Oleh Syaukah, S.Pd.I, Guru Madrasah Ibtidaiyah Negeri 9 Jakarta Selatan

Lagu “17 Agustus Tahun 45” penuh dengan muatan nilai patriotisme dan kebangsaan tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia ketika melawan penjajah. Lirik lagunya menggelorakan semangat juang untuk meraih kemerdekaan, agar rakyat Indonesia selalu mengingat setiap tetes keringat bahkan darah. Dengan semangat kemerdekaan, mereka menjadi manusia yang kuat, penuh semngat, tidak mudah putus asa dan menyerah apabila menghadapi suatu permasalahan. Bukan hanya merdeka dari penjajah, namun merdeka dari kemalasan, kebodohan dan kemiskinan.

Salah satu liriknya yang berbunyi “Sekali merdeka tetap merdeka. Selama hayat masih dikandung badan” memberikan inspirasi, mengajak dan mengingatkan generasi muda agar tetap berada di garda terdepan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, selama raga masih bernyawa.

Lagu yang aslinya berjudul “Hari Merdeka” ini diciptakan oleh H Mutahar, seorang ajudan Ir Soekarno di Yogyakarta pada masa revolusi, pasca kemerdekaan tahun 1946, di mana situasi Republik Indonesia masih dalam keadaan genting. Nama lengkap H Mutahar yaitu Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad al-Muthahar atau Habib Husein Al-Muthahar. Beliau merupakan seorang habib, keturunan Nabi Muhammad SAW. Hanya saja, tidak banyak masyarakat umum yang tahu informasi ini, karena selama ini nama penciptanya hanya disebut H Mutahar.

Mengenal Sosok H. Mutahar Pencipta Lagu Merdeka - Info Publik |
H Mutahar (rri.co.id)

Banyak jasa H Mutahar terhadap kemerdekaan Indonesia. Beliau seorang komponis lagu-lagu patriotisme. Selain lagu “Hari Merdeka” (1946), ia juga pencipta lagu hymne “Syukur” (diperkenalkan Januari 1945). Karya terakhirnya yaitu “Dirgahayu Indonesiaku” menjadi lagu resmi ulang tahun ke-50 Kemerdekaan Indonesia. H Mutahar juga menciptakan banyak lagu anak-anak, antara lain “Gembira”, “Tepuk Tangan Silang-silang”, “Mari Tepuk”, “Slamatlah”, “Jangan Putus Asa”, “Saat Berpisah”, dan ”Hymne Pramuka”.

Pengabdiannya yang lain yaitu sebagai sopir pribadi Bung Karno saat perang, sebagai pengawal beliau saat haji dan orang kepercayaan presiden pertama RI untuk menyelamatkan bendera pusaka saat Belanda melumpuhkan Yogyakarta pada tahun 1948. Beliau berhasil lolos dari pemeriksaan ketat tentara Belanda.

Beliau juga seorang tokoh utama Pandu Rakyat Indonesia yang sekarang dikenal dengan nama Gerakan Pramuka. Pada saat Republik Indonesia merayakan hari ulang tahun kemerdekaannya yang pertama, 17 Agustus 1946, H Mutahar ditugaskan untuk merancang persiapan upacara pengibaran bendera. Beliau berinisatif agar yang mengibarkan bendera pusaka merah putih adalah para pemuda yang mewakili wilayah-wilayah di Indonesia.

Pada tahun 1967, di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, saat menjabat direktur jenderal urusan pemuda dan pramuka, H Mutahar pernah ditugaskan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk menyusun tata cara pengibaran bendera pusaka. Beliau membagi satu pasukan menjadi tiga kelompok, kelompok 17 sebagai pengiring atau pemandu; kelompok 8 sebagai kelompok inti yang bertugas sebagai pembawa bendera, kelompok 45 sebagai pengawal. Pembagian pasukan menjadi tiga kelompok tersebut merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Tata cara seperti ini masih digunakan sampai saat ini di Istana Negara.

Selain itu, H Mutahar pernah menjabat sebagai Duta Besar RI di Takhta Suci Vatikan. Penghargaan yang pernah beliau peroleh adalah sebagai penerima anugerah Bintang Gerilya, dan penerima Bintang Mahaputera. Beliau menguasai enam bahasa secara aktif.

Habib Husein Mutahar wafat pada Rabu petang, 9 Juni 2004 pukul 16.30 pada usia 88 tahun. Beliau dimakamkan sebagai rakyat biasa di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut Jakarta Selatan dengan tata cara Islam. Selayaknya beliau berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata dengan prosesi upacara kenegaraan sebagaimana penghargaan yang lazim diberikan kepada para pahlawan. Akan tetapi, beliau tidak menginginkan hal itu, sebagaimana dalam wasiat beliau.

Begitu besarnya jasa beliau terhadap bangsa ini. Kita dapat meneladani perjuangan beliau dengan meneruskan cita-cita beliau dengan konteks masa kini, turut andil mengisi kemerdekaan sesuai bidang keahlian masing-masing untuk dipersembahkan kepada bangsa, sebagai salah satu bentuk penghargaan atas jasa-jasa pahlawan terdahulu.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *