orang bangga atas perilaku kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *