Oleh Dra. Evy Aldiyah, Guru SMP 202 Jakarta Timur

Menyaksikan upacara peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-76 hanya melalui televisi tidak membuat pudar rasa kebangsaan saya. Detik-detik petugas paskibraka melakukan pengibaran bendera pusaka membuat hati ini bangga sekaligus terharu. Pada masa pandemi ini Indonesia tetap tangguh dan tumbuh, dengan pemuda-pemuda yang tetap berprestasi.

Namun hati ini terusik manakala mendengar berita viral di medsos beberapa waktu lalu setelah peringatan hari kemerdekaan itu. Dikabarkan, ada petugas paskibraka yang lolos ke istana dengan jalur nyogok dan melalui orang dalam, bukan jalur prestasi. Dan, setelah ditelusuri ternyata namanya tidak masuk dalam daftar seleksi Dispora. Tentu saja hal ini telah mencoreng kesakralan peringatan hari kemerdekaan ke-76 yang telah dilalui. Sebegitu kuatnya ambisi seseorang bermain di sini, ambisi yang mengabaikan hati nurani dan mencuri hak orang lain.

Bicara ambisi, saya jadi teringat dengan kisah sejarah kerajaan tua Joseon di Korea yang diangkat ke dalam serial televisi. Adalah sosok Jang Ok Jung dengan sifatnya yang ambisius lagi serakah. Awalnya, ia hanya seorang rakyat jelata yang akhirnya mendapat kedudukan sebagai selir raja dan posisi ratu. Namun posisi itu telah mengantarkannya kepada kesengsaraan. Hati yang sakit dan sengsara dibawa hingga akhir hayat karena ambisinya.

Namun ada pula ambisi yang membuat saya terpana, viral di medsos beberapa waktu lalu seorang tukang becak muda dari Jawa Timur yang berambisi menjadi seorang sarjana, dan akhirnya berhasil mewujudkannya. Yang ini tentu saja ambisi yang positif.

Sebenarnya apa itu ambisi? Mengapa bila menyebut kata ambisi umumnya berkonotasi negatif? Bahkan pernah saya baca satu artikel yang menyelipkan pesan jangan terlalu berambisi pada dunia. Cukuplah sekedarnya. Tapi ada pula yang membuat pepatah bahwa hidup tanpa ambisi bagaikan burung yang ingin terbang namun tak bersayap. Daripada bingung dan penasaran saya cari Kamus Besar Bahasa Indonesi (KBBI) untuk menemukan definisi “ambisi” secara harfiah. Ambisi berarti keinginan, hasrat, nafsu yang besar untuk menjadi, memperoleh, mencapai sesuatu atau melakukan sesuatu. Ambisi dapat diartikan sebagai berkeinginan keras mencapai sesuatu.

Seseorang yang berusaha dengan memfokuskan energi dan pikiran untuk merealisasikan rencananya, berarti dia memiliki ambisi. Orang hidup itu harus memiliki ambisi. Lantas mengapa ambisi menjadi sesuatu yang berasa negatif? Penjelasan sejarah konotasi negatif ambisi ada di dalam buku “Ambition, Friend or Enemy?” Buku yang ditulis oleh Frederick Van Tatenhove ini menjelaskan, sejak abad ke15 kata ambisi muncul dalam literatur Inggris yang diambil dari bahasa Prancis. Kata ambisi tersebut memiliki arti yang jika diterjemahkan berarti suatu keinginan kuat untuk kemuliaan, kedudukan, dan jabatan. Definisi inilah yang akhirnya berkembang dan populer termasuk dalam masyarakat Indonesia.

Bila ambisi bernilai positif, mengapa orang takut dicap ambisius? Dalam rangka mewujudkan ambisinya seseorang biasanya terobsesi sehingga menghalalkan segala cara, tidak mematuhi aturan yang ditetapkan, tidak mengikuti prosedur yang berlaku, tapi lewat jalan pintas atau jalan belakang, main kasak kusuk atau kong kalikong, dan banyak istilah lain yang sudah umum pada masyarakat awam. Karena itulah, ambisi menjadi terkesan negatif. Demi mewujudkan keinginan, seseorang rela menabrak norma dan etika.

Orang-orang dengan ambisi negatif hanya terfokus pada hasil bukan pada proses. Seperti kisah petugas paskibraka yang viral itu atau ambisi seseorang dalam mengejar jabatan. Nah untuk kisah ambisi mengejar jabatan ini saya jadi teringat pula satu hadis yang artinya, “Sesungguhnya kamu sekalian akan berambisi untuk dapat memegang suatu jabatan tetapi nanti pada hari kiamat jabatan itu menjadi sebuah penyesalan.” (HR Bukhari). Hal ini menyiratkan pesan jangan sekali-kali mengejar jabatan, kecuali jika di tempat itu benar-benar tidak ada orang yang sanggup memikul jabatan tersebut.

Di dalam ambisi ada kegigihan, dan tidak semua orang memilikinya. Mungkin kita bertanya-tanya mengapa ada sebagian orang yang memiliki ambisi lebih tinggi daripada yang lain. Sebuah penelitian oleh Judge dan Kammeyer Muller (2012) dalam Life Hack mengungkapkan, ada empat alasan seseorang bisa memiliki ambisi tinggi yaitu: pertama, seseorang memang memiliki karakter ambisius; kedua, seseorang memang memiliki sifat ego yang tinggi; ketiga, seseorang yang merasa tidak aman (insecure) juga bisa menjadi ambisius dan cenderung melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang diinginkan demi rasa aman; dan keempat, seseorang yang merasa terdesak karena mendapat perbedaan perlakuan di lingkungannya juga cenderung menjadi ambisi tinggi.

Bagaimana hubungan ambisi dengan prestasi? Perlukah ambisi untuk sebuah prestasi? Prestasi menurut KBBI adalah hasil yang dicapai atau diperoleh dari apa yang telah dikerjakan. Untuk mencetak prestasi tentunya melalui suatu proses, tidak serta merta mendapatkan hasil. Faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang memiliki prestasi adalah kerja keras, fokus, teratur, dan ambisi (dalam hal ini kemauan keras). Ternyata ada ambisi ikut berperan di dalamnya.

Prestasi adalah wujud nyata kualitas personal seseorang. Semakin banyak prestasi seseorang akan banyak pula ia menginspirasi orang lain. Pencapaian sebuah prestasi yang diawali dengan ambisi memang sangat dibutuhkan karena ambisi memberikan dorongan kuat. Negatifnya adalah ketika pencapaian hasrat tersebut dilakukan dengan menghalalkan segala cara, agar tujuan tercapai tanpa melihat prosesnya karena terfokus pada hasil. Bahkan dalam rangka mengejar prestasi tersebut dalam realitanya banyak orang yang tidak menempuh jalan yang sudah ditetapkan, dengan menerobos rambu-rambu norma dan etika. Maka seharusnya, seseorang menciptakan ambisi dalam diri untuk menggapai prestasi dengan tetap mematuhi norma dan etika.

Ambisi yang tidak disertai prestasi akan mengakibatkan terjadinya kasus seperti petugas paskibraka yang viral itu. Sebaliknya, ambisi yang disertai prestasi akan membuahkan seperti kisah viral tukang becak dari Jawa Timur itu. Bila berprestasi tanpa ambisi bisa saja tukang becak dari Jawa Timur itu sulit mewujudkan cita-citanya menjadi sarjana.

Ambisi bukan berarti ingin memiliki segalanya. Yang seperti ini namanya serakah. Kasusnya seperti ratu Jang Ok Jung dari kerajaan Joseon itu. Ambisinya ditingkahi sifat serakah dan tidak puas diri.

Pada dasarnya, ambisi itu baik, selama kita bisa mengendalikannya dengan baik pula. Sisi positif ambisi dimiliki oleh orang-orang yang ingin berprestasi dan menghasilkan karya terbaik. Sebaliknya, ambisi bisa menjadi negatif bila tak sebanding dengan potensi yang dimiliki, sehingga akan memaksakan segala cara. Jadi, kita juga harus sadar diri akan potensi yang dimiliki bila punya suatu ambisi.

Akhirnya semua ambisi kita kembalikan dan serahkan kepada Sang Pencipta. Cukup sekedarnya saja untuk ambisi dalam urusan duniawi. Bukankah dunia ini hanya tempat persinggahan semata dan ladang menanam kebaikan? Barangsiapa yang menjadikan ambisinya semata-mata untuk meraih akhirat, maka Allah akan mencukupi kebutuhan dunianya.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *