Oleh Setioningsih, M.Sc., Guru MAN 1 Pesawaran Lampung

Ini adalah kisahku menjadi youtuber dadakan. Akhir tahun 2019 dunia digemparkan dengan mewabahnya corona virus disease (covid-19), beribu-ribu nyawa berguguran sebagai syuhada. Pemerintah pun selalu berupaya mengimbau masyarakat untuk mengikuti protokol kesehatan saat beraktifitas. Di antara langkah jitu untuk memutus jaringan penyebaran virus adalah dengan mengurangi aktifitas berkumpul, memakai masker dan memperkuat imun tubuh.

Sebagai seorang pendidik, aku ikut merasakan dampak covid. Sebenarnya madrasah tempatku mengabdi awalnya melarang siswa menggunakan smartphone saat sekolah. Harapannya agar para siswa fokus dengan penyampaian materi dari guru. Sebagai gantinya madrasah sudah menyediakan ruang komputer dan perpustakaan untuk sarana belajar-mengajar dengan akses wifi khusus pendidikan. Akan tetapi semenjak adanya covid ini, madrasah mengimbau seluruh siswa untuk mempunyai smartphone, karena kegiatan belajar-mengajar akan dilakukan secara daring.

Lokasi sekolah tempatku mengabdi, Madrasah Aliyah Negeri 1 Pesawaran Lampung, secara geografis mudah dijangkau oleh peserta didik. Kegiatan belajar mengajar tatap muka di sekolah menjadi fenomena yang menyenangkan. Ada guru, siswa, buku dan pulpen yang menjadi saksi bisu para penuntut ilmu. Hanya saja, itu tinggal kenangan. Itu cerita lama, karena sekarang tatap muka berubah menjadi tatap maya. Kok bisa?

Jujur, awalnya saya mengalami kebingungan dalam mempersiapkan perangkat dan metode yang tepat untuk mengajar daring. Jika saat belajar tatap muka saja siswa susah memahami mata pelajaran fisika, apalagi tatap maya.

Bukan guru namanya jika ada masalah hanya pandai berkeluh kesah apalagi putus asa. Prinsipku, dalam mengajar yang terpenting adalah siswa senang. Sebab, jika siswa menyenangi pelajaran, mereka akan mudah memahami materi yang kita sampaikan. Jika siswa senang ketika belajar, guru akan mudah membuka pikiran bawah sadar siswa, sehingga mudah pula bagi guru untuk memberi masukan-masukan positif pada siswa.

Sehari berganti minggu, minggu berganti bulan. Selama itu aku berselancar di dunia maya untuk mengetahui bagaimana cara belajar daring seasyik belajar luring. Bagaimana cara membuka sampai menutup materi tanpa interaksi. Bagaimana jika saat belajar, siswa yang berhalangan hadir masih bisa memahami materi. Aplikasi apa yang mudah diakses siswa? Upaya apa yang mudah dilakukan, jika saat belajar siswa terkendala koneksi jaringan internet yang lemah dan pemakaian kuota yang tidak boros?

Tang….ting…tung..

Pertanyaan demi pertanyaan akhirnya terjawab melalui Youtube. Aku pun mulai menimbang dan akhirnya memutuskan untuk menjadi youtuber. Keputusan ini diambil karena Youtube bisa dijangkau oleh semua siswa. Cara mengaksesnya pun mudah. Guru tinggal membagi link di group kelas, dan siswa tinggal mengklik link yang dibagikan.

Aha, seminggu menjadi youtuber dadakan mempunyai keunikan tersendiri, karena ini merupakan pengalaman belajar yang mengasyikkan. Mengapa? Dengan menjadi youtuber mengajarkanku untuk menjadi pribadi yang sabar. Sabar dalam menyiapkan materi, membuat video dan mengeditnya. Selain itu, sabar ketika menerima kritik dan saran dari para subscriber.
Lalu persiapan apa sajakah yang diperlukan untuk kegiatan belajar mengajar di Youtube?

  1. Mempunyai akun email untuk membuat Youtube.
  2. Mempunyai aplikasi tempat kita melakukan kegiatan belajar mengajar, dalam hal ini saya menggunakan aplikasi OBS.
  3. OBS adalah sarana kita untuk membuat video atau rekaman materi pembelajaran.
  4. Aploud video yang kita buat melalui Youtube.
  5. Bagikan link Youtube ke group kelas kita.

Menurutku, menjadi youtuber dadakan itu menyenangkan, karena menambah pengetahuan dan pengalaman. Lantas, bagaimana ceritamu?

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *