Oleh Akhmad Bayhaqi*)

RumahBelajar.id – Dalam jagat perkuliahan, makalah sudah tidak asing lagi di telinga mahasiswa. Apalagi yang sudah duduk di semester IV seperti saya, sering sekali mendapat tugas untuk membuat makalah. Hampir setiap mata kuliah ada tugas terstrutur berupa membuat makalah.

Meski begitu, ternyata banyak yang belum mengetahui apa itu makalah? Mengapa mahasiswa ditugaskan untuk membuat makalah?

Kata makalah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki dua pengertian yang berbeda. Pertama, kata makalah berarti tulisan resmi tentang suatu pokok yang dimaksudkan untuk dibacakan di muka umum dalam suatu persidangan dan yang sering disusun untuk diterbitkan. Pengertian kedua, sebuah karya tulis pelajar atau mahasiswa sebagai laporan hasil pelaksanaan tugas sekolah atau perguruan tinggi.

Terkadang sebagian mahasiswa masih ada yang bingung saat membuat makalah. Tetapi jangan khawatir, sebab biasanya dosen memberikan panduan atau teknik penulisan makalah yang baik dan benar, mulai dari tipe font, pengaturan spasi, jumlah kata yang harus disusun dalam makalah hingga ke teknik penulisan kutipan dan referensi.

Di pertemuan pekan ini, sekarang kita masuk dalam inti diskusi membahas tugas mahasiswa kelompok pertama. Ya, makalah dalam konteks perkuliahan adalah tugas terstruktur atau tugas kelompok yang ditugaskan kepada mahasiswa.

Selain itu, dalam mata kuliah Filsafat Hukum Islam ini kami mendapatkan tugas mandiri berupa menulis esai setiap pertemuan, sebagaimana dalam mata kuliah lain yang diampu Bapak Masyhari. Hanya ada sedikit perbedaannya. Bila di semester sebelumnya tugas esai tidak dibatasi jumlah paragrafnya, kali ini esai dibatasi minimal 10 paragraf. Bagi sebagain mahasiswa, ini bisa jadi ujian yang cukup berat dan menyita keringat.

Dari setiap tugas yang diberikan itu baik kelompok maupun mandiri memiliki poin penilaian yang berbeda. Satu hal penting yang harus diperhatikan oleh mahasiswa, dalam mengerjakan tugas bukan hanya mengedepankan nilai besar. Ini bukan berarti kita abai terhadap nilai. Akan tetapi, mengasah dan melatih intelektual dengan cara menulis makalah ataupun esai harus punya titik balik yang lebih dari sekedar nilai.

Mengapa mahasiswa ditugaskan menulis esai dalam setiap pertemuan?Tentu saja, kita sebagai mahasiswa tidak dipungkiri, pasti punya harapan untuk mendapatkan nilai yang memuaskan ketika mengerjakannya. Akan tetapi, saya berasumsi lain. Bukan hanya itu yang diharapkan dosen ketika memberikan tugas berupa menulis esai di setiap pertemuannya.

Saya melihat, ada korelasi antara mahasiswa dan kegiatan tulis-menulis. Apalagi kita sebagai mahasiswa yang bertindak sebagai agent of change. Tugas penulisan esai adalah bentuk tindakan preventif agar mahasiswa tidak malas menulis, menghindari plagiarisme dan mengasah kemampuan tulis-menulis, belajar meneliti dan bentuk pengejawantahan potensi intelektual, sebagaimana yang tertera dalam tri dharma perguruan tinggi.

Saya ingat kutipan yang terdapat di dalam novel Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer yang kurang lebih: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Artinya, setinggi apa pun kepandaian seseorang, jika tidak menulis ia akan hilang dalam sejarah dan masyarakat.

Dari tugas penulisan esai yang diberikan dosen dan kutipan yang ada di dalam cerita Rumah Kaca ada koherensi yang sesuai kebutuhan mahasiswa, yakni semangat menulis. Mudah-mudahan dengan adanya tugas penulisan esai, mahasiswa akhirnya tidak henti-hentinya menulis, menulis apa pun: cerpen, artikel, jurnal novel, dan tulisan lainnya.[]

*) Mahasiswa Jurusan Hukum Ekonomi Syariah FSEI IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *