Menjadi Pribadi Tangguh pada Masa Pandemi

Oleh Dra. Evy Aldiyah, Guru IPA di SMP Negeri 202 Jakarta

Melihat tren perkembangan penyebaran Covid-19 yang cenderung naik, pemerintah akhirnya memperpanjang kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Hingga kini, belum ada tanda-tanda kapan pembelajaran tatap muka (PTM) akan dimulai. Dengan mengurangi interaksi fisik, diharapkan akan dapat mencegah penularan dan penyebaran virus.

Dengan pemberlakuan pembelajaran Daring, siswa dan guru diharapkan akan mendapat pengalaman baru dengan pemanfaatan media pembelajaran melalui platform digital. Pembelajaran Daring pada awalnya ditanggapi positif oleh pihak-pihak yang terkait dalam bidang pendidikan bahkan masyarakat awam. Tapi seiring perjalanan waktu, banyak sekali keluhan akibat banyaknya kendala yang ditemukan, berupa kesulitan dan kejenuhan selama pembelajaran jarak jauh berlangsung. Menurut hasil survei Litbang Kompas tahun 2020, sebanyak 28,3% siswa mengalami stres dalam pembelajaran jarak jauh yang telah berlangsung cukup lama. PJJ menjadi suatu dilema bukan?

Semakin lama tanpa disadari, perubahan situasi yang cepat dan tidak dapat diprediksi seperti saat ini membuat banyak orang termasuk anak-anak berada pada masa sulit. Rutinitas sekolah terganggu, berteman dilakukan dari jarak jauh, hingga tak bisa melakukan upacara kelulusan atau kenaikan kelas secara langsung. Belum lagi perasaan bosan yang mendera selama hari-hari belajar dari rumah. Semua itu merupakan tantangan dan ujian yang sebenarnya wajar dilalui dalam kehidupan.

Agar mampu menghadapi tantangan dan ujian kehidupan, orang tua dan guru harus bisa membekali anak-anak dengan kesadaran untuk menumbuhkan kekuatan baik dari dalam diri mereka sendiri. Apakah kekuatan baik dari dalam itu?

Kekuatan baik dari dalam dapat diartikan sebagai hal-hal positif yang dapat membentuk karakter anak sebagai pribadi yang tangguh. Kepribadian yang tangguh atau dikenal dengan istilah resiliensi ini merupakan kemampuan dan keterampilan yang diperoleh melalui pengalaman dan interaksi individu dengan lingkungannya. Jadi, resiliensi tidak muncul begitu saja, melainkan terbentuk dari pengalaman-pengalaman yang tanpa disadari menjadi semacam latihan hingga menjadi terasah dan dapat dikembangkan menjadi lebih baik lagi.  

Kemampuan atau keterampilan resiliensi dapat menginformasikan seberapa jauh individu mampu bertahan menghadapi kesulitan dan kemampuan untuk mengatasinya. Resiliensi juga bisa dianggap sebagai kemampuan menghadapi tekanan yang berat untuk bisa bangkit maju. Konsepnya, semakin individu berhasil mengatasi kesulitan yang dihadapi, ia akan semakin meningkatkan potensinya dalam menghadapi tahapan perkembangan selanjutnya. Konsep ini sepertinya sudah umum bukan?

Konsep resiliensi ini memang sudah cukup lama bergaung. Grothberg salah satu penulis dunia, pada tahuan 1995 sudah memperkenalkan bagaimana teknik mengembangkan keterampilan resiliensi pada anak-anak. Apa dan seperti apa keterampilan resiliensi yang dapat diajarkan kepada anak-anak agar mereka semakin terasah menjadi pribadi tangguh?

Beberapa sikap dan keterampilan resiliensi yang dapat dibiasakan pada anak-anak pada masa pandemi ini di antaranya yaitu pertama, tidak sungkan bertanya tentang hal-hal baru, bertanya kepada guru dan orang tua. Ini melatih anak untuk bereksplorasi dengan rasa ingin taunya dan tetap arahkan mereka ke hal-hal yang positif. Kedua, tidak kenal lelah menempa kemampuan meski awalnya terasa sulit. Ini melatih anak untuk tidak putus asa dan bersemangat untuk terus mencoba. Ketiga, menerima kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri, ini melatih anak untuk tidak rendah diri juga tidak puas diri.

Keempat, mau belajar dari kesalahan dan berani mengakui kesalahan. Ini melatih anak untuk tidak egois, juga melatih anak bertanggung jawab. Kelima, melihat kesulitan sebagai batu loncatan. Ini melatih anak untuk berfikir selalu melihat peluang positif dalam setiap kesulitan. Keenam, merasakan dan memahami kebutuhan orang lain. Ini melatih rasa empati dan peduli anak terhadap lingkungan sekitar. Ketujuh, mampu berkomunikasi dengan orang lain. Ini melatih anak mengemukakan perasaan dan pikiran serta mengendalikan emosinya.

Kedelapan, mandiri. Ini melatih jiwa kemandirian anak. Kesembilan, menghabiskan waktu dengan orang yang memberikan nilai kebaikan. Ini melatih anak untuk selalu berfikir positif, juga bersikap tenang. Kesepuluh, bertindak baik dan sopan terhadap orang lain, ini melatih anak untuk bisa menghargai orang lain.

Tentu saja keterampilan resiliensi yang bisa dikembangkan tidak terbatas pada apa yang sudah dipaparkan tadi. Bila disimak satu persatu apa yang sudah dikemukakan tadi, sepertinya itu hal yang mudah untuk dibiasakan, meskipun pada beberapa orang merasa cukup sulit. Marilah kita membiasakannya terhadap anak-anak kita, terlebih lagi di masa pandemi ini, di mana pendidikan karakter kini tidak lagi dilakukan di sekolah, tetapi sudah beralih ke rumah, dengan orang tua sebagai gurunya.

Vera Itabiliana Hadiwidjojo, seorang psikolog anak dan remaja, pada pembukaan kampanye #BisaKuat tahun 2020 mengatakan bahwa penting bagi orang tua untuk mengembangkan karakter baik anak. Sebagai usaha agar bisa beradaptasi dalam menghadapi tantangan kehidupan. Dalam situasi yang dialami pada masa pandemi ini orang tua pun dapat menjadi agent of change bagi anak-anaknya. Memang sangat dibutuhkan motivasi dari orang tua. Tentunya orang tua sebagai guru di rumah lebih memahami anaknya melalui pengontrolan kegiatan belajar selama pembelajaran jarak jauh pada masa pandemi ini.

Pada dasarnya, semua anak memiliki resiliensi, namun tentu saja karakter tersebut harus tetap dilatih seperti halnya otot-otot tubuh. Hal yang terpenting adalah menyediakan ruang lingkungan yang mendukung untuk menciptakan kedekatan emosional antara anak dan orang tua. Ruang lingkungan yang mendukung kedekatan emosional itu bisa diciptakan tanpa melihat strata ekonomi suatu keluarga. Kebiasaan positif atau tradisi yang dibiasakan dalam keluarga juga akan memberikan keterikatan dan perasaan stabil pada anak. Bahkan pada masa pandemi seperti ini, di mana rasa ketidakpastian lebih besar mengalahkan harapan-harapan. Maka keluarga adalah fondasi utama dalam menciptakan ketentraman hati anak-anak.

Proses pembelajaran jarak jauh yang dilaksanakan saat ini adalah kondisi darurat belajar yang tetap harus dilaksanakan. PJJ belumlah dapat disebut sebagai kondisi belajar yang ideal pada saat ini, melihat berbagai kendala dan keluhan yang ada. Meskipun demikian, kita harus secara bijak menyukuri dan mengambil hikmahnya. Bahwa melalui masa pandemi ini kita akhirnya mampu mengembangkan karakter pribadi tangguh dalam diri anak-anak kita untuk persiapan diri mereka di masa datang. Keterampilan resiliensi tersebut perlu dikembangkan sehingga menjadi lokomotif untuk dapat menarik karakter-karakter positif yang lain.

Sebagai orang tua dan guru, tak perlu lagi berkeluh kesah. Kita jadikan masa pandemi ini sebagai lahan untuk mengembangkan pribadi tangguh atau resiliensi anak-anak kita. Tak hanya anak-anak, yang dewasa pun butuh mengembangkan keterampilan resiliensi. Karena untuk menjadi pribadi tangguh itu tak berbatas waktu. Menjadi anak dengan pribadi yang tangguh tentulah melalui proses panjang. Karena itu, orang tua dan guru harus menjadi pendukung dan pemberi motivasi bagi anak kita, karena di dunia ini sudah cukup banyak pengkritik.

Bagikan tulisan ke:

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RumahBaca.id