Oleh Masyhari, Pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Rumah Baca – Membahas tentang kepenulisan tak akan ada habisnya, kecuali bagi yang tidak tertarik untuk menulis. Sebenarnya, dalam bidang apa pun, pasti ada saja problem dan kendala yang dihadapi. Anggap saja problem itu sebagai sebuah keniscayaan, sunnatullah dalam kehidupan, sesuatu yang tidak mungkin terhindarkan. Kendala itu anggap saja sebagai bagian dari ujian yang harus kita lewati dalam proses menuju keberhasilan. Di antara problem dan kendala yang kerap dihadapi oleh seorang penulis adalah mental block. Apa itu mental block?

Pernahkan Anda ketika sedang melakukan aktifitas, misalnya saja menulis atau berbicara di hadapan publik, tiba-tiba konsentrasi buyar dan bingung apa yang mau disampaikan atau dituliskan? Itu termasuk bagian dari mental block.

Bagi seorang penulis, mental block bisa menjadi kendala, bahkan menghambat proses penulisan. Mengutip Tony Robbins, mental block berarti kondisi di mana seseorang tidak mampu berkonsentrasi. Mental block juga disebut kelelahan mental. Ketika seseorang mengalami mental block, ia tidak mampu berpikir secara jernih.

Secara umum, orang yang mengalami mental block akan buyar atau ambyar konsentrasinya. Bila ia sedang berbicara, ide yang ada di kepala akan sulit dikeluarkan secara lisan, alih-alih bisa merangkai susunan kata indah, ungkapkan ide dengan penuh pesona menyihir audiens.

Nah, bagi seorang menulis, jika di tengah-tengah sedang asyik menulis, menikmati aliran ide tertuang dalam tulisan, tiba-tiba mengalami mental block, konsentrasi pun buyar, ambyar, dan menulis pun terhenti. Atau saat menulis, tiba-tiba merasa jenuh, semangat kita menurun untuk melanjutkan tulisan.

Lantas, bagaimana cara mengatasi mental block ketika menulis?

Untuk mengatasi mental block ada banyak cara yang bisa dilakukan, di antaranya sebagaimana dikutip oleh kontan.co.id dari Tony Robbins, juga yang disampaikan oleh Gus Rijal Mumazziq Zionis kepada penulis. Apa saja caranya?

Kerjakan tugas menulis yang lebih mudah dahulu

Bila kita memiliki setumpuk tugas menulis, yang sebaiknya kita lakukan yaitu melakukan sortir dan pemilahan tugas tersebut, agar kita bisa lebih fokus, tidak pecah konsentrasi dan bisa menyelesaikannya satu persatu. Dalam kondisi normal, yang ideal adalah melakukan sortir berdasarkan skala prioritas dengan mendahulukan yang lebih mendesak, penting, dan terakhir yang bisa ditunda.

Nah, ketika kita sedang mengalami mental block, kita perlu lakukan pemilahan tugas menulis berdasarkan skala prioritas dengan mengerjakan tugas yang lebih mudah terlebih dahulu. Tugas menulis yang kita anggap mudah tidak akan membuat kita semakin ambyar dan stres, khususnya ketika sedang mengalami mental block. Mengerjakan tugas yang mudah dapat meringankan beban pikiran kita.

Setelah mengerjakan yang mudah, kita bisa beralih mengerjakan tugas yang tingkat kerumitannya sedang, dan mengakhirkan pekerjaan yang paling sulit, kompleks dan rumit.

Tenangkan diri dan pikiran

Kalau konsentrasi kita tiba-tiba ambyar dan mentok, tidak bisa melanjutkan tulisan, maka jangan kita memaksakan diri untuk melanjutkan tulisan. Sebab, jika kita sedang kalut, pikiran kita tidak bisa bekerja dengan baik. Tulisan yang dihasilkan pun tidak akan bagus. Karena itu, kita sebaiknya kita istirahat dulu untuk tenangkan diri dan pikiran.

Hal ini sebagaimana saran Rijal Mumazziq Zionis, seorang penulis dari Jember dalam sebuah obrolan literasi bersama penulis di channel Youtube Kang Masyhari, agar kita berhenti menulis dulu. Kita tinggalkan laptop sejenak untuk menenangkan diri, jangan kita paksakan. Kalau dipaksakan, tulisan kita semakin jelek. Kita cari aktifitas lain yang bisa merefresh pikiran, yang bisa membuat kita senang, terangRektor INAIFAS Kencong yang akrab disapa Gus Rijal ini.

Seorang ayah atau ibu bisa dengan momong anaknya, bercanda ria dan tawa. Bagi yang senang main PlayStation, ia bisa beralih main PS dulu, tapi dibatasi tentunya, satu jam misalnya. Jangan sampai keasyikan, sampai lupa melanjutkan menulis. Bagi yang suka mancing, ia bisa melakukan hobinya mancing. Yang suka bercocok tanam, berkebun, menanam bunga, silakan lakukan hobi-hobi itu.

Setelah pikiran fresh, lanjut Gus Rijal, jangan langsung buka laptop, menulis, tetapi kita buka-buka buku bacaan sebagai referensi yang setidaknya bisa mendukung dan memperkaya tulisan kita. Misalnya saja, ketika kita sedang menulis tentang psikologi jomblo, setelah kita mentok, kita cari aktifitas lain. Setelah itu, cari buku-buku yang berkaitan dengan psikologi kepribadian, kita baca-baca. Ketika pikiran kita telah fresh, lanjutkan tulisan kita.

Cari suasana baru

Nah, ketika mengalami mental block, kita tinggalkan laptop, kita cari suasana baru dengan pergi ke taman atau kebun, misalnya. Sebenarnya, ini tidak jauh berbeda dengan tips sebelumnya, di mana tujuan intinya agar pikiran kita lebih tenang dan fresh.

Dengan adanya suasana baru, diharapkan kita punya semangat baru. Misalnya, ketika kita biasanya menulis di dalam kamar atau rumah, barangkali jenuh, kita bisa beralih ke taman belakang atau depan rumah. Bahkan tidak ada salahnya sesekali kita bisa keluar untuk sekedar mencari spot tempat menulis yang membuat kita merasa nyaman menulis. Tentunya, setiap orang bisa berbeda dalam memilih tempat yang paling nyaman. Ada yang memilih perpustakaan, taman baca, atau warung kopi.

Lakukan freewriting

Freewriting artinya menulis apa saja secara bebas. Kita bisa siapkan kertas dan pena, laptop atau handphone. Tuliskan apa saja yang ada di pikiran kita. Jangan terlalu pusingkan soal tata bahasa, keindahan diksi, ketepatan kosakata, dan tema apa. Yang terpenting, tulis apa saja. Cari ini dapat membantu mengalirkan ide secara lancar dan bahkan menemukan ide-ide baru. Ide yang hilang pun akan kembali ditemukan.

Hal senada dikatakan oleh Gus Rijal, ketika kita menghadapi kebuntuan dalam menulis, kita tulis apa saja, tanpa pikir panjang. Begitu pun ketika kita menulis karya ilmiah, kita tulis apa yang kita ketahui, jangan sambil buka-buka referensi, sebab itu akan menghambat proses penulisan kita. Baru setelah semua isi otak kita tertuang dalam tulisan, kita baca lagi tulisan kita untuk diedit, disesuaikan secara bahasa. Setelah itu dicarikan referensinya, nama penulis dan nomor halamannya, bila itu tulisan ilmiah.

Buat Kerangka Tulisan & Mind Maping

Di antara solusi untuk menghindari mental block yaitu dengan membuat outline (kerangka tulisan) dan peta konsep (mind maping) sebelum menulis. Kalau misalnya kita sudah mulai menulis tanpa outline dan peta konsep, lalu tiba-tiba kena mental block, sebaiknya kita berhenti menulis sejenak lalu kita buat outline dan atau peta konsep. Bila sudah, kita lanjutkan menulis.

Bagi penulis yang sudah ahli, kerangka tulisan mungkin saja tidak diperlukan. Hal ini karena penulis ahli sudah berpengalaman menulis dan sudah memiliki gambaran kerangka konsep di dalam pikirannya. Hanya saja, bagi seorang penulis pemula khususnya, kerangka tulisan sangat diperlukan.

Outline dan peta konsep dibuat agar tulisan kita, khususnya artikel (baik ilmiah maupun populer) terarah, fokus, dan kita terhindar dari mental block. Outline dan mind maping bisa menjadi panduan bagi kita agar tidak melewatkan ide dan gagasan yang akan ditulis.

Berdiskusi dengan teman

Sebagai makhluk sosial, kita perlu untuk sharing, bertukar pikiran dengan teman. Bertukar pikiran bisa membuat hati lebih plong. Pikiran kita yang tadinya kalut dan buntu bisa mendapatkan jalan keluar. Di tengah-tengah obrolan barangkali kita bisa mendapatkan ide-ide baru yang bisa kita tuliskan.

Dengan kawan, kita bisa curhat dan minta saran serta pendapat terkait tulisan kita. Bila berkenan kita bisa minta baca dan koreksi. Bila keberatan, kita bisa saling bertukar tulisan untuk saling diedit.

Bergabung dalam Komunitas Literasi

Nah, sebagai seorang (setidaknya ingin jadi) penulis, sebaiknya kita bergabung dengan komunitas menulis atau literasi yang berisi para penulis, baik senior ataupun baru belajar. Di Indonesia ada banyak sekali komunitas literasi dan menulis, misalnya saja Sahabat Pena Nusantara (SPN), Sobat Literasi Nusantara, Forum Lingkar Pena (FLP), Sahabat Literasi IAI Cirebon (SLI), Literasi Senja, dan lain sebagainya. Dengan bergabung di komunitas menulis, kita akan mendapatkan banyak ilmu, pengalaman dan bisa bertukar pikiran terkait penulisan dengan sesama penulis, utamanya yang lebih senior.

Kalau belum bergabung dengan komunitas penulis yang ada, Anda bisa jalin komunikasi dengan kawan-kawan yang memiliki hobi menulis, untuk membuat komunitas menulis. Komunitas tidak harus besar, terdiri dari banyak orang, dengan struktural organisasi yang rigid. Komunitas bisa berupa kumpulan 2-5 orang untuk sekedar melingkar diskusi tentang literasi dan kepenulisan, di mana saja, baik offline maupun online.

Dengan bergabung dalam komunitas literasi dan sering bertemu dengan para pegiat literasi, semangat berliterasi kita akan tetap terjaga, karena sering mendapatkan pompa semangat. Semoga bermanfaat. Salam literasi.[]

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *