Oleh A Rusdiana, Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung

PROSES BERPIKIR sangat berkaitan dengan perkembangan kognitif seseorang. Kognitif merupakan salah satu aspek perkembangan manusia yang berkaitan dengan pengertian (pengetahuan), yaitu semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya (Desmita: 2006). Saat ini visual telah menjadi sumber belajar yang dapat diakses dari berbagai perangkat pembelajaran. The presence of visual elements in today’steaching and learning is increasing as the integration of images and visual presentations with text in textbooks, instructional manuals, classroom presentations, and computer interfaces broadens (Benson, 1997; Branton, 1999; Dwyer as cited in Kleinman & Dwyer, 1999).

Pertanyaannya “Mengapa literasi Visual Memiliki Peran Penting Dalam Memfasilitasi Proses Berpikir Dan Belajar? Dikeranakan visual memungkinkan informasi yang kompleks disajikan dalam bentuk gambar, menggali informasi serta pengembangan kemampuan kognitif untuk mengkomunikasikan data dan konsep. Visual membantu mengenali data yang mungkin sebelumnya tidak bisa dimengerti. Ketika seseorang memiliki kemampuan merancang, memantau, dan merefleksikan sesuatu melalui visual, maka proses belajar dapat dibuat lebih optimal. Dengan demikian para pendidik memiliki tugas untuk menumbuh-kembangkan kemampuan literasi visual dalam proses kognitif seorang pembelajar.

Kalaupun demikian, lantas apa hubungan antara literasi visual dan proses berpikir?

Jika melihat (seeing) adalah seperti membaca (reading), maka hanya akan ada di tingkat paling dasar dari kemampuan literal, yaitu hanya merupakan kegiatan membaca sebatas mengenal dan menangkap arti yang tertera secara tersurat. Membaca membutuhkan berbagai kemampuan yang jauh lebih kompleks. Misalnya pada suatu tempat yang memiliki sistem penulisan fonetik, maka seseorang harus mempelajari alfabet terlebih dahulu sebelum mulai membaca. Untuk hal itu, Mitchell (2009), “Jika sistem penulisannya fonetik, seseorang harus mempelajari abjad yang mengoordinasikan lisan dengan kata-kata tertulis: dalam pengertian ini, kita dapat mencatat, keterampilan membaca sudah merupakan keterampilan visual, karena melibatkan pengenalan perbedaan huruf alfabet, dan menghubungkannya dengan suara yang sesuai”. Mitchell (2009) melihat, sebaliknya, tampak seperti keterampilan yang mudah didapat dan dialami, memerlukan aktivitas aktivitas otak yang cukup kompleks: “di dunia visual-spasial:kemampuan untuk membedakan objek dari ruang di mana mereka berada, untuk melacak objek yang bergerak, dan untuk membedakan latar depan dan latar belakang, gambar dan tanah”.

Untuk hal itu, beberapa ahli mendukung pandangan Mitchell (2009), dengan beberapa alasan, di antaranya:

Pertama, keterampilan untuk membedakan antara objek dengan ruang dimana seseorang berada, membedakan antara apa yang dilihat dan dipersepsikan adalah dasar dari bahasa visual universal dan yang akan membedakannya adalah dengan adanya tulisan. Kekuatan visual adalah ia mampu menyampaikan konsep untuk lebih mudah dipahami. Salomon (1979) membuktikan bahwa siswa mempelajari abstrak dan konsep baru baik dalam bentuk verbal maupun visual.

Kedua, Pinker (1997) menekankan bahwa “media visual dapat mendukung siswa untuk mempertahankan dan menerapkan konsep-konsep baru pada situasi kehidupan nyata). Dengan demikian visual dapat membantu seseorang untuk memahami dan menerapkan konsep baru pada situasi kehidupan nyata”. Dengan melihat visual maka akan memicu pertanyaan pembelajar akan proses berpikirnya yang dikaitkan dengan pengalaman dan kehidupannya, misalnya “Bentuk apa itu?”; “Apakah saya bisa membuatnya?”; “Apakah saya bisa menemukan benda serupa di sekitar saya?”; “Hal apa saja yang dapat membantu saya untuk membuat benda tersebut?”

Ketiga, Cowen (1984), memandang; “Visual membuat pembelajar lebih mudah memahami konsep dan meningkatkan ingatan serta pemanggilan informasi). Semisal penjelasan terumbu karang menggunakan visual memudahkan pembelajar mempelajari sebuah abstraksi benda baru”. Di lain waktu jika pembelajar mengalami sendiri melihat terumbu karang di laut, maka visual yang telah dilihat sebelumnya dalam proses pembelajaran dikelas memudahkannya untuk mengingat dan mengidentifikasi terumbu karang yang dilihatnya langsung.

Keempat, visual dapat mendukung pembelajar untuk menyimpan dan memanggil informasi, maka dalam teori pemrosesan informasi. Gagne (1998), memastikan bahwa (1) visual dapat menjadi stimulus yang memungkinkan informasi disimpan dalam memori jangka panjang; (2) bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar.

Kelima, Suyono dan Hariyanto (2011), bahwa pemrosesan informasi terjadi interaksi antar kondisi internal dengan kondisi eksternal individu. (1) kondisi internal adalah keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi di dalam individu. (2) kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini visual menjadi rangsangan (kondisi eksternal) yang mampu mengeluarkan berbagai informasi dan pengetahuan yang ada pada individu pembelajar (kondisi internal) melalui refleksi dan pertanyaan proses berpikirnya. Wallahu A’lam Bishowab.

Penulis:
Ahmad Rusdiana, Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peneliti PerguruanTinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) sejak tahun 2010 sampai sekarang. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Misbah Cipadung-Bandung yang mengem-bangkan pendidikan Diniah, RA, MI, dan MTs, sejak tahun 1984, serta garapan khusus Bina Desa, melalui Yayasan Pengembangan Swadaya Masyarakat Tresna Bhakti, yang didirikannya sejak tahun 1994 dan sekaligus sebagai Pendiri/Ketua Yayasan, kegiatannya pembinaan dan pengembangan asrama mahasiswa pada setiap tahunnya tidak kurang dari 50 mahasiswa di Asrama Tresna Bhakti Cibiru Bandung. Membina dan mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) TK-TPA-Paket A-B-C. Rumah Baca Masyarakat Tresna Bhakti sejak tahun 2007 di Desa Cinyasag Kecamatan. Panawangan Kabupaten. Ciamis Provinsi Jawa Barat. Karya Lengkap sd. Tahun 2022 dapat di akses melalui: (1) http://digilib.uinsgd.ac.id/view/creators. (2) https://www.google.com/search?+ a.rusdiana+shopee&source (3) https://play.google.com/store/books/author?id.

Bagikan tulisan ke:
6 thoughts on “Mengapa Literasi Visual Penting dalam Proses Berpikir dan Belajar?”

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id