Orangtua Yang Durhaka Kepada Anak

Oleh Gus Rijal Mumazziq Z, Rektor INAIFAS Kencong Jember

Ketika menjalani Isoman selama dua minggu, dan dalam kondisi duka, ada seorang sahabat fesbuk menelepon. Pertama, dia mengungkapkan belasungkawa dan doa atas kepergian ibu saya. Kedua, dia minta izin curhat. Saya mengiyakan. Saya sudah meminta izin balik agar apa yang dia curhatkan saya tulis di kolom singkat ini. Dia mempersilakan.

Intinya, dalam pandangannya, berbakti kepada kedua orangtuanya sangat berat. Sebab jiwanya bergoncang sejak dia belia. Ibu, yang dalam banyak narasi digambarkan kelembutan dan kasih sayangnya, berbeda dalam kenyataan yang dia jumpai.

Dia menceritakan kekejaman ibunya dengan miris disertai dengan dendam yang tertahan dalam setiap kalimat yang dia sampaikan. Ada trauma yang dialami, luka fisik dan psikis yang dia terima akibat perlakuan orang yang telah melahirkannya, dan hingga saat ini, saat ibundanya sudah wafat, dia masih tetap berproses berdamai dengan masa lalunya. Berusaha memaafkan ibunya, dan mendoakannya. “Dalam mimpi, seringkali kejadian kekerasan yang saya alami di masa lalu berulang kembali. Ini trauma berat. Kalaupun terbangun, biasanya juga disertai dengan sesak nafas dan keringat dingin.” katanya di ujung telepon genggamnya.

Saya hanya mendengar. Tak hendak memberi solusi, sebab dia hanya ingin didengarkan. Ingin berbagi pikiran agar rasa traumanya terkikis. Ingin berdamai dengan masa lalu. Ingin berdampingan dengan sosok ibunya, yang, dalam pandangannya benar-benar brutal dalam melakukan kekerasan fisik dan psikis.

“Kalau bapak, bagaimana sikapnya?” saya menyela.

“Saya hanya tahu namanya, tapi nggak tahu wujudnya. Dia masih hidup atau sudah mati, saya juga nggak peduli. Dia meninggalkan ibu dan saya saat masih balita. Embuhlah, saya sumpek mikir nasib saya waktu kecil hingga remaja.”

Dia melanjutkan dengan cerita penyiksaan yang dia alami. Caci-maki dari ibunya, dan banyak masalah yang membuatnya trauma. Masa lalu kelam yang mengendap di alam bawah sadarnya.

Saya hanya memintanya mendoakan ibunya, yang walaupun berat hati, dia lakukan. Memohon ampunan baginya adalah salah satu cara membuang dendam.

Walaupun tidak sekejam perilaku sadis seorang ibu dalam novel “A Child Called It” karya Dave Pelzer, yang ditulis berdasarkan pengalaman masa lalunya, namun apa yang saya dengar melalui curhatnya ini membuat satu garis besar. Apa itu? Selain ada anak durhaka yang populer dalam berbagai narasi sinetronik, ada juga tipikal orangtua durhaka. Mereka mengabaikan hak anaknya, menyakiti secara fisik dan psikologis, bahkan mendoakan kejelekan bagi buah hatinya. Sebuah fitrah orangtua yang dikhianati oleh perilakunya sendiri.

Dalam “A Child Called It“, gambaran kasih sayang ibu hanya omong kosong. Dave, sejak kecil diperlakukan brutal oleh ibunya. Dia tidak tahu alasannya, mengapa hanya dia yang jadi samsak hidup, sedangkan saudara lainnya tidak. Yang pasti, Dave menerima perlakuan yang sangat tidak manusiawi: dipukuli, dibakar, disetrum, diminta memakan kotoran, dan perbuatan lain. Termasuk dipanggil It, sesuatu, barang, alias panggilan bukan untuk manusia. Ngeri!

Pada akhirnya meminta sahabat saya untuk membeli dan membaca novel berdasar kisah nyata tersebut. Bukan untuk membangkitkan trauma masa lalunya, melainkan untuk melihat cara Dave berdamai dengan masa lalunya, dan “berdampingan” dengan ibunya.

**
Menjadi orangtua memang tidak mudah. Butuh kesabaran dan proses belajar yang lama dan kontinyu. Tidak bisa hanya mendengarkan ceramah ustaz, nasehat dari motivator parenting, atau baca buku-buku How To. Butuh sikap yang elastis berpadu dengan ketegasan. Juga memahami alur pertumbuhan fisik dan psikis buah hati.

Jika dulu orangtua kita mendidik anaknya dengan keras, saklek, kaku, bahkan diiringi dengan cubitan dan pukulan, tentu tidak bisa kita jadikan patokan mendidik anak kita dengan gaya militer. Beda zaman, beda gaya mendidik, juga beda obyek didikan.

“Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian”. Konon, ini adalah nasehat dari Sayidina Ali bin Abi Thalib.

Kerena itu, selain ada anak durhaka, juga ada orangtua durhaka, lebih tepatnya zalim. Ketika tidak bisa menjadi orangtua yang baik bagi anak-anaknya. Ini yang harus diwaspadai. Orangtua yang hanya menuntut penghormatan dari anak, tapi mengabaikan hak-haknya.

Manakala Amirul Mukminin Sayidina Umar bin Khattab mendapatkan laporan dari seorang ayah tentang kedurhakaan putranya, beliau tidak langsung memvonis, melainkan melakukan klarifikasi.

Ketika didapati jika si ayah telah berlaku zalim dan tidak memenuhi hak anaknya: memilihkan ibu yang baik untuknya, memberi nama yang bagus baginya, dan mengajarkan Al-Qur’an, maka Khalifah bergelar al-Faruq itu langsung menukas tegas:

“Engkau mengadu kepadaku tentang kenakalan anakmu, sementara dirimu sendiri telah durhaka kepadanya sebelum dia durhaka kepadamu. Engkau telah memperlakukannya dengan buruk sebelum ia memperlakukan buruk kepadamu!”

Wallahu A’lam Bishshawab

Bagikan tulisan ke:

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

You may also like...

2 Responses

  1. Masyhari says:

    Terima kasih sudah mengutip tulisan dari rumahbaca.id. Salam literasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RumahBaca.id