Oleh Ari Yoseva*)

RumahBaca.id – Hingga kini, pendemi Covid-19 masih bertahan di negeri kita tercinta. Virus yang semula merebak di kota Wuhan, yang kemudian meluas ke seluruh penjuru dunia, memang sangat meresahkan. Meski begitu, kota Wuhan sendiri tampaknya sudah memulai kehidupan secara normal, seperti sebelum pandemi.

Virus tidak juga berkesudahan. Masyarakat semakin resah dan dibuatnya kalang kabut. Bukan karena virus dan penyebarannya, melainkan karena dampak yang ditimbulkannya, mulai dari bidang sosial, ekonomi, hingga pendidikan. Padahal ketiga aspek tersebut merupakan hal yang sangat vital bagi kehidupan manusia.

Nama baik bangsa Indonesia dipertaruhkan. Bangsa yang besar dan maju diukur dari tingkat kecerdasan serta kemakmuran rakyatnya. Namun, jika aspek vital kehidupan bangsa diserang sedemikian pesat, masa depan bangsa pun jadi taruhannya. Sebab, disadari atau tidak, realita kehidupan di negara kita sudah sangat mengenaskan bahkan sebelum pandemi menyerang, lebih-lebih sekarang.

Gilanya, ternyata masih ada saja oknum yang justru memanfaatkan situasi semacam ini hanya untuk mengenyangkan perutnya sendiri. Mereka tega dan sengaja berlaku curang. Mulai dari kasus korupsi bantuan sosial, hingga oknum rumah sakit yang memalsukan surat keterangan positif covid-19 hanya untuk meraup keuntungan materil. Kejam sekali! Bikin kita geleng-geleng kepala. Bantuan sosial kok ya tega-teganya dikorupsi! Aduh Gusti!

Terkait ini, penulis dapat info. Ada satu kasus di sebuah rumah sakit di Cirebon. Rumah sakit tersebut menerapkan isolasi mandiri bagi semua pasien sebelum perawatan di rumah sakit. Info tersebut penulis peroleh dari seorang warga desa Setu Kulon Kab. Cirebon. Kakaknya pekan lalu terkena serangan jantung dan harus dibawa ke rumah sakit.

Penanganan pasien seperti ini semestinya disegerakan, tidak bisa ditunda-tunda lagi. Namun pihak rumah sakit mengharuskan pihak keluarga menandatangani surat pernyataan isolasi mandiri bagi pasien. Kakaknya harus melakukan isolasi mandiri. Ia belum mendapatkan perawatan ataupun pengobatan apa pun. Begitu prosedurnya, kata pihak RS. Akibatnya, nyawa kakaknya tidak bisa diselamatkan. Ia meninggal dalam masa isolasi.

Seorang pasien yang harusnya segera dirawat, ternyata malah disuruh mengurus diri sendiri selama seminggu. Sementara kesehatannya sedang terganggu dan nyawanya terancam, ia dibiarkan begitu saja tanpa penanganan dan perawatan. Sialnya, pihak keluarga masih harus membayar biaya rawat inap selama masa isolasi!

Itu hanya sekelumit kisah pedih, kelam dan menyeramkan di balik pandemi berkepanjangan. Yang lebih menyedihkan lagi, pendidikan (formal) dipaksa tutup, tidak boleh melaksanakan pembelajaran tatap muka. Semua pembelajaran harus dilakukan secara daring.

Memang penulis akui, belajar dan pembelajaran bisa dilakukan di mana saja, kapan saja dan oleh siapa saja. Akan tetapi, masyarakat kita sudah terlanjur sangat bergantung pada sekolah. Kebanyakan mereka punya asumsi bahwa pendidikan “terbaik” adalah di sekolah. Tutupnya sekolah-sekolah berimbas bagi banyak pihak, mulai dari guru, tenaga kependidikan, hingga peserta didik dan walinya. Betapa banyak guru dan pegawai honorer yang menggantungkan hidupnya dari sekolah! Mereka digaji berdasarkan jam kerjanya. Ketika mereka dirumahkan, tentu sangat berimbas pada kehidupan ekonominya.

Begitu juga para siswa yang sudah punya persepsi bahwa rumah adalah tempat berkumpul dan bersenang-senang dengan keluarga, sementara tempat belajar adalah di sekolah. Alhasil, ketika mereka disuruh belajar di rumah, mereka cenderung menolak. Belajar di rumah dianggap tidak semestinya, tidak pada tempatnya.

Memang, ini semua salah kaprah. Namun, inilah yang terjadi dan berlangsung lama, hingga mendarah daging. Mengubah persepsi semacam ini tentunya tidak mudah dan butuh waktu yang tidak sebentar. Entah berapa lama?! Banyak orang yang sulit move on. Banyak pihak merasa kesulitan mengatasi situasi sulit semacam ini. Butuh kesabaran ekstra untuk bisa bertahan di tengah terjangan gelombang besar semacam ini.

Pekan lalu, penulis menghadiri rapat Ikatan Guru TK se-Indonesia Cabang Cirebon. Topik pembahasan utama pun masih berkutat pada “kapan sekolah bisa dibuka kembali?” Pembahasan ini sangat menyedihkan bagi kami, para guru TK yang terbiasa melihat senyum anak-anak di setiap pagi.

Beredar sebuah kabar, prediksi berakhirnya pandemi Covid-19 di Indonesia berkisar 7-10 tahun lagi. Selama itukah anak-anak, para pelajar harus menunggu untuk bisa belajar kembali di sekolah? Jika benar, apa yang harus dilakukan anak-anak selama masa menunggu tersebut? Haruskah nasib pendidikan mereka dikorbankan?

Semoga kita bisa bergandengan erat menghadapi ini semua. Kita tepiskan dulu perbedaan dan keberagaman. Masyarakat Indonesia adalah satu. Bernaung pada satu Pancasila. Kita lakukan yang terbaik untuk negeri ini. Jadilah manusia yang berempati terhadap sesama. Tempatkan diri kita pada posisi orang lain, sebelum kita dengan kejam menghakiminya. Karena kita tidak pernah tahu, kejadian menyakitkan apa yang dialami seseorang dalam hidupnya.

Masa depan negeri ini berada di telapak tangan kita, menanti untuk ditempatkan pada kedudukan tertinggi. Be the best for yourself, and for the people around you!

Cangkring, 16 Februari 2021

*) Ari Yoseva, pegiat literasi di Unit Kegiatan Mahasiswa Sahabat Literasi IAI Cirebon

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *