0 0
Read Time:2 Minute, 8 Second


Oleh Heru Prasetyo, S.Pd, Guru SMPN 34 Jakarta Utara

Untuk mencegah penyebaran Covid-19, pemerintah mengimbau masyarakat untuk melakukan segala aktivitas di rumah. Pembelajaran di sekolah harus dialihkan ke rumah. Hal ini memunculkan kegalauan dari pihak-pihak yang terlibat, apakah pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang bermakna dapat dilaksanakan dengan berbagai kegalauannya?

PJJ membutuhkan sejumlah perangkat seperti HP atau PC yang mumpuni, serta tersedianya jaringan dan kuota internet yang mencukupi. Selain perangkat-perangkat tersebut ada hal lain yang tidak kalah penting yaitu motivasi belajar yang kuat dan kemandirian. Sayangnya, hal itu belum dimiliki oleh sebagian besar peserta didik.

Kegalauan dari pihak sekolah dan guru, tidak semua sekolah memiliki perangkat yang mendukung untuk pelaksanaan PJJ dan belum semua guru terbiasa dan mampu dalam mengintegrasikan pembelajarannya dengan memanfaatkan IT (Teknologi Informasi) atau istilahnya guru gaptek. Kegalauan pihak orangtua dan siswa, tidak semua kondisi ekonomi orangtua mendukung untuk pelaksanaan PJJ. Pada saat pandemi berlangsung banyak orangtua yang kehilangan pekerjaan akibat terkena PHK. Akibatnya, PJJ menjadi beban, karena harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pembelian kuota internet.

Dengan sederet permasalahan yang ada, PJJ dilakukan dalam kondisi yang kurang ideal, sehingga muncul tanggapan miring dari pihak orangtua. Seolah-olah fungsi guru beralih ke orangtua. Kurangnya penguasaan orangtua terhadap IT dan materi PJJ dapat memicu stres. Hingga muncul istilah “PJJ galau”.

Pemerintah melalui kementerian yang dipimpin Mas Nadim akhirnya mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk memperbaiki kondisi PJJ, misalnya: pemberian kuota, penggunaan dana BOS yang fleksibel sesuai kebutuhan, penyesuaian kompetensi yang harus diselesaikan siswa, pelatihan-pelatihan bagi guru secara daring, dan penyediaan sumber-sumber belajar online yang dapat diakses oleh guru dan siswa.

Sedikit demi sedikit kegalauan dalam PJJ mulai terpecahkan. Sekolah dan guru mulai mengembangkan kompetensinya dalam penguasaan IT melalui pelatihan atau webinar secara daring. Guru melakukan inovasi teknologi dengan model-model yang lebih variatif dengan harapan siswa menjadi lebih tertarik dalam PJJ. Orangtua sedikit terkurangi bebannya dalam pembelian kuota. Sampai di sini apakah PJJ dilakukan dalam kondisi ideal mulai terlihat?

Ternyata masih ada hal yang lebih penting agar PJJ bermakna dan berkualitas, yaitu kesadaran yang kuat dari peserta didik untuk belajar secara mandiri dengan baik dalam PJJ. Sayangnya, kesadaran ini belum terbentuk. Disinyarir ini disebabkan oleh kondisi orangtua yang belum mampu menjadi pembimbing dan motivator bagi anaknya dan kurangnya pengawasan proses belajar anak dari orangtua.

Baik guru maupun orangtua sama-sama memiliki tanggung jawab dalam menumbuhkan kesadaran peserta didik untuk belajar mandiri selama PJJ. Untuk menjadi guru hebat tidaklah mudah. Orangtua sendiri belum tentu menjadi guru yang hebat bagi anaknya sendiri. Ini menjadi PR besar bagi semua pihak, agar tidak terjadi PJJ galau.

About Post Author

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RumahBaca.id