Oleh Nur Rofiah
Dosen Pascasarjana PTIQ Jakarta, Pengasuh Ngaji KGI

Mengisi Kajian Keislaman di UI tadi malam mengingatkanku pada respon seorang pimpinan UI pada tahun 2004, “Dari mana kampus Anda menyimpulkan bahwa kami memerlukan dosen Agama dari instansinya?” Saat itu kudatang sambil membawa SK berisi pengumuman yang menjelaskan bahwa aku diterima sebagai dosen UIN DPK UI.

Lirik lagu dangdut ini nih, “Manalah taaahuuu?” sungguh mewakili jawabanku. Setahuku ya sekedar ada lowongan jadi PNS dosen DPK, lalu daftar, dan ditempatkan di UI. Kemudian kutemui seorang dosen UIN DPK UI yang memang sudah ada. Ternyata, sedang ada peralihan status UI menjadi BHMN, sehingga akan merekrut dosen agama secara mandiri. Baiklah!

Kadang kita tidak tahu skenario di balik peristiwa pahit. Bayangkan! Ini adalah kali ketiga daftar jadi dosen yang lulus. Pertama, aku mengincar STAIN Pekalongan, gagal! Kedua, mengincar UIN Bandung, gagal lagi! Ketiga, ditolak oleh PT tempat aku mau ditugaskan. Akhirnya, kuberlabuh menjadi Dosen UIN DPK Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an (PTIQ) tercintah hingga kini.

Setiap mengajar S1, aku bertemu dengan mahasiswa yang diwajibkan menghafal al-Qur’an. Selama 17 tahun mengajar, baru 2 semester belakangan ini bertemu dengan kelas mahasiswi S1. Sementara, setiap mengajar S2 dan S3 selalu bertemu dengan mayoritas mahasiswa dan minoritas mahasiswi. Mereka pada umumnya adalah tokoh agama di komunitas masing-masing. Tak jarang mereka juga adalah alumni S1 atau S2 berbagai PT Islam di Timur Tengah.

Sebagai dosen yang juga bergelut di isu KGI (Keadilan Gender Islam), PTIQ sungguh ikut menggemblengku dengan diskusi keislaman kelas berat. Pertanyaan-pertanyaan kritis saat diskusi tentang perspektif keadilan gender Islam pada perempuan, baik dalam pemaknaan atas ayat maupun dalam penggunaan metode tafsir tertentu kerap muncul dan menantangku untuk menemukan jawaban yang bisa dipertanggungjawabkan.

Syukurlah, di forum-forum diskusi lain termasuk Ngaji KGI, aku sering juga melakukan diskusi keislaman dengan teman-teman yang tidak berlatar belakang studi Islam sama sekali. Karenanya, saat diminta mengisi forum kajian keislaman untuk mahasiswa baru UI tadi malam yang mayoritasnya tidak berlatar belakang studi Islam, aku cukup tenang.

Dalam sambutannya, Bapak Dr. KH. Zakky Mubarok, MA, selaku ketua umum Masjid UI yang memimpin Masjid Ukhuwah Islamiyah UI Depok dan Masjid Arief Rahman Hakim UI Salemba, menyampaikan integrasi kajian keislaman di UI melalui 3 media, yaitu mata kuliah Agama Islam, Kajian Keislaman di dua masjid UI, dan Kajian di Makara Art Center. Setelah mengisi kajian keislaman tadi malam, lengkap sudah pengalamanku di 3 media ini.

Kajian keislaman yang dilakukan oleh Masjid UI tadi malam bersifat anjuran bagi semua mahasiswa baru UI 2021. Mereka yang diterima melalui Simak UI saja 4229 orang, belum lagi jalur lainnya. Zoom sepertinya berkapasitas 100 orang. Selebihnya melalui YouTube. Pengajian ini juga terbuka untuk umum, sehingga bisa juga disimak oleh siapa saja, baik alumni UI maupun bukan. Karena live streaming, maka rekamannya bisa terus disimak. Streaming tadi malam diikuti oleh 1223 orang, dan barusan kutengok rekamannya sudah dilihat oleh 7,9 ribu orang dalam 20 jam. Lumayan juga trafiknya.

Dalam kesempatan Kajian Keislaman yang berdurasi 2 jam tadi malam ada empat poin yang kusampaikan, yaitu:

Pertama: Jati Diri Manusia dalam Islam

Intinya manusia punya status melekat sebagai hanya hamba Allah (tauhid) dan amanah melekat sebagai khalifah fil ardh dengan mandat mewujudkan kemaslahatan di muka bumi. Manusia dibekali akal dan hati nurani sehingga mampu memilah yang baik dari yang buruk dan memilih yang baik. Tinggal mau atau tidak memakainya, baik kemauan manusia secara personal, kolektif, maupun sistemik.

Nilai manusia hanya tergantung oleh takwa, yaitu pembuktian komitmen tauhid pada Allah dengan kemaslahatan bagi sesama makhluk-Nya atau iman pada Allah sebagai satu-satunya Tuhan dengan tindakan baik (amal saleh) kepada makhluk-Nya. Iman adalah berkata baik atau diam, berbuat baik pada tetangga, tamu, berbakti pada orangtua, dan lain-lain. Inilah iman yang menggerakkan peradaban.

Kedua: Kemaslahatan Islam

Intinya, kemaslahatan yang dikehendaki dari manusia adalah kemaslahatan secara internal maupun eksternal, baik sebagai individu, keluarga, masyarakat, maupun negara, dan baik secara personal, kolektif, sosial, bahkan sebagai spesies manusia, maupun secara sistemik.

Ketiga: Alam Semesta Seisinya adalah Ayat Allah

Intinya, al-Qur’an adalah salah satu ayat Allah yang dinamai dengan ayat qauliyyah dan disebut sebagai ayat kecil (shughra). Sementara alam semesta raya seisinya dinamai ayat kauniyyah dan disebut sebagai ayat besar (kubra). Al-Qur’an dipahami oleh ulama melahirkan tafsir, lalu berkembang menjadi ilmu agama. Sementara alam semesta raya seisinya diteliti oleh ilmuwan melahirkan teori yang berkembang menjadi ilmu umum.

Jadi, ilmu umum dan ilmu agama sejatinya sama-sama hasil pemahaman manusia terhadap ayat-ayat Allah. Dua-duanya sama-sama penting digunakan dalam merumuskan kemaslahatan bersama. Ilmu umum dengan demikian bisa bernilai spiritual jika jadi media kemaslahatan bersama. Sebaliknya, ilmu agama bisa hilang nilai spiritualnya jika disalahgunakan untuk kemafsadatan, seperti fitnah, propaganda, hoaks, dan legitimasi atas tindakan kekerasan maupun kezaliman lainnya.

Keempat: Islam sebagai Sistem Ajaran dan Proses

Sebagai sistem, ajaran Islam terdiri dari 3 hal, yaitu:
1) Misi atau arah sistem ajaran Islam, yaitu sistem kehidupan yang menjadi anugerah bagi semesta termasuk kelompok lemah (dhuafa) dan kelompok yang rentan dilemahkan (mustadh’afin),
2) Fondasi moral, yaitu prinsip dan nilai dasar kebajikan universal yang muaranya adalah akhlak mulia manusia,
3) Cara, yaitu petunjuk untuk menggerakkan sistem kehidupan riil menuju sistem kehidupan yang menjadi misi Islam.

Petunjuk tekstual jenis 1 dan 2 tidak bisa dinegosiasikan, sedangkan petunjuk jenis 3 kadang tidak hanya bisa bahkan harus dinegosiasikan. Misalnya, saat realitas sosial yang kita hadapi saat ini berbeda, sehingga petunjuk tekstualnya justru bertentangan dengan misi dan fondasi moral sistem ajaran Islam. Misalnya, petunjuk tentang perbudakan manusia dan perang. Negosiasi dilakukan dengan memahaminya secara kontekstual.

Islam sebagai proses berarti Islam dipahami sebagai petunjuk untuk bergerak terus-menerus dari sistem kehidupan yang zalim (jahiliyah) menuju sistem yang Islami. Sistem kehidupan meliputi sistem perkawinan, keluarga, masyarakat, negara, bahkan global. Sistem kehidupan juga meliputi sistem sosial budaya, ekonomi, politik, beragama, dan sendi kehidupan lainnya.
Ciri sistem kehidupan zalim atau jahiliyah adalah menjadi anugerah bagi pihak kuat atau dominan tapi menjadi musibah bagi pihak lemah (dhuafa) atau pihak yang rentan dilemahkan (mustadh’afin) karena dalam sistem ini keduanya mesti tunduk mutlak pada pihak yang kuat atau dominan.

Ciri Sistem Islami adalah pihak kuat dan lemah hanya tunduk mutlak atau melakukan penyerahan total (berislam) pada Allah dengan hanya tunduk mutlak pada kebaikan bersama, karena kekuatan dalam hal apa pun adalah amanah dari Allah untuk memberdayakan, bukan memperdayakan pihak yang lemah. Karenanya dalam sistem Islami mestinya tidak ada pihak yang rentan dilemahkan.

Tentu saja dalam mewujudkan kebaikan bersama mesti mempertimbangkan kondisi khusus pihak lemah (duafa) maupun pihak yang rentan dilemahkan (mustadh’afin) agar kelompok dominan tidak menjadi standar tunggal kebaikan bagi mereka. Orang kaya, dengan demikian, tidak menjadi standar tunggal kemaslahatan bagi orang miskin, orang sehat tidak bagi orang sakit, dewasa tidak bagi anak dan lansia, non difabel tidak bagi difabel, mayoritas tidak bagi minoritas, dan laki tidak bagi perempuan. Masing-masing pihak dipertimbangkan sebagai manusia seutuhnya dengan segala persamaan dan keunikannya. Inilah yang disebut dengan keadilan hakiki.

Kajian keislaman akhirnya kututup dengan mengajak adik-adik mahasiswa baru UI untuk meniatkan kuliah sebagai proses menjadi versi diri yang terbaik. Niat menjadikan ilmu apa pun yang akan diperoleh, profesi apa pun yang kelak ditekuni, jabatan apa pun yang kelak diduduki sebagai media untuk kemaslahatan seluas-luasnya sehingga bisa maksimal menjadi anugerah bagi semesta.

Setelah 17 tahun berlalu sejak 2004 itu, akhirnya tadi malam aku mengajar agama juga di UI. Terima kasih Mas Zastrouw Al-Ngatawi yang sudah menceburkanku.

Berikut link YouTube kajian keislaman tadi malam, barangkali ada yang ingin menyusul menyimak.

Semoga bermanfaat. Amin ya rabbal ‘alamin.

Pamulang, 18 September 2021

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *