Oleh Syaukah, S.Pd.I, Guru Madrasah Ibtidaiyah Negeri 9 Jakarta Selatan

Rumah Baca – Tidak disangka-sangka virus corona begitu lama mewabah di muka bumi ini. Satu tahun lebih virus ini bercokol bak monster yang siap menyerang siapa saja yang ditemuinya. Monster mini berukuran 0,12 mikro ini menyebar dan menular di antara umat manusia. Hanya dalam kurun waktu beberapa bulan saja virus ini sudah menyebar ke banyak orang.

Menghadapinya, pemerintah memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Selama pemberlakuan PSBB, masyarakat dibatasi untuk keluar rumah dan semua sarana publik, seperti mall, pasar, tempat ibadah, sekolah dan apa saja yang berpotensi besar dapat menyebabkan kerumunan massa dilarang untuk beroperasi alias ditutup. Hal ini diupayakan pemerintah untuk menekan penyebaran virus corona agar tidak menjangkiti lebih banyak orang lagi.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang memerlukan adanya interaksi antara pendidik dan peserta didik pun harus mengikuti aturan PSBB dengan cara melakukan pembelajaran daring atau online sejak tanggal 16 Maret 2020 sampai saat ini. Sampai kapan pembelajaran online ini diberlakukan? Kemungkinan besar, bila negeri ini sudah dinyatakan aman dari wabah virus corona.

Pada awalnya, pelaksanaan pembelajaran online hanya sebatas penugasan-penugasan kepada peserta didik, karena prediksi awal, pemberlakuannya hanya sementara saja. Paling, wabah virus akan cepat berlalu dan pembelajaran akan kembali normal seperti biasa dengan tatap muka, namun situasi dan kondisi yang ditunggu-tunggu tidak kunjung tiba.

Pada awal-awal pemberlakuan belajaran daring (online), proses pembelajaran dilakukan melalui media grup WhatsApp. Aplikasi WhatsApp dianggap sebagai aplikasi yang sangat mudah digunakan oleh setiap orang mulai dari anak-anak hingga usia lanjut. Pendidik memberikan penugasan melalui media grup WhatsApp kepada peserta didik untuk membaca materi pada buku cetak atau buku digital pada halaman tertentu, selanjutnya sebagai penguatan peserta didik ditugaskan untuk menyelesaikan soal latihan yang ada pada buku paket atau cetak. Kejenuhan pun terjadi, tidak hanya oleh peserta didik, para pendidik pun jenuh. Pembelajaran terkesan monoton dan tidak variatif. Hal ini disebabkan karena guru belum banyak yang menguasai berbagai platform pembelajaran online dan guru masih gaptek alias gagap teknologi. Padahal dalam pembelajaran daring ini, pendidik, peserta didik dan orang tua pasti akan terlibat langsung dengan teknologi digital. Dengan demikian berarti guru sebagai sumber belajar dituntut melek digital. Begitu pun orang tua, selaku pendamping harus bisa menyesuaikan sehingga proses belajar mengajar jarak jauh dapat terlaksana dengan baik.

Kondisi saat ini memaksa sebagian besar orang maupun lembaga bahkan semua pendidik untuk berinteraksi dengan teknologi. Sebagai pendidik yang bertanggung jawab atas profesinya, mau tidak mau, suka maupun tidak suka harus punya semangat untuk berinovasi dalam mengembangkan pembelajaran daring ini. Berbagai cara ditempuh para pendidik untuk membekali diri dengan cara menguasai berbagai platform yang didapat secara mandiri maupun melalui pelatihan webinar dengan para pakar pendidikan maupun pakar teknologi digital.

Sejalan dengan pengembangan diri yang dilakukan para pendidik, pembelajaran daring pun tidak lagi monoton melalui media WhatsApp, akan tetapi bisa memanfaatkan platform lain semisal Google Meet, Zoom cloud meeting, Microsoft teams, dan aplikasi belajar online lainnya. Pemanfaatan teknologi digital saat ini tidak hanya dalam dunia pendidikan, namun banyak dimanfaatkan orang pada instansi maupun personal. Salah satu contoh masyarakat menggunakan platform meeting tersebut untuk acara tahlilan, doa bersama dan lain sebagainya. Dengan demikian jarak jauh tidak menjadi kendala untuk bersilaturrahmi. Dalam dunia pendidikan, Google Meet, Zoom, dan Microsoft Teams yang digunakan pendidik dan peserta didik untuk pembelajaran secara virtual, selain sebagai pengganti pembelajaran tatap muka juga dapat digunakan oleh oleh pendidik dalam membangun kedekatan emosional antara dia dengan peserta didik dan orang tuanya, serta antara peserta didik dengan teman-temannya.

Selain kemampuan memanfaatkan platform yang variatif, seprang pendidik juga harus mampu membuat bahan ajar yang menarik bagi peserta didik, contohnnya melalui Power Point, Sway Microsoft 365, dan penyajian bahan ajar melalui video dengan aplikasi Kinemaster, Camtasia, atau yang lainnya. Begitu pun dalam hal penyajian soal-soal latihan agar tidak menjenuhkan peserta didik, pendidik dapat menggunakan aplikasi Quizizz, yang disajikan dalam bentuk games, sehingga dalam menyelesaikan soal soal latihan, peserta didik merasakan hal yang berbeda, ada keseruaan dan sensasi tertentu, karena dikemas dalam bentuk games yang disertai dengan musik dan emoticon. Sehingga peserta didik tidak merasa bosan.

Perkembangan teknologi di abad 21 mewajibkan para pendidik untuk berinovasi guna menyelenggarakan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Teknologi merupakan salah satu alternatif untuk membantu pendidik dan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran. Pembatasan gerak saat pandemi bukan berarti pembatasan untuk berinovasi. Alhasil, pandemi ini ternyata membawa hikmah bagi dunia pendidikan khususnya dan masyarakat pada umumnya dalam rangka percepatan adaptasi dengan perkembangan tekhnologi dan tuntutan zaman.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *