Pembelajaran Daring di Masa Pandemi, Efektifkah?

Oleh: Siti Qowiyah Jamil Qomala*)

RumahBaca.id – Pandemi yang tengah terjadi di seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia, tentunya memiliki dampak bagi kehidupan umat manusia. Selain memakan korban jiwa, pandemi Covid-19 juga mempengaruhi gaya hidup dan aktivitas masyarakat di berbagai bidang, mulai dari bidang ekonomi, agama, politik, sosial, hingga pendidikan. Dalam tulisan ini, penulis lebih fokus pada dampak di bidang ekonomi dan pendidikan.

Dalam bidang ekonomi, banyak pabrik atau perusahaan yang gulung tikar. Akibatnya, banyak pekerja yang di-PHK. Namun tak jarang pula usaha yang mampu bertahan, khususnya usaha kreatif yang memanfaatkan jaringan internet atau lebih dikenal dengan online shop. Di tengah pandemi, perdagangan berbasis online atau daring malah semakin menjamur.

Pendidikan merupakan bidang terpenting untuk mewujudkan sumber daya insani terdidik dan berkualitas. Di masa pandemi saat ini banyak kendala yang dihadapi, mulai dari sistem pembelajaran hingga bahan ajar, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Sejak diterbitkannya Surat Edaran Mendikbud RI Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19, pembelajaran dilakukan secara daring sebagai upaya pencegahan menularnya virus Covid-19.

Pembelajaran daring tentunya menjadi hal baru bagi kebanyakan pelajar maupun pengajar. Ini juga menjadi jalan alternatif yang ditempuh agar pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Dalam hal ini perlu adanya kerjasama antara pelajar, pengajar serta orang tua wali guna memperlancar kegiatan belajar mengajar secara daring.

Tidak hanya itu, metode yang digunakan dalam pembelajaran secara daring pun harus benar-benar dipersiapkan. Banyak aplikasi yang disediakan untuk menunjang kegiatan pembelajaran secara daring, di antaranya yaitu Zoom, Google Meet, Google Calassroom, WhatsApp Group, Telegram, Youtube dan masih banyak lagi. Aplikasi penunjang ini diharapkan dapat mempermudah komunikasi antara siswa/orang tua siswa dengan guru, antara mahasiswa dengan dosen.

Akan tetapi, ada saja pertanyaan-pertanyaan yang selalu terngiang-ngiang di kepala kita, seperti: Adakah pembelajaran secara daring dapat berjalan secara efektif? Apakah materi yang disampaikan oleh dosen atau rekan mahasiswa dapat dipahami?

Dari sisi efektifitas dan efisiensi, pembelajaran secara daring dapat menggunakan salah satu atau menggabungkan antara aplikasi yang ada. Penulis sendiri lebih memilih WhatsApp dan Google Meet. Mengapa WhatsApp? Karena aplikasi ini, selain fiturnya yang mudah dipahami dan digunakan, penggunaan kuota datanya pun lebih hemat. Jadi siapa saja dapat dengan mudah menggunakannya tanpa khawatir kehabisan kuota data internetnya. WhatsApp group juga lebih efektif dipakai dalam sesi diskusi materi perkuliahan dibandingkan Google Classroom.

Lalu bagaimana dengan Google Meet? Aplikasi ini berguna untuk melakukan video conference. Keunggulannya dibandingkan Zoom atau semacamnya, sebatas pengalaman dan sepengetahuan penulis, Google Meet tidak menyedot kuota data sebanyak yang dihabiskan Zoom. Selain itu, tidak terlalu banyak gangguan koneksi jaringan internet saat menggunakan Google Meet.

Lalu apakah tidak membosankan? Rasa bosan pasti ada, namun apabila menggunakan teknik yang tepat, diskusi akan terasa menyenangkan. Seperti apa diskusi yang tepat itu? Diskusi yang tepat itu yakni diskusi yang tidak monoton, serius tapi santai, tidak melulu membahas kasus yang sedang didiskusikan, namun setidaknya perlu adanya ice breaking dan sedikit asupan motivasi. Dengan begitu, bukan hanya ilmu perkuliahan saja yang mahasiswa dapat, namun juga pengalaman dan semangat belajar juga.

Terkait dengan bahan ajar, dalam memberikan atau menjelaskan suatu materi, ada baiknya dosen sesekali melalui voice note, agar materi yang disampaikan dapat lebih pahami. Walaupun media pembelajaran didominasi menggunakan media WhatsApp Group, sesekali juga perlu diselingi dengan penggunaan Google Meet. Tujuannya yaitu untuk mengevaluasi pemahaman siswa terkait materi kuliah yang diajarkan atau diskusikan.

Efektifitas dalam pembelajaran daring sebenarnya kembali pada subjektifitas masing-masing individu. Namun dalam hal ini, keseriusan dalam belajar sangatlah diperlukan, sebagaimana saat belajar dengan tatap muka.

Bukan hanya itu, dalam pembelajaran secara daring, konsentrasi mahasiswa sangat penting. Mengapa begitu? Dalam pembelajaran daring, menurut hemat penulis dibutuhkan konsentrasi dua kali lipat lebih banyak daripada saat tatap muka. Kita tahu, pembelajaran secara daring mengharuskan kita memegang smartphone setiap waktu, sementara banyak godaan untuk membuka aplikasi lain seperti halnya media sosial. Oleh karena itu, mahasiswa dituntut untuk lebih fokus dan konsentrasi yang lebih.

Pembelajaran daring tentunya memiliki dampak negatif dan positif. Dampak negatif yang ditimbulkan pembelajaran daring di antaranya yaitu kurangnya bersosialisasi secara langsung dengan lingkungan sekitar, seperti teman, sahabat, tetangga, saudara, dan lain sebagainya.

Seringnya menggunakan gadget membuat orang malas untuk melakukan aktivitas. Pemahaman dan penyerapan materi pun kurang maksimal dibandingkan dengan pembelajaran secara tatap muka.

Dampak positif yang didapat dalam pembelajaran secara daring di rumah antara lain yaitu mahasiswa memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga, memiliki banyak waktu untuk belajar, mengurangi tingkat kegagapan terhadap teknologi (gaptek), dunia digital berkembang secara pesat, dan masih banyak lagi hal-hal positif lainnya.

*) Penulis adalah mahasiswi Jurusan Hukum Ekonomi Syariah FSEI IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Bagikan tulisan ke:

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RumahBaca.id