Oleh: Eni Ratnawati*)

Rumah Baca – Setelah sebelumnya sukses melakukan sosialisasi pembukuan keuangan usaha di salah satu UMKM di Weru Permai, kali ini tim mahasiswa KKN Program Studi Ekonomi Syariah IAI Cirebon di Desa Weru Kidul kembali dengan program kecenya yaitu investigasi khusus di BUMDes Weru Kidul terkait optimalisasi pengelolaan dana BUMDes.

Kunjungan ini merupakan realisasi salah satu program KKN dalam bidang ekonomi. Tujuan kunjungan ini selain untuk mengetahui program unggulan BUMDes dan pelaksanaannya, juga untuk “mengintip” sistem administrasi dan pembukuan yang ada di BUMDes Weru Kidul.

Warung BUMDes terletak di kompleks pasar burung, berada tepat di (gang) seberang MAN 1 Cirebon. Jika tidak diarahkan dan didampingi langsung oleh Kepala Dusun 4, Bapak Murtado, bisa dipastikan tim KKN akan terkecoh dengan penampakan warung BUMDes yang dimaksud.

Kenapa terkecoh? Sebab dalam persangkaan mahasiswa KKN, warung yang dimaksud adalah toko, ruko, atau bangunan yang memiliki paras tak jauh berbeda dengan koperasi. Namun rupanya warung BUMDes yang dimaksud adalah kios-kios dengan varian barang yang ditawarkan, tidak berbeda dengan kios-kios yang berderet di sepanjang kanan-kiri jalan pasar burung.

Kedatangan kami dipagut riuh sahutan burung-burung. Dan saat kami melintasi para pedagang di pasar burung, tak sedikit mata yang menatap antusias, sementara yang lain terkesan penasaran dengan formalitas yang diaurakan oleh jas oranye yang kami kenakan. Ramai kicau burung di penggalan sepuluh pada siang, Kamis, 25 Maret 2021 itu menjadi latar perbincangan santai mahasiswa KKN dengan Romi, ketua BUMDes Weru Kidul.

Romi menjelaskan, bahwa dalam rentang 3 tahun terakhir ini, BUMDes Weru Kidul berfokus pada tiga program utama. Program-program tersebut sebagian sudah terlaksana, masih terus dikembangkan, dan sebagian yang lain menunggu untuk ditindaklanjuti. Tiga program utama yang dimaksud adalah pembangunan fisik bangunan, jasa dan peternakan.

Pembangunan fisik bangunan dimulai sejak tahun 2017 dan masih berlanjut sampai dengan sekarang. Tercatat lima kios dengan ukuran cukup luas, layak dan kokoh telah berdiri dan juga telah ditempati oleh para pedagang.

Selain kios, terdapat juga dua komplek WC umum, masing-masing terdiri dari 3 dan dua unit dan masih akan ditambah jika memungkinkan, melihat ketersediaan fasilitas umum tersebut masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pengunjung.

“Jumlah pengunjung sangat banyak. Apalagi kalau hari Minggu. Membludak!” tegasnya.

Terkait alasan BUMDes dengan pemilihan program pembangunan fisik bangunan, Romi dengan antusis mengatakan bahwa pasar burung telah menyediakan hampir semua kebutuhan masyarakat. Dari bidang peternakan, hobi, otomotif, fashion, juga kuliner. Kebutuhan masyarakat sudah bukan lagi pada konten, tetapi lebih kepada wadah. Masih banyak warga masyarakat yang berminat untuk menjalankan praktik ekonomi di pasar burung, tetapi kenyataannya kesediaan lapak sangat terbatas.

Selain terbatasnya wadah, alasan lain yang tidak kalah penting adalah unsur safety dari program-program tersebut.

“Kalau kita bangun kios, sudah kelihatan siapa sasarannya. Sudah pasti lakunya. Di situ salah satu unsur safety-nya.” jelas Romi pada tim mahasiswa KKN.

Untuk bidang jasa, realisasi itu berbentuk penyewaan kios BUMDes yang terbuka untuk warga sekitar pasar burung. Romi mengaku lebih suka jika kios-kios itu diisi oleh jenis kebutuhan masyarakat yang variatif. Tidak monoton pada satu jenis barang saja.

“Di sini persaingan sangat ketat. Ya, sebagai salah satu upaya meminimalisir persaingan yang tidak sehat saja.” terangnya.

Di bidang peternakan, saat ini BUMDes Weru Kidul tengah merintis ternakan kambing yang dikelola di tempat terpisah menghindari polusi udara yang menurut Romi berpotensi mengganggu warga sekitar pasar burung.

Pada kesempatan yang sama, Romi juga menyinggung visi BUMDes 2-3 tahun mendatang, yang jika tidak terkendala akan menjadikan lahan kosong di kawasan tersebut menjadi lahan produktif.

“Ke depan, jika budgetnya ada, di sana akan kami bangun mushalla.” tunjuk Romi pada sebuah sudut di hamparan lahan kosong di depan kami. “Nah, yang sisanya ini, sampai ke ujung sana akan dibuat taman hijau. Kami tidak banyak bicara, biar nanti warga yang menilai sendiri.” tambahnya. “Itu pun jikalau Mas Romi masih diberi kepercayaan menjalankan BUMDes ini.” ucapnya sambil tertawa.

Pasar burung atau yang biasa akrab disebut pasar ayam sejatinya adalah aset bernilai tinggi bagi Desa Weru Kidul. Geliat ekonomi masih terlihat marak bahkan di tengah pandemi. Puluhan kios berjajar menawarkan aneka barang dagangan, menarik minat pembeli tidak hanya dari dalam tetapi juga dari luar kota. Romi berharap, adanya BUMDes bisa meningkatkan kesejahteraan warga Weru Kidul, dan pasar burung bisa menjadi icon percontohan bagi masyarakat umum.

“Pasar burung di Weru ini adalah pasar burung dengan pengunjung terbesar mencapai 3000 sampai 6000 jiwa. Ini potensi yang sangat luar biasa. Tapi bagaimana potensi jika tidak ditangani dan dikelola dengan baik? Ya tidak akan jadi apa-apa.” jelas Romi menutup kesimpulannya.

Mengenai administrasi dan sistem pembukuan di BUMDes, Romi menyarankan tim mahasiswa KKN untuk berkoordinasi langsung dengan pihak desa. Pasalnya, menurut pengakuan ketua BUMDes, selama ini pembukuan BUMDes masih bersifat global dan laporan dalam bentuk apa pun hanya diberikan kepada pihak desa.

*) Eni Ratnawati, mahasiswi Program Studi Ekonomi Syariah IAI Cirebon

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *