Oleh Ahmad Irwiyan Haq

Dalam sebuah kesempatan, Kiai Salahuddin Wahid (Gus Solah), Allah Yarham, pernah menulis dalam bukunya tentang Resolusi Jihad. Ini adalah kelanjutan ‘perlawanan’ yang pernah diikhtiarkan kakek beliau, Mbah Hasyim Asyarie.

Menurut saya, gagasan beliau ini sangat brilian. Keren sekali. Beliau menuturkan dalam kesempatan tersebut, bahwa perlu dikobarkan, kalau dalam istilah sekarang, perlu diviralkan, Resolusi Jihad 2. Resolusi ini maksudnya adalah untuk melawan musuh-musuh (biang masalah) bangsa yang kian hari kian mengkhawatirkan.

Saya kurang update (kudet) sudah sejauh mana gagasan tersebut diupayakan. Apakah sudah berkembang sampai hal-hal teknis. Atau justru sebaliknya, karena beliau tidak terpilih menjadi Ketum PBNU pada Muktamar ke-33 di Jombang tahun 2015 lalu.

Wa ba’du. Dengan “ndherek” sanad dan semangat yang ditularkan beliau seperti ini, saya punya unek-unek tentang panduan bagi Nahdliyin dalam dimensi kehidupan yang lebih komplek daripada zaman awal NU berdiri (1926).

Seperti yang kita ketahui sejak dulu, NU memiliki semacam ‘guidance‘ bagi jamaahnya dalam menjalani hidup ini. Ia adalah model pakem dalam tiga dimensi beragama dan bermasyarakat, yaitu dimensi Aqidah, dimensi Syariat/Fiqih, dan dimensi Tasawuf.

Dalam dimensi Aqidah, jamaah nahdliyin sudah dipilih-pilahkan untuk menganut ajaran Imam Abul Hasan Al-Asyarie (Asyariyah) dan Imam Abu Mansur Al-Maturidiy (Maturidiyah). Dalam dimensi Fiqih, ada pilihan madzhab populer dari empat pendiri: Imam Abu Hanifah (Hanafi), Imam Malik (Malikiy), Imam Syafii (Syafi’iy), dan Imam Ahmad Ibn Hanbal (Hanbali). Dalam dimensi Tasawuf, dikerucutkan menjadi dua role model, yaitu Imam Ghazali dan Imam Junaid Al-Baghdadi.

Dalam nyaris 100 tahun kemudian sejak NU berdiri, kita tentu sepakat bahwa dimensi kehidupan masyarakat, baik dalam lingkup Indonesia maupun global, sudah jauh berubah. Oleh karena itu, sepertinya jamaah dan masyarakat juga perlu diimbangi dengan Imam-Imam dalam dimensi yang lain supaya ruang pengaruh (influence)-nya terisi oleh sosok-sosok yang tepat.

Dengan didukung oleh berkembangnya era internet dan era media belakangan ini, rasanya masyarakat terlanjur terisi oleh tokoh-tokoh “influencer” yang kurang pas. Jika tren ini dilanjutkan, bukan tak mungkin, dimensi yang berkembang tadi akan dihadapi oleh jamaah dengan pandangan dan referensi role model yang salah. Ujung-ujungnya kualitas jamaah boleh jadi akan merosot, seseuatu yang akan membuat sedih para Masyayikh seperti Mbah Hasyim, Mbah Wahab, Mbah Bisri, dan masyayikh lain.

Dimensi-dimensi yang dimaksud misalnya dimensi politik, sosial, dan ekonomi. Mungkin juga budaya. Dan seterusnya.

Dalam soal politik sendiri setahu saya, mohon koreksi jika salah, jamiyyah (organisasi) Nahdlatul Ulama membaginya dalam tiga bentuk. Ia adalah politik kebangsaan, politik kerakyatan, dan politik praktis. Kemudian, dalam sosok siapa (saja) kah gerakan politik-politik yang perlu menjadi role model bagi para jamaah? Ini menurut saya penting dijelaskan kepada jamaah sebagaimana panduan dalam ketiga dimensi beragama di atas. Semakin penting karena jamaah milenial dan seterusnya-lah yang akan mengisi kerja-kerja jamiyyah. Akan menjadi bias jika role model yang ada di imajinasi dan ghirah jamaah mendatang kurang tepat atau bahkan tidak mewakili semangat jamiyyah sama sekali.

Misalnya, apakah role model perjuangan politik kebangsaan, kerakyatan, kekuasaan, sudah layak disematkan kepada Gus Dur? Ataukah ada pada diri tokoh-tokoh lain? Tapi rasa-rasanya yang perjuangan sekaligus pemikiran kebangsaannya tidak banyak yang sejauh, sedalam, dan senyata Gus Dur. Kalaupun ada, mungkin tidak se-komplit beliau.

Demikian juga dalam sosial ekonomi. Karena jamiyyah menganut cara pandang yang moderat, bagaimana implikasi moderat dalam dimensi sosial-ekonomi tersebut. Siapakah gerangan tokoh besar yang dimiliki Islam yang menjadi role model jamiyyah, baik dari segi sosok ataupun gagasan? Jangan-jangan moderasi dalam soal-soal tersebut juga belum terdefinisikan dengan baik.

Belum lagi dalam bab Ilmu Pengetahuan. Dalam dekade belakangan, atau dekade sebelumnya, tokoh dalam bidang ini yang cukup menyedot perhatian kalangan muda ada dua: Harun Yahya dan Yuval Noah Harari. Kedua tokoh ini begitu besar menyita perhatian masyarakat. Apakah dari mereka lah role model jamiyyah terwakili? Pertanyaan sebelumnya, apakah relevan jika moderasi juga diupayakan dalam bidang ini? Apakah anak-anak muda perlu dikawal dengan batasan dan panduan role model seperti kasus di atas? Dan seterusnya, dan seterusnya.

Pertanyaan-pertanyaan ini sepertinya cukup layak untuk kita pikirkan karena tentu kita berharap jamiyyah berumur panjang sekaligus memiliki jamaah yang kosmopolit, eklektik, mengikuti zaman, dan moderat dalam berbagai bidang.

Ini sih menurutku. Lah kalau menurutmu gimana?

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *